Lukman Saefuddin, Bertemu Roh Jamaah
5 May 2009 | Kategori: Pengalaman Umroh dan Haji
Setiap jamaah haji selalu membawa cerita unik dari Tanah Suci, tidak terkecuali Lukman Saefuddin, anggota Komisi VI DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia mengaku bertemu dengan roh seorang jamaah yang ternyata sudah almarhum di Masjidil Haram .
Ketika itu tahun 1991, Lukman mendapat tugas dari pemerintah sebagai Tim Pembimbing Ibadah Haji (TPIH) atau pemandu haji Indonesia. ”Saya bertugas di sektor. Jadi ketika itu saya datang sebelum jamaah haji lain tiba di Tanah Suci, dan saya pulang ketika seluruh jamaah haji sampai di Tanah Air,”katanya. Membimbing jamaah yang tersesat untuk kembali ke pemondokan. Itulah salah satu tugasnya selama di Tanah Suci.
Suatu kali, kata alumni Pondok Modern Gontor Jawa Timur ini, ia bertemu seorang ibu tua dari Majeneh , Sulawesi Selatan, yang diperkirakan usianya di atas 60 tahun. Karena tidak bisa berbahasa Indonesia, keduanya berbicara menggunakan bahasa isyarat, alias bahasa Tarzan. Kendati hanya dengan bahasa isyarat, setelah beberapa lama berkomunikasi, akhirnya Lukman Saefuddin bisa memahami apa yang dibicarakan oleh perempuan itu.
Dan dari gelang yang dipakai jamaah tersebut, Lukman mengetahui tempat pemondokannya, yakni di daerah Halagah Gadim yang merupakan kawasan perbukitan. Menurut Lukman, kawasan itu tidak jauh dari Masjidil Haram, tetapi untuk sampai ke tempat tersebut, jalannya menanjak. ”Rupanya si ibu tua itu sudah cukup lama tersesat, sehingga sangat kehausan dan kelaparan.
Badannya sudah sangat lemah. Melihat kondisi seperti itu saya tidak tega, lalu saya berusaha memapahnya. Tetapi, ketika menaiki bukit tiba-tiba dia jatuh,”kenangnya. Ketika Lukman meraba nadi perempuan tua tadi, terasa sudah tidak ada lagi denyutan. Ia menduga si ibu tua sudah meninggal pada saat terjatuh. Kemudian tubuh tidak berdaya tersebut dibopong dan dibawa ke dokter kloter rombongannya.
Setelah menyerahkan kepada petugas di tempat itu, Lukman langsung meninggalkan tanpa mengetahui lebih banyak nasib orang yang ditolongnya, apakah sudah benar-benar meninggal atau hanya pingsan saja. ”Ketika selesai shalat Maghrib di Masjidil Haram, pada saat hendak keluar, saya berpapasan dengan ibu tua itu. Ia mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang saya berikan. Walaupun saya nggak tahu bahasanya, tapi saya tahu maksudnya. Saya pun membalas dengan ucapan yang sama,” kisah Lukman.
Dua hari setelah peristiwa tersebut, karena ada suatu keperluan, Lukman berkunjung ke pemondokan tempat si ibu tua itu tinggal, ” Sampai di pemondokan tersebut, saya baru tahu bahwa perempuan yang saya tolong sehari sebelumnya, ketika saya serahkan ke tim dokter sebenarnya sudah meninggal. Hari berikutnya, setelah dzuhur langsung dibawa ke Ma’la (pemakaman umum, red).
Peristiwa itu membuat saya berpikir dan bertanya-tanya, ya Allah, siapa yang saya temui setelah Maghrib di pintu Masjidil Haram itu?” Pengalaman tadi membuat Lukman sadar, ternyata ibadah haji itu adalah bentuk ibadah yang acapkali sulit dicerna oleh akal manusia, dan juga sangat sulit untuk dikaitkan dengan ukuran-ukuran yang sifatnya rasional. ”Seluruh prosesi haji pada dasarnya mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS, dan kadang tidak masuk akal,”papar Lukman.
Orang berebut mencium Hajar Aswad misalnya, menurut Lukman, perbuatan itu benar-benar tidak masuk akal.”Setiap sore hari setelah shalat di Masjidil Haram, saya selalu menyaksikan orang-orang berebut untuk bisa mencium Hajar Aswad. Menurut saya, prilaku itu nggak masuk akal. Apalagi untuk bisa menciumnya, kadang mereka bersedia mempertaruhkan nyawa.
” Pada saat pikiran Lukman dipenuhi oleh pendapat dan perasaan seperti itu, ketika menyaksikan ratusan ribu jamaah haji berebut mencium Hajar Aswad pada hari hari ketujuh, mendadak muncul dorongan dalam dirinya untuk melakukan hal yang sama. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia harus melakukan hal yang sama dengan mereka. ”Rasanya saya kepingin betul mencium Hajar Aswad. Akhirnya saya mengikuti arus orang thawaf, berdesak-desakan dan dengan segala daya upaya akhirnya saya berhasil menciumnya,”kata Lukman.
Setelah berhasil mencium Hajar Aswad, Lukman mengaku sangat puas dan ada perasaan bangga dan nikmat luar biasa. Perasaan itu akhirnya menyadarkan Lukman, anggapan bahwa mencium Hajar Aswad itu tidak ada artinya ternyata salah besar. Mencium Hajar Aswad, katanya ternyata sangat berarti bagi dirinya dan barangkali juga bagi ratusan ribu jamaah haji lainnya. ”Saya sadar, ternyata ibadah haji secara keseluruhan merupakan pengalaman batin. Dan kepuasan batin seperti itu susah untuk diukur karena sifatnya sangat personal,”katanya menutup pembicaraan. Damanhuri Zuhri /dokrep/Januari 2004

Komentar