Mira Amiria Arismunandar: Jalan Mundur Meninggalkan Ka’bah
6 May 2009 | Kategori: Pengalaman Umroh dan Haji
Menyaksikan Ka’bah dari dekat untuk pertamakalinya, menimbulkan perasaan bahagia yang sulit terkatakan oleh Mira Amiria Arismunandar. Istri Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault ini bahkan sempat merasa tidak percaya sedang berada di Masjidil Haram. ”Bahagia dan penuh syukur saat pertama melihat Ka’bah dari dekat. Subhanallah, Saya merasa itu seperti mimpi. Ini apa benar atau tidak saya berada di Masjidil Haram, bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ungkap Mira pada peristwa 15 tahun yang lalu itu.
Setelah yakin bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, Mira pun tak menyia-nyiakan waktu untuk memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Karena saat Wukuf masih lama, Mira pun menggunakan waktunya berlama-lama di masjid. Ia sering menyendiri di lantai atas masjid, sambil shalat, sesekali ia memandangi Ka’bah. ”Waktu itu rasanya benar-benar puas,” ujar Mira.
Mira diberangkatkan haji oleh ibunya, almarhumah Maryana Dharmobroto pada musim haji 1993. Begitu selesai wisuda di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, sang ibu menawarkannya untuk berangkat ke Tanah Suci. Saat itu, usianya baru 24 tahun dan belum menikah.
”Setelah diwisuda, ibu saya menawarkan untuk pergi haji. Kelihatannya bukan sebagai hadiah, karena saya sudah diwisud. Tapi mungkin karena sudah selesai tugas dan sebagai orang tua mumpung masih bisa membiayai,” kenangnya.
Mira pun tak memiliki bayangan sedikit pun tentang Tanah Suci. Ia lantas memutuskan, apa salahnya pergi haji walaupun belum tahu kondisi di sana. Akhirnya, ia bersama ibu, tante dan seorang sepupunya berangkan haji dengan menggunakan ONH biasa. Saat tiba di Makkah, pemondokannya cukup jauh dari Masjidil Haram dan kondisinya kurang bagus. Ia pun kaget menyaksikan kondisi itu. ”Lokasi penginapan di zaman itu seperti rumah susun, model apartemen. Pokoknya kondisinya tidak begitu baik. Mulai dari pakaian kita mencucui sendiri, beli makanan matang karena tidak bisa memasak, jadi setiap mau makan kita beli,” ujarnya.
Namun hal itu tidak mempengaruhinya dalam menjalankan ibadah, seperti shalat di Masjidil Haram. Selain merasa betah selalu berada di Masjidilharam, Mira pun mengakui, saat itu dirinya merasa begitu dekat dengan Sang Khalik. ”Saya merasa begitu dekat dengan Allah, walaupun saya tahu Ka’bah adalah napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim AS untuk membangun Baitullah. Saat itu saya merasa saya berada di tempat yang paling dekat dengan Allah,” ujarnya.
Kenangan tentang Ka’bah dan Masjidil Haram meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi ibu dari Umar Adiputra (11) dan Fakhira Maryam (8) ini. Sampai-sampai, ketika akan meninggalkan Ka’bah dengan melakukan Thawaf Wada’ (perpisahan), dengan berat hati ia melangkahkan kakinya meninggalkan pelataran masjid. ”Saya sampai jalan mundur, rasanya ingin terus berada di sini. Hati saya begitu berat untuk meninggalkan Ka’bah,” kenang Mira penuh haru.
Saat menunaikan ibadah haji itu, putra satu-satunya pasangan Artono Arismunandar dan Maryanah Dharmobroto (almarhumah) ini pun memiliki pengalaman berkesan bersama jamaah haji lanjut usia (lansia). Menurutnya, selama wukuf di padang Arafah, dan saat di Mina, ia mengakui kondisinya serba minim. ”Saya pikir, dalam hati berat juga melaksakannya. Tapi semangat saya timbul ketika melihat begitu banyak orang yang sudah tua-tua,” ujarnya.
Melihat banyaknya jamaah yang sudah tua, ia merasa itu adalah kesempatan untuk menghibur, dan membantu mereka. Ia pun merasa, kehadirannya menjadi sangat dibutuhkan. ”Saya dan sepupu kebetulan dokter. Kita berdua sering menengok nenek-nenek yang sakit. Jadi, keadaan waktu itu sangat berkesan,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 28 Maret 1968 itu.
Ia sendiri mengaku tak mengerti mengapa tiba-tiba dirinya begitu peduli dengan membantu jamaah haji lansia. Pada saat itu, entah mengapa nalurinya lebih tersentuh melihat orang sakit, ataupun nenek-nenek yang fisiknya sudah lemah. ”Saya senang dan selalu menengok mereka. Kebanyakan orang tua biasanya tiba-tiba jatuh pingsan, mungkin kelelahan,” ungkap Mira.
Di kelompok terbang (kloter) dimana ia bergabung, Mira dikenal sebagai dokter, walaupun sesungguhnya ia adalah dokter gigi. Tapi itu tak menghalanginya untuk membantu jamaah lain, terutama yang lansia. Menurutnya, tak ada jamaah lansia yang berobat gigi. Namun para jamaah lansia itu, senang jika ada yang menghibur dan menegoknya.dam/dokrep/nopember 2008

Komentar