Abdul Azis Qahhar Muzakkar: Terpaku Daya Pikat Ka’bah

7 May 2009 | Kategori: Pengalaman Haji

Ada banyak tempat di tanah haram yang memberikan kenangan berbeda-beda bagi tiap jamaah sepulang mereka menjalani ibadah haji. Bagi Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sulawesi Selatan, tempat yang paling berkesan baginya adalah Ka’bah.

Saat pertamakali menginjakkan kakinya di Makkah, di musim haji 1996 lalu, Aziz merasakan suatu perasaan yang sangat istimewa. Perasaan yang sarat dengan nuansa spritital tersebut mulai menyeruak ke bathinnya ketika berada di depan Masjidil Haram. Begitu kakinya melangkah lebih ke dalam lagi, dan menyaksikan sebuah bagunan berbentuk kubus yang dibungkus kain hitam berdiri tegak di depan matanya, keharuan tak kuasa dibendungnya.

Sejenak, Aziz terpekur dalam do’anya saat pertamakali melihat Ka’bah. ”Betul-betul suatu perasaaan yang sangat istimewa. Tiba-tiba saja rasanya Allah berada begitu dekat, padahal Ka’bah itu kan hanya batu biasa saja, tapi daya pikatnya sungguh luar biasa,” kenang Azis pada peristiwa 12 tahun silam itu.

Daya pikat bangunan yang disimbolkan sebagai kiblat umat Muslim sedunia itu pulalah yang membuat Aziz tak mau melewatkan shalat lima waktu dan shalat sunat lainnya jika tidak di depan Ka’bah. Lelaki kelahiran Palopo, 15 Desember 1964 ini selalu berusaha mencari posisi bisa melihat Ka’bah setiap kali ia ingin shalat. ”Rasanya tidak enak kalau shalat tidak melihat Ka’bah,” ujarnya.

Saat menunaikan ibadah haji, Aziz berangkat sebagai pembimbing haji bersama rombongan jamaah dari Pondok Pesantren Hidayatullah, Balikpapan. Karena itu, selain untuk menjalankan ibadah haji, ia juga berusaha berbagi pengetahuan dengan sesama rombongannya yang berjumlah sekitar 40 orang.

Sebagai petugas pembimbing haji, Aziz mengaku harus melipatgandakan kesabaran dalam memandu dan membimbing jamaah. Diantaranya harus bersabar menghadapi celotehan para jamaah jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Selain itu, tugas tambahan lainnya adalah ketika ada rombongan jamaahnya yang terpisah dari rombongan. ”Ada yang hilang 12 jam sampai satu hari. Tugas kita harus mencari mereka dan Alhamdulillah semuanya bisa ketemu kembali,” ujarnya.

Kepergian Ketua Lajnah Tanfidziyah KPPSI ke Makkah juga menyisakan kenangan tentang Hajar Aswad. Saat tiba di Makkah, Aziz sudah terobsesi untuk mencium batu tersebut. Menurutnya, beberapa kali tawaf di sekitar Ka’bah, ia pun berulang kali mencoba mendekat untuk mencium Hajar Awad. Namun usahanya tersebut belum berhasil.

Tapi niat yang menggebu tak membuat mantan Ketua HMI Makassar ini menyerah. Suatu ketika, cerita Aziz, ia tawaf dan bertemu dengan seorang berkebangsaan Amerika. Muslim dari negeri Paman Sam itu kemudian membagi kiatnya untuk menembus lautan manusia di sekitar Hajar Aswad itu.

Menurut Aziz, Muslim Amerika itu mengajarkannya agar ia berjalan dan merapat saja ke Ka’bah.”Saya mencoba sarannya, dengan menyusuri pinggiran Ka’bah, akhirnya saya betul-betul tiba di depan Hajar Aswad. Ternyata gampang sekali,” ujarnya.

Setelah 12 tahun lalu melaksanakan ibadah haji, keinginan Aziz untuk kembali ke Tanah Suci terus menggebu. Ia pun merencanakan, tahun depan bisa kembali ke Makkah bersama keluarganya. Kepergiannya melaksanakan ibadah Umrah pada 2007 lalu, membuatnya bisa membayangkan kondisi Tanah Suci sekarang. Namun kondisi pemondokan pada musim haji tahun ini membuatnya cukup khawatir dan bersedih.

Aziz mengatakan, jauhnya pemondokan jamaah haji Indonesia tahun ini merupakan tanggungjawab sekaligus kesalahan pemerintah. Menurutnya, saat rapat dengan Menag, dua tahun lalu, anggota DPD termasuk dirinya sudah mengusulkan agar Depag melakukan kontrak pemondokan untuk jamaah haji di Makkah secara long time.

Menurutnya, ketika itu sudah diusulkan agar pemerintah melakukan kontrak minimal lima tahun. Namun usulan tersebut, menurutnya, tidak bisa terlaksana lantaran terkendala pada persoalan anggaran.

”Padahal sebetulnya itu bisa diupayakan, Indonesia kan tidak miskin-miskin amat,” ujarnya.

Jauhnya lokasi pemondokan jamaah haji Indonesia tahun ini menurutnya, juga bisa tidak terjadi jika pemerintah bertindak cepat memesan lokasi pemondokan. Aziz menilai, keterlambatan pemerintah memesan tempat membuat tahun ini jamaah haji Indonesia mendapat tempat yang jauh dari Masjidil Haram. ”Sehabis Ramadhan informasinya masih 40 persen yang terisi. Andaikan pemerintah bergerak cepat, mungkin kita bisa seperti Malaysia yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram,” ujar Aziz.

Penyediaan bus untuk mengantisipasi jauhnya lokasi menurutnya, juga tidak terlalu menolong. Alasannya, jika mendekati kawasan Masjidil Haram, radius satu kilometer saja pasti sudah macet. Alhasil, jamaah masih harus jalan kaki lagi. ”Adanya bus memang menolong, tapi tidak sebagus jika pemondokan dekat masjid. Karena jamaah juga bisa mengatur waktu kapan dia mau ke masjid,” tandasnya. ina/dokrep/Nopember 2008

Artikel Terkait:

Komentar