Okky Asokawati: Terkunci di Kamar Mandi

7 May 2009 | Kategori: Pengalaman Haji

Oki Asokawati, Foto/Amin Madani

Oki Asokawati, Foto/Amin Madani

Dua kali menunaikan ibadah haji membuat keimanan Direktris dan pengajar OQ Modeling, Okky Asokawati selalu bertambah. Berbagai ujian dari Allah ia terima dengan lapang dada. Dengan beragam ujian itu ia bertambah yakin, jika sebenarnya Allah ingin seluruh umat Muslim masuk surga. Ujian awal datang saat ia menunaikan haji pertama kalinya pada tahun 2003. Kala itu, ia bersama stafnya harus menempuh perjalanan sejauh enam kilometer dengan berjalan kaki. Selama tiga hari, ia berjalan kaki dari pemondokannya menuju tempat melontar jumrah.

Setelah mengumpulkan batu-batuan dari Muzdalifah dan melontar jumrah pada hari kedua, ia melihat stafnya berjalan sangat lambat. Merasa kesal dengan ulah stafnya, mantan peragawati ternama ini spontan mencaci maki. ”Saat itu saya katakan pada staf saya, kerja di Modelling School, tapi jalannya ngangkang kayak orang melahirkan saja,” kenang Okky.

Kalimat spontan yang meluncur dari mulutnya itu terbalaskan pada malam harinya. ”Tiba-tiba malam harinya, justru saya yang seperti orang hamil, tidak mampu bergerak sedikit pun,” kata Okky saat dihubungi Republika pekan lalu.

Perempuan yang menjadi Presenter Program OKKY di salah satu televisi swasta itu pun akhirnya melakukan kontemplasi diri dan akhirnya sadar, apa yang dilakukannya adalah perbuatan dosa sehingga mendapat peringatan langsung dari Allah. Ia kemudian segera bertaubat kepada Allah dan memohon maaf pada stafnya. Kebesaran Allah pun kembali datang. Setelah menyesal dan mengakui kesalahannya seluruh penyakit yang dilaminya sembuh. Ia kembali mampu berjalan normal seperti sedia kala.

Mantan model kelahiran Jakarta 6 Maret 1961 ini mengisahkan, perjalanan spiritual yang pernah dialaminya telah merubah sudut pandang dan cara berpikirnya terhadap segala hal. Menurutnya, tanpa kuasa Allah, manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Pengalaman haji yang luar biasa pun dialaminya saat menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Saat itu ia pernah terkunci di kamar mandi seorang diri. Padahal waktu menunaikan ibadah haji, tahun 2005 lalu, ia pergi bersama almarhum suaminya.

Saat kejadian itu, ia merasa kesal lantaran tak ada orang yang mengetahui keberadaannya. Bahkan suaminya sendiri meninggalkannya sendirian di dalam kamar mandi. ”Saya pikir itu adalah tanda-tanda dari Allah, karena tak lama berhaji suami saya wafat,” kenangnya.

Almarhum sang suami meninggal dunia karena penyakit stroke. Kendati demikian, kesulitan yang kerap datang menerpa dirinya dianggap salah satu bentuk kasih sayang Allah. Okky merasa beruntung karena diberi ujian bertubi-tubi oleh Allah. Menurutnya, semakin sering dan besarnya ujian, berarti cintanya Allah terhadap dirinya semakin besar pula. ”Allah ingin kita semua masuk surga,” ujar Okky.

Sarjana Psikologi Universitas Indonesia ini mengatakan, dengan datangnya ujian ia justru merasa hidupnya menjadi lebih indah. Bahkan, Okky menganggap seseorang akan merugi jika menunaikan ibadah haji namun tidak diberi pelajaran oleh Allah. Karena tanpa adanya ujian dari Allah, maka orang itu tidak akan memiliki perubahan apa pun dalam hidupnya.

Wanita berdarah campuran Jawa-Sunda ini menganggap banyak mengalami perubahan sebelum dan setelah melakukan ibadah haji. Setiap hari, menurutnya. perubahan itu terakumulasi hingga membuat keimanannya semakin tebal. Ia pun kian mencintai Allah dan semakin sadar bahwa manusia itu teramat kecil di mata Allah.

Kini, ia pun memiliki hasrat untuk dapat menunaikan ibadah haji setiap tahun. Saat menjadi tamu Allah, baginya, tidak ada tempat yang tidak mengesankan. Apalagi hampir seluruh lokasi di Tanah Haram menjadi tempat diijabahnya doa seseorang. Menunaikan rukun Islam yang kelima merupakan salah satu ibadah terindah dalam hidupnya. ”Semua tempat sangat indah. Tidak mungkin kita tidak menangis. Pokoknya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya. c68/dokrep/nopember 2008

Artikel Terkait:
  • No Related Post

Komentar