Irene Handono: Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim

8 May 2009 | Kategori: Pengalaman Haji

Irene Handono, Foto/Darmawan

Irene Handono, Foto/Darmawan

‘Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas.’

Ketika menjadi mualaf pada 1983 lalu, mantan biarawati Irene Handono, menyimpan perasaan bahwa Allah tidak adil terhadap dirinya. Ia terus bertanya dan berusaha mencari jawaban mengapa ia dilahirkan sebagai non-Muslim. ‘’Kenapa saya tidak dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat. Apa alasan Allah menjadikan saya sebagai mantan kafir,’‘ kata pemilik nama asli Han Hoo Lie ini.

Hingga 1991, pertanyaan itu belum juga terjawab. Jawaban akan kegelisihan hatinya baru muncul ketika menunaikan ibadah haji pada 1992. Wanita berdarah Cina ini berangkat haji bersama 400 orang jamaah reguler lainnya yang tergabung dalam kloter 18 dari Embarkasi Surabaya.

Di Tanah Haram, jawaban dari Allah itu didapatkannya. ‘’Ternyata Allah sayang kepada saya. Allah memilih saya menjadi salah satu hamba pilihan,’‘ ujar Irene saat ditemui di kediamannya, di Bekasi, beberapa waktu lalu. Ketika berada di Tanah Haram, Irene kerap mengalami peristiwa yang dinilainya luar biasa. Ia berkisah, ketika berada di depan Ka’bah, dirinya mengambil tempat garis lurus sejajar dengan letak Hajar Aswad. Ia sempat menggigit lidahnya untuk membuktikan jika dirinya tidak sedang bermimpi.

Pendiri Irene Center ini menuturkan, selama melakukan ibadah di Masjidil Haram, ia kerap diperlihatkan gambaran seperti sebuah film ten – tang kronologi hidupnya dari kecil hingga dewasa. Bungsu dari lima bersaudara ini tak kuasa membendung tangis. Ia bersedih melihat gambaran tentang dirinya ketika masih menjadi non-muslim. ‘’Itu bukan sebuah pikiran. Tapi sebuah film di depan mata saya tentang hidup saya sendiri. Semua lengkap, sangat jelas,’‘ ungkapnya.

Saat diperlihatkan Allah tentang jalan hidupnya di masa lalu, putri pengusaha ini pun ber – sujud dan melakukan muhasabah. Dari instro – peksinya, Irene mengikrarkan diri ingin me – wadahi para mualaf agar terus eksis di jalan Allah. Menurutnya, selama ini, tak sedikit mualaf yang dibiarkan dan tidak dibimbing hing – ga keimanan dan keislamannya tetap dangkal. Bahkan ada yang kembali menjadi murtad.

Di Tanah Suci, mantan mahasiswi Institut Ilmu Filsafat Theologi ini juga mengalami peristiwa luar biasa. Menurutnya, dari Muzdalifah menuju Mina, kelompoknya terpecah menjadi dua. Ada yang naik bus, ada yang harus jalan kaki. Ia pun mengalah memberi kesempatan pada jamaah tua untuk naik bus. Akhirnya ia berjalan kaki bersama rombongan yang dipimpin seorang ustadz dari kloternya. Namun tiba-tiba, jalan yang dilewatinya dipenuhi lautan manusia. Ia pun terpisah dari kelompoknya. Di tengah kebingung – annya, ia mencoba mencari jalan sendiri menuju pemondokannya di Mina sambil terus berdoa, dan bertawakal.

Untuk menutupi rasa haus dan lapar, wanita kelahiran Surabaya 30 Juni 1954 ini hanya meminum air zamzam yang ternyata mampu membuatnya sangat kenyang. Di tengah upayanya dan terus berdoa, tiba-tiba ia merasa ada yang menuntunnya menuju sebuah masjid. Setelah menunaikan shalat di masjid tersebut, ia pun bertekad akan melanjutkan pencariannya. Namun begitu keluar dari masjid, di pintu gerbang ia melihat pemimpin rombongannya. Ia pun akhirnya menuju pemondokan dan ternyata rombongan yang menggunakan bus belum tiba. ‘’Ini sungguh di luar nalar, tapi itulah kenyataannya. Saat kelompok yang menggunakan bus tiba, justru banyak yang sakit,’‘ ujarnya.

Air matanya kembali berurai ketika esok harinya, ia menggunakan bus dan melewati jalur yang ditempuh ketika ia tersesat. Ternyata selama ketika tersesat, ia mengitari Kota Mina. ‘’Tapi ketika saya berjalan kaki cuma setengah jam. Bayangkan mengitari sebuah kota hanya setengah jam, Masya Allah,’‘ ujarnya. Wanita yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini mengaku, ada banyak hal ghaib yang sulit dianalisisnya selama di Tanah Suci. Hal itu membuatnya kembali merenung dan menyimpulkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala hal.  c68/dokrep/desember 2008

Artikel Terkait:
  • No Related Post

Komentar

14 Responses to “Irene Handono: Menyaksikan ‘Film’ Dirinya Saat Masih Non-Muslim”

  1. kadek hariawan on June 28th, 2009 6:43 am

    Lindungi mualaf,bimbing,ALLAHU AKBAR

  2. Hasan Bisri BFC on June 30th, 2009 6:58 pm

    semoga Allah senantiasa membimbing dan menguatkan hati beliau untuk tetap merangkul dan menjadi sahabat bagi mualaf

  3. cutneh on July 26th, 2009 5:03 pm

    Subhannallah, Allahu Akbar Allah Maha Besar, yakin lah akan keberadaan dan kekuasaan Nya

  4. Nyuwarno on August 12th, 2009 4:42 pm

    Mhn informasinya dimana alamat Ustazah Irene Handono dan nomor teleponnya

  5. ana on September 13th, 2009 3:50 pm

    Ass Wr.Wb.

    Dimakah bisa saya dapatkan info alamat dan jadwal pengajian Ibu Irene.

    Trims

  6. Ato irwanto on September 18th, 2009 5:27 am

    Semoga ine masuk jannah. Amin. Itu yang ku ucapkan buat muslimah tangguh pemegang al haq.

  7. Asbit on October 7th, 2009 2:46 pm

    Subhanallah…Jujur Saya pribadi kagum dengan Anda. Ada setitik kesamaan dengan Saya. Mari kita tegakan Dienul Islam di Bumi Allah..Ya Allah Baroqahi kami para Mualaf ini.Bimbinglah kami…

  8. Asbit on October 7th, 2009 2:47 pm

    Salam kenal buat teman-teman nusantara yang baru mengenal Islam.Semoga kita bisa masuk dalam Jannah Nya. Asbit R 081.346314449.

  9. basuni on October 13th, 2009 9:30 am

    subhanalloh….allohuakbar.

  10. H.MN.KOMARUDIN on October 17th, 2009 8:46 am

    Subhanalloh….Alloh maha suci atas segalanya,bimbinglah hambamu yang lemah ini dalam menjalani kehidupan ini…Amien 3x

  11. Harun on November 21st, 2009 11:53 am

    Subhanallah, itu salah satu tanda-tanda kebesaran Allah, tiada yang mampu menghalangi jika Allah menghendaki sesuatu, termasuk HIDAYAH, Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki Nya.

  12. noor on December 9th, 2009 8:01 am

    Sebetulnya gak ada yang luar biasa, mantan biarawati convert to islam. Para sahabat rasulullah juga mualaf, banyak diantaranya sebelumnya bahkan memerangi Islam dengan sangat kejam. Bagi Hj Irene Handono hal tsb relatif lebih mudah, karena sama2 berasal dari agama samawiyah.

    Saya hanya malu dan iri kepada para mualaf yang memperoleh hidayah, tingkat pemahaman keagamannya sangat tinggi jauh melampaui kemampuan saya yang dilahirkan sebagai Islam.
    Ya, Allah berilah saya hidayah seperti para mualaf… itu.

  13. Nunung on February 3rd, 2010 8:18 pm

    Menitik air mata saya membaca pengalaman Hj Irene di atas, teringat pengalaman pribadi terpisah dari rombongan ketika sepulang melontar jumroh aqobah…rupanya salah satu cara Allah untuk memberikan hidayah/ ilmu kepada umatNya sekaligus menguji kesabaran dan keihlasannya adalah dengan cara memisahkan dari rombongannya.

  14. wie on February 18th, 2010 8:30 pm

    Subhanallah…Allahuakbar….ibuu…mengharukan dan menggumkan pengalaman hidup ibu…semoga ibu senantiasa diberikan keteguhan iman dan semangat untuk terus berdakwah…mohon doanya juga semoga saya diberikan taufik, hidayah dan inayah dari Allah SWT…amiiiiiin……