Marissa Haque: Buah Puncak Kepasrahan
8 May 2009 | Kategori: Pengalaman Umroh dan Haji

Marissa Haque, Foto/M Syakir
‘Ketika saya ketiduran, dia ternyata sampai akhir mengucapkan talbiyah. Saya merasa bahagia bisa menuntun suami.’
Ada saja godaan untuk kebaikan. Itulah yang dirasakan Marissa Haque ketika akan menunaikan ibadah haji. Artis yang juga dikenal sebagai politisi ini harus menghadapi ujian cukup berat, tiga hari menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci bersama suaminya, Ahmad Zulfikar Fawzi atau Ikang Fawzi, tahun 1983 lalu.
Icha, begitu wanita kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, ini akrab disapa, bukanlah kali pertama pergi ke Tanah Suci. Sebelumnya, ia pernah beberapa kali ke Tanah Suci menunaikan ibadah umrah. Namun, tahun 1983 itu merupakan kali pertama ia bersama sang suami menunaikan ibadah haji.
”Waktu itu godaannya juga luar biasa. Tiga hari sebelum berangkat anak saya, Kiki, harus dioperasi karena usus buntu. Tapi begitu selesai operasi, saya menyerahkan kepada Allah SWT yang menjaga dan akhirnya ternyata cepat sembuh,” ungkap Icha ketika menyambangi kantor Republika, Senin (24/11).
Meski putri bungsunya baru saja dioperasi, Icha dan Ikang tetap memutuskan berangkat ke Tanah Suci. Kiki pun dititipkannya pada ibunya yang kini sudah almarhum. Tentu saja, tak gampang meninggalkan anak kesayangan untuk waktu yang cukup lama pascaoperasi. Menurutnya, untuk mengerjakan suatu kebaikan, godaan luar biasa kerap datang. ”Saya pasrahkan kepada Allah SWT biar Dia yang menjaganya,” ujar bintang layar lebar era 1970-an ini.
Dalam kepasrahannya, politisi yang kini bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu berdoa kepada sang Khalik. ”Ya Allah kami ingin beribadah ke rumah-Mu, saya titip keluarga kami yang juga titipan-Mu ya Allah. Dan dalam kepasrahan tinggi itu, akhirnya apa yang kita harapkan akhirnya terwujud,” ungkap Icha.
Dari kepasrahannya yang memuncak kepada Allah SWT, ia merasakan segala sesuatu berjalan dengan lebih baik. Sepulangnya dari Tanah Suci, putrinya semakin membaik. Suaminya pun mendapatkan apa ia inginkan. ”Mas Ikang sebagai anggota REI, mendapat tawaran dari Menpera yang waktu itu masih Bang Akbar Tanjung, menjadi staf khusus. Saya pulang dalam kondisi sehat, dan si kecil Kiki sangat ceria, ia sudah sembuh seakan tak terjadi apa-apa,” papar Icha sambil menebar senyum.
Saat tiba di Jeddah, ibu dari Bella dan Kiki ini mengaku masih terus terbayang-bayang wajah kedua putrinya, terutama Kiki. Sementara saat itu, alat komunikasi belum secanggih yang ada saat ini. Namun, setibanya di Makkah, kekhawatirannya hilang seiring dengan kepasrahannya pada Allah SWT yang sulit dibahasakan.
Menurutnya, dalam kepasrahan yang tinggi, bebannya pun hilang. Apalagi, Icha juga membawa titipan Allah lainnya yang masih membutuhkan bimbingan. Artis yang juga menjadi produser beberapa film ini mengaku sebelumnya, sudah beberapa kali mengajak suaminya untuk naik haji. ”Saya beberapa kali mengajak mas Ikang, yuk kita berangkat haji, mumpung rezeki lagi lapang, kalau ditunda nanti uangnya terpakai lagi,” kenangnya.
Namun, beberapa kali ajakan itu ditanggapi dengan jawaban belum siap oleh Ikang. Dan ketika Ikang mengiyakan, Icha melihat suaminya betul-betul menjalankan ibadah dengan khusyuk. Dalam hitungan yang sangat singkat, kata Icha, suaminya mendapatkan kepuasan spiritual. Bacaan talbiyah yang tadinya belum dihafal sebelum berangkat, dengan cepat dihafalnya ketika tiba di Tanah Suci.
”Ketika saya ketiduran, dia ternyata sampai akhir mengucapkan talbiyah. Saya merasa bahagia bisa menuntun suami,” ujarnya.
Wanita yang tetap cantik di usianya yang kepala empat ini mengaku setelah berhaji, dirinya selalu melihat dengan mata hati. Ia pun merasa dianugrahi ketajaman intuisi yang membuat pemikirannya kadang melompat ke masa depan. Ini bisa terlihat dari karya film-film yang diproduserinya di bawah bendera Rana Artha Mulia Film.
Film Purnama di Atas Madinah yang mengisahkan tentang TKW yang pulang karena disiksa atau diperkosa majikannya, termasuk film ‘langka’ dan berani ketika itu. Begitu pula film Ujang dan Aceng yang memberikan porsi peran utama pada orang-orang keturunan Cina, serta film tentang pembauran etnis Cina lewat film Kembang Setaman. ”Saya jadi bisa bikin cerita house masa depan,” ujarnya.
Saat wukuf di Arafah, ada satu keinginan Icha yang disampaikannya melalui doa kepada sang Khalik. ”Saya berdoa karena ingin punya anak lagi, laki-laki,” ujarnya. Namun ternyata, suaminya tiba-tiba menyampaikan bahwa ia baru saja bermimpi bahwa mereka tidak akan punya anak lagi.Keinginannya itu akhirnya dikubur. Namun, Icha mampu mengambil hikmahnya. ”Kalau memaksakan ingin punya anak lagi, mungkin saya tak bisa sampai meraih gelar doktor, tidak pernah tugas di Amerika. Jadi ada hal yang dikalahkan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih,” ujarnya. dam/ina/dokrep/desember 2008

[...] Sumber: http://www.jurnalhaji.com/?p=295 [...]
Bagus Neng Icha.. bagus………….
Ikutan dong Haji dan Umroh mbak Icha………
Lebih baik nulis tentang anak-anak saja mbak Marissa sang cerdas. Seperti AMINAH terbitan Rosda Karya Bandung, tulisan itu kamu sekali deh. Ada ISlamnya ada lingkungan hidupnya, ada keibuannya, ada anak-anak pinggirannya. Beda kalau kamu bicara soal politik-hukum, jadi keras sekali deh! Kalau kamu bicara soal SBY dan antek-anteknya umur kamu nanti jadi pendek lho. SBY dan Budiono penjahat pemimpin Indonesia, maksa untuk dilantik tanggal 20 Oktober, rakyat yang faham pasti tidak akan diam. Lihatlah! Densus 88 akan beraksi menembak rakyat yang melawan negara lalim. Adzab Allah akan semakin dekat pada kita semua, tidak percaya? Buktikan.
Selamat ulang tahun ke 46 ya mbak… panjang umurnya lho….. Indonesia perlu kamu.