Berhaji Seoptimal Mungkin

11 May 2009 | Kategori: Haji

h-112Di antara ciri haji mabrur adalah perkataannya menyenangkan, suka damai, dan senang memberi makan orang miskin.

Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat istimewa. Tidak semua orang Islam bisa berangkat ke sana. Bahkan, seandainya pun uangnya melimpah, belum tentu bisa berangkat haji. Banyak calon jamaah haji harus menunggu dua, tiga bahkan empat tahun, baru mendapatkan porsi untuk pergi haji. Karena itu, kesempatan berhaji harus dimanfaatkan seoptimal mungkin agar mampu meraih haji mabrur,kata Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Indramayu, KH Masyhuri Baedlowi MA.

Ia menyebutkan, setidaknya ada tiga ciri haji mabrur, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW. Pertama, ayyakuna tibil kalam (supaya setelah haji omongannya enak, manis, menyenangkan, nggak menyakiti orang). Kedua, ifsaus salam (suka damai). Jadi, orang yang telah berhaji itu seharusnya tidak suka bertengkar, apalagi masalah sepele. Ia lebih menyukai perdamaian.

Ketiga, itamuth thaam, sosialnya semakin tinggi karena memberi makan masyarakat.Jadi, kalau sudah haji tapi dia masih pelit, koret, bakhil, berarti hajinya belum atau tidak mabrur, tandas KH Masyhuri. Presiden Direktur PT Pandu Ash-Shofa (PAS) Travel, Muhammad Bhakty Kasry menegaskan pentingnya seorang haji meningkatkan ketakwaannya.

Disebut haji mabrur artinya ada perubahan untuk kebaikan dalam hal peningkatan kualitas ibadah setelah dia pulang haji dan menjauhi segala larangan Allah,tuturnya. Bhakty menambahkan, orang yang hajinya mabrur bisa dilihat ciricirinya setelah dia pulang haji.

Kebaikannya meningkat; ibadahnya, iman dan takwanya, shalatnya semakin membaik. Di keluarganya dia menjadi lebih baik, di kantornya pun dia menjadi lebih baik. Jadi, perbaikan itu ada dalam seluruh segi kehidupannya. Pendek kata, orang yang hajinya mabrur itu setelah pulang haji dia sangat bermanfaat bagi lingkungannya, tandasnya.

Hal senada diungkapkan anggota Dewan Pengawas Syariah Baznas Dompet Dhuafa Republika, Ustadz Bobby Herwibowo Lc.Untuk melihat apakah seorang jamaah haji tersebut meraih kemabruran dapat dilihat dari adanya peningkatan dan perbaikan diri dalam segala aspek penghidupan yang terlihat dalam diri sang jamaah haji sekembalinya dari Tanah Suci, tegasnya.

Bobby menjelaskan, ibadah haji pada hakikatnya merupakan ibadah yang dilakukan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, perlu persiapan yang sungguh-sungguh sebelum tiba saatnya berangkat ke Tanah Suci. Persiapan yang dilakukan tidak terbatas hanya pada persiapan fisik dan finansial tapi juga persiapan dalam hal pemahaman ilmu berhaji,tandasnya.

Ia menambahkan, mempersiapkan pelaksanaan ibadah haji perlu dilakukan secara terintegrasi untuk meraih kemabruran yang menjadi dambaan setiap umat Islam yang berhaji. Untuk mencapai mabrur perlu persiapan psikis, lahir, dan batin,kata Bobby.

Bhakty Kasry mengemukakan, untuk meraih haji mabrur harus dimulai sejak sebelum berangkat haji. Haji mabrur harus diawali dengan niat yang tulus untuk menjalankan rukun Islam yang kelima dengan sebaik-baiknya. Kemudian, harta yang dipakai untuk menunaikan ibadah haji harus harta yang halal dan jangan lupa mengeluarkan zakat.

Tidak kalah pentingnya adalah mengikuti latihan manasik haji dengan sebaik-baiknya, sehingga betul-betul mengerti seluruh rangkaian ibadah haji yang akan dilaksanakan, papar Muhammad Bhakty Kasry.ika,ci2/yto

Artikel Terkait:

Komentar

One Response to “Berhaji Seoptimal Mungkin”

  1. muksin on July 20th, 2009 7:45 am

    sebagian besar ummat muslim indonesia pemahaman mengenai makna dari sebuah ibadah sangat minim,apalagi mengenai filosofi dari sebuah ibadah sehingga ketika selesai melaksanakan sebuah ibadah seolah olah tidak berbekas sama sekali,tidak ada perubahan yang berarti.coba bayangkan tiap tahun 210 000 orang ummat islam indonesia menunaikan ibadah haji, tapi korupsi masih meraja lela dimana mana, saling umpat dan saling fitnah semakin sering kita dengar,perceraian demi perceraian semakin banyak, dan masih banyak lagi kemungkaran2 yang kita jumpai itu menunjukkan bahwa kita melakukan ibadah hanya secara ritual tanpa memahami makna dari sebuah ibadah, pertanyaannya tugas siapa sekarang untuk memberi pencerahan tersebut.