Menggapai dan Merawat Kemabruran Haji
29 May 2009 | Kategori: Berita
Puncak prestasi seorang jamaah haji adalah menggapai haji mabrur, yakni haji yang diterima oleh Allah SWT dan tiada balasan yang lebih baik, kecuali surga. Namun, predikat haji mabrur itu tidak mudah digapai, kecuali oleh orang-orang yang ikhlas dan sungguh-sungguh dalam menunaikan niat, rukun, wajib dan sunnah haji.
Setelah kembali ke Tanah Air, hal yang tidak kalah pentingnya adalah merawat kemabruran haji itu agar tetap terjaga. Sebab, seperti halnya iman yang bisa naik-turun, kemabruran haji itu pun bisa menurun bahkan luntur sama sekali kalau tidak dipelihara dengan sebaik-baiknya.
Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS
Ketua Umum Baznas, Guru Besar IPB Bogor
Setiap tahapan berhaji memiliki makna tersendiri yang perlu dipahami oleh para jamaah haji yang melaksanakannya. Rasul pernah bersabda, ‘Ambillah dari aku tata cara berhaji’. Dari hadits tersebut, dapat kita lihat bahwa segala tata cara dalam berhaji sudah memiliki perincian maknanya masing-masing.
Ketika kita memakai pakaian ihram dan mengumandangkan talbiyah merupakan cerminan komitmen kita untuk datang memenuhi panggilan Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji. Pakaian ihram yang sama untuk seluruh jamaah haji juga memiliki makna bahwa kita semua sebagai umat Islam adalah sama di mata Allah.
Melaksanakan tawaf di Ka’bah dan berjalan mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali, memiliki makna bahwa umat Islam merupakan umat yang dinamis dan jujur. Tawaf yang dilaksanakan tujuh kali hanya di pelataran Ka’bah saja mencerminkan bahwa segala pekerjaan yang dilakukan oleh umat Islam pun hendaknya selalu dilaksanakan di jalan Allah dan hanya berdasarkan petunjuk Allah SWT.
Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah ketika sa’i memiliki makna bahwa kita tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah. Melempar jumrah yang juga merupakan bagian dari rukun berhaji juga memiliki makna agar kita menjauh dari segala sifat buruk yang biasa dimiliki setan.
Sedangkan tahapan tahalul, ketika kita mencukur rambut merupakan bukti syukur kita dan kepatuhan kita terhadap perintah Allah SWT dengan mengorbankan sesuatu yang amat kita sayangi. Dalam hal ini, mengorbankan hal yang kita cintai tersebut direpresentasikan oleh mencukur rambut. n
KH Masyhuri Baedlowi MA
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Indramayu
Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat istimewa. Tidak semua orang Islam bisa berangkat ke sana. Bahkan, seandainya pun uangnya melimpah, belum tentu bisa berangkat haji. Banyak calon jamaah haji harus menunggu dua, tiga bahkan empat tahun, baru mendapatkan porsi untuk pergi haji. Karena itu, kesempatan berhaji harus dimanfaatkan seoptimal mungkin agar mampu meraih haji mabrur.
Setidaknya ada tiga ciri haji mabrur, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah saw.
- Pertama, ayyakuna tibil kalam (supaya setelah haji omongannya enak, manis, menyenangkan, nggak menyakiti orang).
- Kedua, ifsaus salam (suka damai). Jadi, orang yang telah berhaji itu seharusnya tidak suka bertengkar, apalagi masalah sepele. Ia lebih menyukai perdamaian.
- Ketiga, itamuth tha’am, sosialnya semakin tinggi karena memberi makan masyarakat. Jadi, kalau sudah haji tapi dia masih pelit, koret, bakhil, berarti hajinya belum atau tidak mabrur. n
Muhammad Bhakty Kasry
Presiden Direktur PT PAS Travel
Seorang yang sudah bergelar haji wajib meningkatkan ketakwaannya. Disebut haji mabrur artinya ada perubahan untuk kebaikan dalam hal peningkatan kualitas ibadah setelah dia pulang haji dan menjauhi segala larangan Allah.
Orang yang hajinya mabrur bisa dilihat ciri-cirinya setelah dia pulang haji. Kebaikannya meningkat; ibadahnya, iman dan takwanya, shalatnya semakin membaik. Di keluarganya dia menjadi lebih baik, di kantornya pun dia menjadi lebih baik. Jadi, perbaikan itu ada dalam seluruh segi kehidupannya. Pendek kata, orang yang hajinya mabrur itu setelah pulang haji dia sangat bermanfaat bagi lingkungannya.
Untuk meraih haji mabrur harus dimulai sejak sebelum berangkat haji. Haji mabrur harus diawali dengan niat yang tulus untuk menjalankan rukun Islam yang kelima dengan sebaik-baiknya. Kemudian, harta yang dipakai untuk menunaikan ibadah haji harus harta yang halal dan jangan lupa mengeluarkan zakat. Tidak kalah pentingnya adalah mengikuti latihan manasik haji dengan sebaik-baiknya, sehingga betul-betul mengerti seluruh rangkaian ibadah haji yang akan dilaksanakan. ika/ci2/yto

Komentar