Pemerintah Siapkan Tamiflu untuk Jamaah Haji
28 July 2009 | Kategori: Berita
JAKARTA — Guna mencegah penularan wabah flu babi kepada jamaah haji Indonesia, pemerintah bertekad untuk memaksimalkan pencegahan. Departemen Agama (Depag) dan Departemen Kesehatan (Depkes) telah bersepakat untuk membagikan tamiflu kepada dokter yang akan bertugas di setiap kelompok terbang (kloter).
””Pemberian vaksin antiflu masih belum diperlukan karena potensi tertular bisa dihindari. Caranya dengan intensif mengingatkan agar jamaah menjaga kebersihan dan kesehatan,”” ujar Sekretaris Dirjen Haji dan Umrah, Abdul Ghofur Djawahir, di Jakarta, Senin (27/7).
Selain itu, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga bekerja ekstra mengampanyekan kebersihan kepada jamaah ketika berada di Tanah Suci. Menurut Ghofur, upaya lain yang akan ditempuh adalah menaikkan standar kesehatan pada medical check-up fase kedua dan ketiga.
Pemeriksaan kesehatan fase dua adalah ketika jamaah menggelar manasik. Sedangkan, fase ketiga dilakukan ketika jamaah dikarantina di asrama haji menjelang keberangkatan. ””Misalnya pada fase kedua lolos, belum tentu fase ketiga mereka bisa lolos lagi. Jadi, jamaah harus benar-benar menjaga kondisi kesehatan,”” papar Ghofur.
Menurut dia, Arab Saudi saat ini sedang menetapkan status waspada tingkat pertama terhadap persebaran penyakit menular jelang pelaksanaan musim haji 2009. Buntutnya, mereka mengeluarkan imbauan agar jamaah yang berusia di atas 65 tahun, di bawah 12 tahun, dan yang sakit kronis menunda melaksanakan rukun Islam kelima itu.
Di tempat terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Amidhan, meminta agar Depag melobi Dubes Arab saudi agar tetap mengizinkan calhaj berusia di atas 65 tahun sepanjang sehat dan tidak termasuk kategori risiko tinggi.
Jika imbauan Pemerintah Arab Saudi itu dipatuhi, sangat banyak calon jamaah haji yang mungkin terancam batal menunaikan ibadah haji. Seperti diberitakan kantor berita ANTARA, ratusan calhaj dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terancam batal berangkat ke Tanah Suci menyusul adanya imbauan pemerintah Arab Saudi terhadap batas maksimal usia calhaj yang tidak lebih dari 65 tahun. “Dari total kuota 3.049 calhaj yang akan berangkat dari Sidoarjo, ada 759 orang yang berusia lebih dari 65 tahun,” ungkap Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh Departemen Agama (Depag) Sidoarjo, Misbakhul Munir.
Sementara itu, calhaj asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak takut dengan flu babi (H1N1) yang mungkin menyerang mereka ketika melaksanakan ibadah di tanah suci Makkah, Arab Saudi. “Dari sekitar 667 calon haji Kota Mataram, tak satu pun yang membatalkan niatnya untuk berhaji pada musim haji 2009,” kata Kepala Kantor Departemen Agama Kota Mataram, Husnan Ahmadi. ant/mch/yto

Komentar