PPIH: Belum Ada Kasus Calhaj Ilegal

30 October 2009 | Kategori: Berita

haji

JEDDAH–Konjen RI Jeddah selaku Koordinator Pelaksana Harian Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, H Gatot Abdullah Mansyur menegaskan, seluruh persiapan pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi kali ini sudah cukup.

“Semua ””””””””undercontrol”””””””” (terkendali),” kata Gatot kepada wartawan di Jeddah, Jumat. Namun ia mengakui, masih ada sisa masalah yakni mencarikan pemondokan baru di Mekah bagi sekitar 6.000 jemaah calon haji karena pemondokan yang telah disewa semula tidak memenuhi persyaratan baru yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi.

Berdasarkan kebijakan baru pemerintah setempat, rumah berkapasitas huni di atas 250 orang atau biasanya yang berlantai tiga ke atas harus memiliki tangga darurat. “Karena aturannya seperti itu, ya mereka akan kita pindahkan,” ujarnya.

Gatot menganggap hal itu juga tidak menjadi masalah karena PPIH telah menyewa rumah cadangan yang disiapkan untuk berjaga-jaga jika ada kelebihan jemaah yang datang. Jumlah rumah sewa yang dicadangkan yakni sekitar satu persen atau l.900 rumah sewa siap huni dari perkiraan jumlah calon haji reguler (ONH) Indonesia (sekitar 191.000).

Mengenai kemungkinan penggunaan paspor hijau oleh calon haji ilegal, Gatot mengatakan, sejauh ini pihaknya belum memperoleh laporan mengenai indikasi adanya pelanggaran atau terjadinya hal-hal yang mencurigakan. Paspor hijau untuk pertama kalinya digunakan untuk memperoleh visa haji dari pemerintah Arab Saudi. Pada tahun-tahun sebelumnya, untuk menunaikan ibadah haji digunakan paspor khusus yang berwarna coklat.

Untuk menghindari penyalahgunaan paspor hijau oleh calon haji ilegal, masih melampirkan buku paspor coklat yang dinamai Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH) bersamaan dengan buku paspor hijau. Baik haji reguler (ONH) maupun haji non-reguler (ONH plus) tetap melampirkan buku DAPIH bersama buku paspor hijau saat memohon (apply) visa di kedutaan Arab Saudi. “Kita juga melakukan koordinasi terus dengan pemerintah Arab saudi, ” kata Gatot untuk mencegah kemungkinan penyalahgunaan paspor hijau untuk menunaikan ibadah haji.

Sementara tentang visa bagi tenaga musiman (Temus) yakni para mahasiswa RI di negara-negara Timur Tengah yang akan membantu penyelenggaraan haji di Arab Saudi, Gatot mengemukakan, tidak ada masalah lagi. Sebanyak 196 mahasiswa calon temus berasal dari Syria, Sudan, Lebanon, Mesir dan Libya, menurut Gatot, sudah memperoleh visa Arab Saudi dan diharapkan mereka tiba di Jeddah, Jumat.

Menurut catatan, dalam musim haji 1430 H ini, PPHI merekrut 560 temus, l96 di antaranya para mahasiswa di Timur Tengah dan selebihnya 364 temus terdiri dar para pemukim di Arab Saudi dari berbagai keahlian dan profesi.
Keberadaan temus diharapkan ikut melancarkan penyelenggaraan ibadah haji mengingat mereka rata-rata mampu berkomunikasi dalam bahasa Arab dan mengenal adat-istiadat serta budaya dan medan setempat.

Mengenai sebagian calon haji plus termasuk 3.000 calon haji baru (tambahan kuota) yang sejauh ini belum keluar visanya, Konjen merasa yakin pada waktunya nanti masalah ini akan selesai. Sementara mengomentari ketatnya pemeriksaan dokumen keimigrasian di bandara Arab Saudi, Gatot menilai hal itu wajar-wajar saja demi keamanan.
“Kita harus mematuhinya, dan seharusnya memang begitu agar tidak kecolongan,” ujarnya.

Menurut catatan, akibat pengambilan 10 sidik jari dan foto jemaah sebelum keluar dari bandara setempat, diperlukan tambahan waktu sekitar tujuh sampai 10 menit bagi setiap jemaah melalui proses tersebut. Akibatnya, setiap kloter penerbangan (terdiri dari 325 sampai 455 jemaah tergantung jenis pesawatnya), memerlukan waktu empat sampai lima jam untuk melalui proses keimigrasian sebelum keluar dari bandara di Arab Saudi. ant/tar

Artikel Terkait:
  • No Related Post

Komentar