Waspadai Modus Kejahatan terhadap Jamaah

31 October 2009 | Kategori: Berita

Masjidil HaramMAKKAH — Menjelang pucak musim haji, aneka kasus kejahatan mengintai jamaah calon haji di Tanah Suci. Karenanya, walaupun mengenakan pakaian seragam, jamaah diimbau untuk senantiasa waspada dan tidak gampang percaya pada orang lain.

Menurut Wakil Ketua II Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Bidang Keamanan, H Letkol Caj Abu Haris, modus operandi yang sering dilakukan para pelaku tindak kejahatan tersebut, biasanya pura-pura memeriksa identitas jamaah, menunjukkan arah yang salah kemudian merampas tas jamaah, hingga pencompetan dan perampasan. ””Kasus paling sering terjadi di sekitar Masjidil Haram atau Masjid Nabawi,”” ujar Kepala Satuan Operasional Arafah-Mina ini.

Meski di tempat-tempat itu telah disebar aparat keamanan dari PAM PPIH yang menyamar, namun jamaah tetap diimbau untuk waspada. ””Kerja sama antarjamaah dalam setiap regu atau rombongan harus selalu dijaga, dan ketua rombongan harus sering-sering mengingatkan dan melakukan pengecekan terhadap anggotanya,”” tambahnya.

Kasus terakhir menimpa jamaah asal Solo, berupa perampasan tas berisi uang dan dokumen. Korban adalah Turgiyanto Maskur Bin Kasiban. Modusnya, saat korban hendak mengambil wudhu di toilet masjid, korban didekati oleh seseorang yang memaksa membawakan barang-barang korban.

Alasannya, di toilet/tempat wudhu tidak diperbolehkan membawa barang-barang, karenanya harus dititipkan kepada pelaku. Setelah barang berpindah tangan pelaku langsung melarikan diri. Pelaku diduga berasal dari Indonesia karena saat beraksi ia menggunakan bahasa Jawa.

””Untuk mengantisipasi tindak kejahatan, pengamanan dari dalam regu lebih berperan. Sebab jumlah tenaga pengamanan kita sangat terbatas,”” ujar Haris.

Menurut Haris, total jumlah petugas keamanan PPIH pada musim haji tahun ini sebanyak 31 orang. Mereka berasal dari unsur TNI dan Polri dan disebarkan ke seluruh sektor yang ada di Makkah. Jumlah itu jelas jauh dari memadai mengingat jamaah reguler Indonesia mencapai 191.000 orang.

””Kalau mau ideal, perbandingannya 1:200, satu petugas bertanggung jawab mengamankan 200 orang. Saat ini kawan-kawan petugas keamanan lebih berfungsi sebagai dinamisator agar fungsi keamanan dari dalam regu bisa berjalan optimal,”” ujar Haris.

Sebagai upaya lebih lanjut, Haris mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan bagian intelijen Arab Saudi. Selain itu, melalui selebaran pihaknya menghimbau agar jamaah tidak pergi-pergi sendirian, tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal, mempelajari sekaligus mewaspadai modus-modus kejahatan.

Menurut Haris, hampir tiap tahun tindak kriminal menimpa jamaah Indonesia. Bentuknya, antara lain, perampasan dan pencopetan. Selain modus penipuan seperti yang terjadi di Madinah tersebut, modus lain yang sering digunakan, pelaku berpura-pura mengemis, ketika jamaah mengeluarkan uang dari tas, pelaku kemudian merampasnya.

””Bahkan ada juga pelaku yang berpura-pura menjadi petugas, memakai baju mirip seragam petugas, mendekati korban dan mengambil uang atau barang berharganya dengan berbagai cara,”” jelas Haris.

Menyinggung soal pengamanan saat puncak musim haji, ia mengatakan, aparat keamanan telah disiapkan untuk berjaga di Bukit Shofa dan Marwa, Bab Malik, dan pos mobile di kompleks pengambilan air zamzam. tri/yto

Artikel Terkait:

Komentar