Pesona Masjidil Haram dan Nabawi
4 November 2009 | Kategori: Berita
MADINAH–Islam mengenal tiga masjid suci, Masjidilharam di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Selama melaksanakan haji, umat Islam dapat mengunjungi dua masjid, yakni Masjidilharam di Mekah Al-Mukaramah dan Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawarah. Apa kesamaan dan perbedaan beribadah di dua masjid ini?
Kesamaannya, kedua-duanya mempesona. Berpesona tak sekadar terlihat dari bangunannya yang kokoh, besar, dan kuat. Tapi dua masjid itu memancarkan sinar keagungan Allah SWT dan sinar Muhammad saw. Masjidilharam memancarkan keagungan Sang Khalik, sedangkan Masjid Nabawi menggambarkan kebesaran Muhammad.
Pesona Mekah yang paling utama, karena di tempat ini Allah memilih membangun Baitullah. Menurut Rasulullah, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari, masjid yang paling pertama dibangun di muka bumi ini adalah Masjidilharam. Setelah 40 tahun kemudian dibangunlah Masjidil Aqsha. Pembangunan Masjidil Aqsha yang dimaksudkan adalah pembangunan yang dilakukan oleh Yakub bin Ishak dan kemudian direnovasi oleh Nabi Sulaiman.
Menggambarkan pesona itu, Rasulullah saw., dalam hadis yang diriwayatkan Jabir r.a. bersabda, “Salat di masjidku ini (Masjid Nabawi) adalah 1.000 kali lebih utama daripada salat di masjid lainnya, kecuali Masjidilharam. Sebab, salat di Masjidilharam lebih utama 100.000 kali daripada salat di masjid lain. Sementara salat di Masjidil Aqsha lebih utama 500 kali daripada salat di masjid lain.”
Begitulah kebesaran Kota Mekah, sehingga Allah menjadikan tempat ini sebagai tanah haram atau tanah suci. Itulah sebabnya, di tempat ini tidak boleh terjadi pertumpahan darah. Setiap orang yang berdoa di tanah haram ini juga mustajabah (dikabulkan). Keagungan Kota Mekah terpancar dari keagungan Allah SWT. Dengan kekuasaan Allah, Sang Khalik berkehendak apa pun yang diinginkan-Nya. Pada kenyataannya, dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahimnya, Allah menghendaki agar manusia sejahtera dan bahagia, tidak hanya di dunia, tapi bahkan di akhirat.
Allah yang telah menciptakan alam semesta ini, Allah pula yang membuat aturan mainnya melalui hukum alam. Melalui Alquran, Allah mengabarkan kepada manusia bagaimana cara bersahabat dengan alam semesta ini. Manakala terjadi banyak bencana, manusia harus menyadari, hal itu karena manusia tidak mengikuti sistem alam yang menjadi ketentuan Allah.
Melalui ritus haji, Allah menguji siapa di antara umatnya yang beriman. Melalui rukun Islam kelima ini, Allah mengundang hamba-Nya untuk datang menghadap-Nya. Di tanah suci, manusia bisa berdialog dengan Penciptanya, mereka mengadukan nasibnya, meminta ampun atas dosa-dosanya. Kemudian, Allah menawarkan hamba-Nya untuk meminta apa pun yang diinginkannya.
Dengan berdoa, Allah akan mengabulkan semua permintaan hamba-Nya tersebut.
Meskipun berhaji dibandingkan dengan travelling ke luar negeri sama, tapi berhaji secara substantif mempunyai makna yang jauh berbeda. Berhaji adalah kepasrahan diri, datang menghadap Allah dengan apa adanya sebagai manusia. Berhaji justru kita diminta datang oleh Allah sebagai diri kita, manusia. Maka, memasuki Kota Mekah hanya mengenakan dua kain putih tanpa jahitan. Saat wukuf di Arafah pun, Allah pamer dan merasa bangga kepada para malaikat bahwa hamba-Nya datang dengan keadaan dekil.
Makanya, ketika seseorang datang ke menghadap Allah, dia merupakan perjalanan seorang hamba yang menghadap Penciptanya. Maka, mereka datang tanpa atribut apa pun, tanpa memperlihatkan pangkat dan derajat, kecuali kerendahan hatinya. Sedangkan travelling ke luar negeri pada umumnya berkaitan dengan derajat dan pangkat, serta kemewahan. Berhaji ke Mekah berarti kepasrahan manusia kepada Sang Khalik.
Keagungan Madinah
Berbeda dengan saat di Mekah, di Madinah suasana cukup berbeda. Madinah merupakan pancaran pembudayaan Islam yang akar-akarnya ada di Mekah. Di Madinahlah Rasulullah mengekspresikan substansi Islam dalam bentuk lahiriah. Sistem Islam ditata Rasulullah dalam kehidupan kemasyarakatan di Madinah.
Itulah sebabnya, datang ke Madinah nuansanya berbeda dari Mekah. Madinah sangat kental rasa kemanusiaannya. Kota nya bersih, masyarakatnya ramah, banyak kebun korma yang alami, terdapat oase, pola keluar masuk jemaah yang teratur antara yang datang dan pergi, dan sebagainya. Sedangkan Mekah terkesan lebih mengesankan keagungan Tuhan Yang Mutlak.
Maka ritus yang dilaksanakan di Madinah pun relatif lebih sedikit. Jemaah hanya melaksanakan salat arbain, yaitu salat berjamaah di Masjid Nabawi. Ritus ini sesungguhnya nyaris sama dengan ibadah harian. Sebab, setiap Muslim disarankan melaksanakan salat berjamaah di masjid, sebagaimana Rasulullah selalu melaksanakan salat fardhu di masjid. Selain melaksanakan salat fardhu, jemaah hanya berziarah ke makam Rasulullah, sahabat Abubakar dan Umar, serta sejumlah sahabat lain di makam Al-Baqi, serta sejumlah malam lain seperti di Gunung Uhud.
Sedangkan ritus yang dilaksanakan di Mekah dan sekitarnya berkaitan dengan kewajiban hamba kepada Penciptanya. Datang dengan berihram, kemudian melaksanakan tawaf, sai, dan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifan dan Mina, dan terakhir melontar jumrah. mch/yto

Kapan a ada panggilan sy kemari, sangat kepingin hati dan ingin sekali menunaikan ibadah haji, apa lg kt RASULULLAH SAW, barang siapa sekali menyalatkan dimesjid ku, seribu kali ALLAH SWT membalasnya, masya ALLAH sungguh banyak ganjaran nya, hati siapa yg g tergugah utuk bercita2 menunaikan ibadah haji kebaitullah, mudah2an sy dan keluarga serta saudara2 sy di seluruh Dunia di panggil oleh ALLAH YMK amiiin wassalamualaikum wrb
Subhanallah…..makin kuatlah keinginanku untuk segera berkunjung ke rumahMU. Rabb….ijinkan aku….
titip anak anakku,orang tuaku,saudaraku serta lingkunganku
mereka semua milikMU….
tolong Rabb…. jaga mereka….amin amin ya robbal alamin
subhanalloh sampai saat ini belum ada yang merasa bosan untuk tidak berkunjung ke makkah dan madinah
Ya ALLAH berikan aku kemampuan untuk dapat hadir di tempat kalimat Talbiyah “Labbaik Allahuma Labbaik, Innalhamda Wanikmata Lakamulk Lasyarikalah” di kumandang oleh hamba hamba mu dari seluruh penjuru dunia.
Sedang berusaha menuju ke sana … semoga Allah memberi kemudahan
Setelah melihat gambar dan membaca artikel diatas membuat keingingan ku begitu kuat untuk kembali berkunjung kerumah Mu (Baitullah) ….Subhanallah …
Rabb,,ijinkan aku untuk menuju Baitullah..aamiin..
hoyong kaduana bade badal amiiiiin
Smua org muslim berkeinginan ke sana kdg uang dan kesempatan blm berpihak, untuk berhaji tentunya ada gilirannya kdg antrian sampe 5 thn, dgn bertambah usia kesehatan akan semakin menurun terutama pd org yg sdh tua…oleh krn itu jgn lah kt egois terutama para pejabat, org kaya yg setiap tahun naik haji…padahal haji ke 2, 3, 4 dst adalah sunat hukumnya sdgkan bg mrk yg pertama adalah wajib, betapa berdosanya kita yg mengambil hak jatah mrk…krn ku tahu smu itu bs di atur dgn uang dan jabatan shg tdk jarang kita menenui org2 yg berhaji tiap tahun, yg msh muda sebaiknya utamakan yg tua,,, apa salahnya klu punya uang umrah saja u yg sdh berhaji atau usia msh muda…..tdk kshan kah kt melihat mrk yg berhaji dgn kursi roda,….smg ini dpt menjadi masukan u kt smu,, bknkah kt ingin seluruh umat di dunia ini naik haji smu, smu msk surga, tdk kafir….maka dr itu, jgnlah kt ambil hak org tua, org fakir-miskin, jatah u yg mualaf…dsb…lebih bk menhajikan org yg blm pernah kan….drpd kt berhaji sampai 3 kali setiap tahun….bknkan bs diganti dgn umrah……..
alhamdulilah y allah ijinkan q utk pergi k baitullah, mengunjungu rumahmu yg agung gk prnah bosan,,,,,,,aminnnnnnn
Ya Allah begitu besar kuasaMu,begitu banyak nikmatMu begitu juga nikmat memandangi ka’bahMu (rumahMu) baitullah, setiap melepas orang2 berhaji tak bisa ku tahan air mata ini,sampaikanlah aku kembali bersama anak2 ku bersujud di baitullah amin,
Allhamdulillah aku lbh dulu bisa brangkat haji di th 09. Saudara2ku yg posting maupun tdk, perbanyak do’amu kpdNYA. Insyaallah do’a kalian tdk sia2. Bangga,syukur & ber-juta2 perasaan bila engkau sdh brd disana. Wassalam
Selepas tawaf wada’ pada 1425 Hijriyyah, kutengadahkan tanganku di depan pintu rumahMu, memohon kepadaMu, sudi kiranya Engkau panggil aku kembali ke sini, ke dalam rengkuhan pelukMu, ya Robbal ‘alamin.
Ya Allah, permudah jalanku dan isteriku untuk kembali menjadi tamuMu. Amiin.