Sembilan Rute Transportasi Disiapkan

4 November 2009 | Kategori: Angkutan Haji

bus-makkahMAKKAH — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji menyediakan sembilan rute angkutan transportasi bagi jamaah calon haji Indonesia dari pemondokan menuju Masjidil Haram. Kesembilan rute itu akan dilayani 315 bus dengan lima sampai enam rit untuk masing-masing waktu shalat.

Demikian penjelasan Kepala PPIH Daerah Kerja Makkah, Subakin AM, saat melakukan peninjauan ke Terminal Kudai, Makkah, Ahad (1/11). Menurutnya, ada 32 titik naik-turun penumpang yang telah disiapkan. ””Di Masjidil Haram kita siapkan empat titik naik turun penumpang,”” tambahnya.

Keempat titik itu adalah di Jiad, Ja”fariyah, Bab Ali, dan Misfalah. Rute Masjidil Haram-Sektor 1 pemberhentiannya di Bab Ali. Ja”fariyah melayani rute menuju sektor II, VI, dan XI; Jiad melayani rute dari dan ke sektor III, IV, V, VII, dan VIII; dan Misfalah melayani rute dari dan ke sektor IX.

Masing-masing bus berkapasitas 45 jamaah dengan dua sopir. Bus-bus itu, kata Subakin, akan beroperasi selama 24 jam. ””Namun, lebih ditekankan per waktu shalat,”” tambahnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini urusan transportasi jamaah selama di Makkah diserahkan pada pihak Muasassah (konsorsium penyelenggara haji). Selain menyediakan bus dan sopirnya, pihak Muasassah juga wajib memasang stiker agar mudah dikenali jamaah.

Berdasarkan pemantauan Republika, masalah transportasi memerlukan penanganan yang serius. Sampai H-1 menjelang kedatangan jamaah di Makkah, pihak Muasassah belum memasang stiker untuk memudahkan jamaah mengenalinya.

Selain itu, kendala bahasa antara sopir-jamaah juga menjadi persoalan yang tak bisa diremehkan. Hampir seluruh sopir bus yang disewa Muasassah berasal dari Mesir dan Suriah. Untuk mengantisipasi kendala komunikasi karena sopir bus-bus itu sebagian besar berasal dari Suriah dan Mesir yang tidak bisa berbahasa Indonesia, petugas-petugas PPIH akan ditempatkan di setiap terminal. Direncanakan akan ada 32 terminal sebagai tempat naik-turun jamaah.

Masalah lain adalah pada titik pemberhentian Ja”fariyah dan Jiad. Berbeda dengan titik pemberhentian Bab Ali dan Misfalah, di kedua terminal ini menumpuk tiga dan lima rute. Tanpa adanya stiker yang mudah dikenali jamaah, maka kemungkinan salah rute akan sangat besar.
Namun, Subakin menjanjikan, di tiap titik pemberhentian akan diawasi oleh petugas dari bagian transportasi PPIH dan Muasassah. ””Kami sudah menyiapkan mekanisme pengawasan agar bus-bus itu menepati rutenya,”” tambah Subakin.

Saat ini, pihaknya mengaku masih menyiapkan armada feeder untuk mengantar-jemput jamaah yang lokasi pemondokannya berada di wilayah yang tak terjangkau bus. Pasalnya, dalam klausul perjanjian dengan Muasassah tidak disebutkan hal itu.

Sementara, sejak Ahad (1/11) secara berangsur-angsur jemaah haji Indonesia mulai memasuki kota Makkah. Dari hasil pantauan ke terminal bus yang disediakan Muasassah untuk pengangkutan jemaah haji, baru tersedia 18 buah bus.

Mulai Ahad (1/11), diperkirakan sekitar 6.000 jamaah mulai memasuki kota Makkah setelah sebelumnya mereka berada di Madinah selama sembilan hari untuk melakukan ibadah shalat arbai dan ziarah. Subakin mengakui, jumlah bus yang baru 18 itu dikhawatirkan tidak mencukupi untuk mengangkut seluruh jamaah. Karena itu, pihaknya terus mendesak Muasassah agar menambah bus.

””Sesuai kontrak, pihak Muasassah bus akan ditambah terus seiring dengan penambahan jamaah yang masuk Makkah dari hari ke hari, hingga peak season nanti mencapai 315 bus,”” ujar Subakin.  mch ed: maghfiroh yenny/yto

Artikel Terkait:

Komentar