Amirul Haj: Optimalkan Layanan Haji
16 November 2009 | Kategori: Haji
JEDDAH–Sekjen Departemen Agama Bahrul Hayat selaku Amirul Haj meminta Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) memberikan layanan optimal kepada jemaah calon haji yang berada di Tanah Suci untuk melaksanakan rukun Islam kelima. “Saya kira tidak ada masalah yang berarti, yang penting upayakan pelayanan seoptimal mungkin pada tamu-tamu Allah,” kata Bahrul di Jeddah, Senin.
Menurut dia, tentu saja masih tersisa masalah-masalah kecil, baik internal maupun eksternal, dalam pelaksanaannya di lapangan yang perlu diperbaiki atau dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait.
Masalah internal, antara lain pengetahuan calon haji dan petugas yang minim karena baru sekali naik haji, latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, ditambah lagi dengan usia yang rata-rata sudah lanjut.
Sedangkan masalah eksternal, menurut dia, misalnya mengenai perubahan kebijakan oleh pemerintah setempat atau koordinasi dengan penyelenggara pelayanan lokal yang perlu ditingkatkan lagi. Contohnya, mengenai pemondokan jemaah, menurut dia, PPIH telah mencadangkan satu persen tambahan penyewaan pondokan di Mekah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya pekembangan baru di lapangan.
Menurut catatan, tahun ini PPIH menyewa 407 pemondokan bagi sekitar 196.100 jamaah reguler, 115 yang diperuntukkan bagi 52.500 (26,4 persen) berada di Ring 1 (berjarak maksimal dua km dari Masjidil Haram) dan 292 lagi di Ring 2 (berjarak maksimal tujuh km dari Masjidil Haram untuk 143.600 jamaah (73,4 persen).
Antisipasi mengenai sewa pemondokan di Mekah menjadi agak terganggu akibat keluarnya kebijakan baru pemerintah Arab Saudi yang mengharuskan pondokan berlantai tiga ke atas memiliki tangga darurat.
Akibatnya, PPIH terpaksa mencari pemondokan pengganti untuk menggantikan pemondokan yang tidak memenuhi persyaratan baru tersebut. Sejauh ini PPIH telah berusaha mencarikan pemondokan pengganti yang lokasinya berdekatan dengan pemondokan bagi jamaah Indonesia lainnya, namun belum dikonfirmasi lagi apakah jumlahnya sudah mencukupi.
Menurut Sekjen, mengenai masalah penyediaan pemondokan, sejauh ini lancar-lancar saja, kecuali masalah klasik yang masih terjadi sepanjang tahun misalnya keluhan sempitnya kamar, terbatasnya lift dan toilet atau kamar mandi.
Tentang masalah makan pada acara puncak di Padang Arafah nanti, ia juga sudah meminta PPIH untuk berkoordinasi dengan para maktab (penyelenggara layanan haji setempat) guna mengantisipasi kemungkinan terburuk, dengan menyiapkan cadangan makanan dan juga tambahan meja-meja tempat penyediaan makanan agar jemaah tidak saling berebutan.
Sejak beberapa tahun ini, hidangan untuk jemaah di Armina diberikan dengan prasmanan, mengingat dengan nasi kotak yang diberlakukan sebelumnya, sejumlah jamaah tidak kebagian
jatah.
Selain itu, dengan sistem prasmanan, kualitas hidangan yang disajikan mudah terlihat, walaupun dalam penyajiannya nanti harus diatur agar jamaah yang makan belakangan tidak kehabisan.
Sebanyak 70 maktab akan mengurusi antara 2.500 sampai 3.000 jemaah calon haji reguler Indonesia (dulu ONH) yang berjumlah sekitar 196.100 orang.
Di Padang Arafah
Mengenai penempatan jamaah di tenda-tenda di Armina (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), menurut Sekjen, biasanya lokasinya tidak berubah sepanjang tahun, jadi tidak ada masalah.
Mengenai layanan “shuttle bus” dari pemondokan ke Masjidil Haram yang dikeluhkan jamaah, Sekjen mengakui hal itu memang dilematis, karena pihak Arab Saudi lepas tangan, sementara PPIH karena keterbatasan tidak mampu mengelolanya sendiri.
Jamaah mengeluh karena sering harus menunggu berjam-jam di halte sebelum bus tujuan Masjidil Haram datang. Hal itu terjadi karena pengemudi bus yang sebagian besar berkebangsaan Syria atau Mesir tidak disiplin dan sering mangkir dari jadwal tugasnya.
Menanggapi hal itu, Sekjen akan meminta PPIH untuk mengawasi dan mencatat pelanggaran yang dilakukan dan meminta denda kepada pihak penyelenggara (muasassah) jika tidak bisa melaksanakan kewajibannya sesuai isi kontrak yang telah disepakati sebelumnya.
Prosesi puncak haji mulai berlangsung pada 26 November saat jamaah mulai bergerak dari Mekah untuk wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah (26 Nov), dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah mulai 10 Zulhijah dan tiga hari setelah itu. Ant/yto

Komentar