Gumilar Rusliwa Somantri Ujian Kepasrahan dan Kemantapan Hati

16 November 2009 | Kategori: Pengalaman Haji

gumilar-rusliwa-somantriOleh  EH Ismail Lazarde

Kata orang, mereka yang bisa melaksanakan ibadah haji adalah orang-orang yang memang ”dipanggil” Allah SWT. Betapapun, kemampuan fisik dan biaya untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut tidaklah tercapai bila Allah SWT belum memperkenankannya. Ada saja kendala dan rintangan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.

Inilah yang dialami Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri. Dua kali mendaftar sebagai calon jamaah haji Indonesia, dua kali pula mantan Dekan Fisip UI ini gagal berangkat haji.

Pada musim haji tahun 2002 silam, Gumilar mendaftarkan diri sebagai calon haji. Dia mendapatkan nomor. Namun, Gumilar terpaksa menunda keberangkatannya karena bertepatan dengan hari wisuda mahasiswa Fisip UI. Saat itu, baru tahun pertama dirinya menakhodai Fisip UI.

“Selaku dekan baru saat itu, mau tidak mau saya harus mengalah dan ikut prosesi wisuda mahasiswa Fisip,”” imbuh Gumilar kepada  Republika . Lima tahun berselang, niatan Gumilar untuk berhaji tak lekang dimakan waktu. Dia dan sang istri, Nenden Wasita Kusumah, mengawali tekad berhaji dengan melakukan umrah pada pertengahan 2007.

””Ibarat memancing, saya dan istri berdoa supaya bisa berhaji tahun itu juga,”” ujarnya. Ketika itu, Gumilar menceritakan, sang istri memanjatkan doa agar bisa berhaji dan menginap di salah satu hotel yang dekat dengan Masjidil Haram. ””Biar mudah pulang-pergi ke Ka”bah,”” katanya.

Sepulang umrah, Gumilar dan istri mendaftarkan diri melalui jalur haji khusus (ONH Plus). Semua biaya yang dipersyaratkan pun dibayar tunai. Pada Agustus 2007, Gumilar terpilih menjadi rektor UI. Statusnya pun cukup membanggakan, rektor termuda sepanjang sejarah UI.

Namun apa hendak dikata, Gumilar dan istri terancam tak bisa berangkat. Kuota haji khusus untuk Depok, tempat Gumilar mendaftarkan diri, terbatas untuk 110 orang. Hal yang mengecewakan lagi, Gumilar dan istri terdaftar di nomor urut 111 dan 112.

Obsesi yang tinggi membuat Gumilar mencari cara alternatif. Dengan label rektor yang melekat pada dirinya, Gumilar mencoba meminta bantuan kepada teman-temannya. Mulai dari aparatur di Pemkot Depok sampai pejabat di Departemen Agama. ””Tapi, karena waktunya  mepet , ya tetap tidak bisa.””

Bulan pun berganti September. Jamaah haji Indonesia mulai diberangkatkan ke Tanah Suci. Gumilar pasrah. Sang istri diberi pengertian agar bersabar dan terus memantapkan hati. Insya Allah, katanya, kalau memang Sang Mahakuasa berkenan memanggil, pasti ada jalan untuk berhaji.

””Kalaupun waktunya belum sekarang,”” ucapnya kepada istri saat itu. Memendam kesedihan menyaksikan jamaah haji yang diberangkatkan ke Tanah Suci, Gumilar menjalankan rutinitas sebagai seorang rektor. Kala itu, ada rencana pembangunan Masjid At-Tauhid Arif Rahman Hakim di kampus UI Salemba. Siapa menyangka, Gumilar justru mendapat ”jalan panggilan” melalui rencana pembangunan masjid tersebut.

Bertempat di Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU) UI, kampus Depok, ada penyerahan bantuan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk pembangunan masjid UI. Bantuan sebesar Rp 5 miliar diserahkan langsung Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi, Ibrahim bin Sulaiman An Nughaimsyie.

Sewaktu memberikan bantuan, Gumilar ditanya Syekh Ibrahim apakah dia sudah naik haji atau belum. “Begitu saya jawab belum, Syekh Ibrahim menawarkan saya untuk berhaji tahun itu juga dengan undangan khusus Raja Abdullah bin Abdul Aziz,” ungkap pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Maret 1963, gembira. Tawaran Syekh Ibrahim disambut Gumilar dengan sukacita. Terlebih undangan dari Pemerintah Arab Saudi juga diberikan kepada sang istri tercinta.

Gumilar merasa, undangan berhaji dan rencana pembangunan masjid UI adalah sarana yang diberikan Allah SWT untuk menyampaikan panggilan-Nya. ””Saya seakan tidak percaya. Selain dua kali gagal berangkat, undangan berhaji tahun itu waktunya sudah  injury time . Kurang dari sebulan sebelum Hari Raya Idul Adha,”” papar Gumilar.

Dia menambahkan, jika saja tidak ada undangan dari Kerajaan Arab Saudi dan pembangunan masjid UI, mungkin dirinya masih harus menunggu dua atau tiga tahun lagi untuk berhaji. Hal yang lebih membuatnya takjub, Gumilar dan istri menginap di hotel yang dekat sekali dengan Masjidil Haram. ””Seperti doa istri saya waktu umrah.””

Karenanya, ketika di depan Ka”bah, Gumilar tak henti-henti memanjatkan syukur dan berdoa kepada Allah SWT. Dia berdoa agar bangsa Indonesia senantiasa selamat dan sejahtera. Tak lupa pula, ia meminta untuk kemajuan pendidikan dan UI, serta kebahagiaan keluarganya. ””Saya pun semakin merasa, sebagai manusia kita sejatinya sangat kecil dan tidak memiliki arti kecuali bisa memberi manfaat bagi orang lain,”” tandas Gumilar.  ed: m as”adi/yto

Artikel Terkait:

Komentar