Pengurangan Penerbangan Belum Menolong Kelancaran Pemulangan Haji
6 December 2009 | Kategori: Berita
JEDDAH–Sekalipun sudah cukup banyak pengurangan jumlah penerbangan dari Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah, tetapi masih juga belum bisa menolong kelancaran pemulangan jamah haji, termasuk jamaah dari Indonesia.
pengelola Bandara KAA, Bin Ladin Group, tahun ini sudah mengantisipasi persoalan padatnya penerbangan. Demi kelancaran penerbangan pemulangan haji ke seluruh penjuru dunia, penerbangan internasional reguler untuk memberi prioritas penerbangan haji sudah dikurangi dari tahun lalu 215 penerbangan kini menjadi 114 penerbangan setiap hari.
Namun pengurangan jumlah penerbangan tersebut belum bisa menjamin kelancaran pemulangan jamaah haji, sehingga masih ada jamaah yang harus menunggu lebih dari dua jam dari jadwal. Salah satu jamaah yang mengalami nasib kurang beruntung adalah jamaah Kloter 3 Batam.
Seharusnya jamaah ini sudah diterbangkan Jumat 4 Desember 21.05 Waktu Arab Saudi (WAS). Namun sampai Sabtu sore belum diterbangkan. Menurut salah satu ofisial dari penerbangan Saudia di KAA, jamaah ini sudah mendapat penanganan sebagaimana mestinya. Sesuai ketentuan jika terlambat lebih empat jam, mereka harus diinapkan ke hotel dan mendapatkan akomodasi, makan dan minum.
Persoalan tersebut juga menyentuh jamaah Indonesia lainnya, yaitu Kloter 10 dan 11 Surabaya. Kloter 10 ini membawa 448 jamaah asal, Bojonegoro, Situbondo, Malang dan Kota Batu, termasuk seorang jamaah tanazul (pulang lebih cepat) karena menderita sakit stroke ringan.
Kloter 10 SUB seharusnya terbang pukul 05.00 WAS, tetapi sampai pukul 13.30 belum juga diterbangkan. Mereka dijanjikan pukul 17.00 akan diterbangkan. Sambil menunggu waktu, mereka ditawari untuk diinapkan ke hotel. Namun para jamaah tidak bersedia dipindahkan ke hotel. Mereka lebin senang di Bandara KAA,” kata Ketua Kloter 10 SUB, Moch Maqfur Chotim. “Saya sendiri berasumsi, janji Saudia menerbangkan setelah pukul 17.00, bukan jaminan,” kata Maqfur Chotim.
Kesepakatan anggota kloter itu ternyta juga menjamin suasana nyaman. Ada beberapa jamaah ingkar. Sekitar cpukul n15.30 WAS suasana menjadi riuh dan mengundang perhatian beberapa jamaah lain. Sejumlah jamaah tidak peduli kesepakatan, berteriak protes kepada Departemen Agama, bukan kepada pihak Saudia yang seharusnya memberangkatkannya.
Penerbangan padat
Pihak Saudia, melalui salah satu petugasnya di Bandara KAA saat dikonfirmasi, menyatakan keterlambatan pemberangkatan tersebut karena adanya faktor teknis di lapangan, bukan ada kerusakan pada pesawat.
Petugas yang tidak mau disebut jati dirinya itu menekankan bahwa padatnya arus penerbangan, terbatasnya tempat parkir pesawat, terbatasnya gate, serta ketatnya pemeriksaan barang bawaan merupakan matarantai keterlambatan pemulangan jamaah.
“Satu sama lainnya saling terkait, tetapi kami menjamin tidak ada kerusakan pesawat sehingga pemulangan jamaah terhambat,” katanya kepada sejumlah wartawan Indonesia.
Sementara itu dari operasional pesawat garuda dalam pemulangan haji menurut “Haji Duty Manajer” Garuda Jeddah, Ali Mahmudi, selalu on time.
“Kalaupun ada jamaah yang menunggu satu sampai tiga jam untuk terbang, itu bukan keterlambatan, melainkan hal yang biasa. Sebab mobilitas di Bandara KAA ini cukup tinggi,” jelasnya.
Sedangkan salah seorang petugas teknis keberangkatan penerbangan haji, Gunadi menjelaskan, faktor utama terjadinya keterlambatan pemberangkatan haji, karena keterbatasan gate dan tempat parkir pesawat.
Menurut sumber dari kalangan Garuda Daker Jeddah yang memiliki akses ke sarana dan prasarana Bandara sampai landasan pacu, mobilitas kendaraan (bus pengangkut jamaah) maupun bagasi cukup tinggi, satu sama lain sudah diatur sedemikian rupa, tetapi karena kepadatan luar biasa, dan adanya pembatasan bus pengangkut jamaah tiap kloternya, membuat panjang antrean buas tadi kut mempengaruhi kelancaran kedatangan pesawat maupun saat akan tinggal landas.
Menurut jadwal pada Sabtu, dari Bandara KAA diterbangkan 16 kloter ke Tanah Air, Jakarta tiga kloter (JKS 10,11, JKG 5), Surabaya empat kloter (SUB 8, 10,9), Solo dua kloter (SOC 10,11) Ujungpandang (UPG 4), Batam (BTH 4), Banda Aceh (BTJ 3), Palembang (PLM 2), Banjarmasin (BDJ 3). mch/yto

Komentar