Ngadirah Paksakan Pulang Meski Retak Tulang

19 December 2009 | Kategori: Berita

BOYOLALI–Ngadirah (69), jemaah haji asal Kota Semarang, Jawa Tengah memaksakan ikut pulang dengan rombongannya kelompok terbang 46, meski kondisi tulang kakinya retak akibat mengalami kecelakaan tertabrak mobil di Arab Saudi.

Ngadirah merupakan jemaah haji warga Jalan Cerme Mrican Kota Semarang dan dia saat tiba di Bandara Adi Sumarmo Surakarta, Jumat (18/12) pukul 20:05 WIB dalam kondisi kaki kanannya digips serta harus dibantu dengan alat penyangga (kruk), kata Staf Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surakarta Zainal Abidin di Asrama Haji, Boyolali, Sabtu.

Menurut Zainal, jemaah haji tersebut seharusnya masih menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Arab Saudi, tetapi dia tetap meminta ingin pulang bersama rombongannya kloter 46.

Sementara menurut Ngadirah, kecelakaan yang menimpa dirinya terjadi pada tanggal 4 Desember 2009 pukul 13:00 waktu setempat atau empat hari sebelum berangkat menuju Madinah untuk melaksanakan ibadah arbain. “Saya tertabrak mobil di depan maktab daerah Syisyah sepulang shalat di Masjidil Haram,” kata Ngadirah setibanya di Asrama Haji Donohudan.

Sementara itu Yeni, salah satu putra Ngadirah merasa gelisah terus melakukan kontak dengan asrama haji untuk menanyakan jadwal kedatangan kloter 46 asal Kota Semarang yang juga membawa ibunya pulang ke Tanah Air.

Yeni kemudian mendapatkan izin masuk ke asrama untuk menjemput karena ibunya menderita sakit akibat kecelakaan di Mekah.

Jemaah yang ditunggu-tunggu memasuki asrama dengan ambulans dan dia langsung mendekat. Pelukan dan tangisan haru Yeni dan beberapa kerabatnya menyambut Hajah Ngadirah begitu keluar dari ambulans.

Menurut Yeni, kabar peristiwa kecelakaan yang menimpa ibunya sudah diterima beberapa hari sebelum kloter 46 tiba di Solo. Ibunya setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit dan dinyatakan fraktur (retak) pada persendian kaki kanan dan harus digips paling tidak selama satu setengah bulan.

Namun, ibunya ketika rombongan akan menuju ke Madinah, Senin (7/12), dia bersikeras untuk ikut jemaah meski harus menggunakan penyangga (kruk) dan mengajukan permohonan perawatan di Indonesia saja. “Tidak seberapa sakitnya mas, tetapi karena sudah umur, repot juga menggunakan kruk ini,” kata Ngadirah beralasan.

Zainal menambahkan, Satgas Bidang Kesehatan PPIH Surakarta sebenarnya akan merujuk Ngadirah ke RS Moewardi Solo, tetapi pihak keluarga yang menjemput merasa keberatan dan meminta akan dirawat di Semarang. “Ibunya lebih baik dirawat di Semarang saja, karena dekat dengan keluarga, meski fasilitas gratis selama tujuh hari di ditanggung PPIH harus hilang,” kata Yeni.

Sementara kedatangan jemaah haji kloter 47 asal Kudus di Bandara Adi Sumarmo Surakarta, Sabtu (19/12) pukul 12:47 WIB. Jemaah haji asal Debarkasi Surakarta yang sudah kembali ke Tanah Air hingga kloter 47 sebanyak 17.754 orang, sementara jemaah yang wafat sebanyak 55 orang. Ant/yto

Artikel Terkait:

Komentar