Koper Berresleting Dinilai Kurang Aman

27 December 2009 | Kategori: Berita

JEDDAH–Penggunaan koper berresleting untuk membawa barang jemaah haji Indonesia yang akan ditaruh bagasi dinilai kurang memberikan rasa aman. Koper jenis tersebut mempunyai kelemahan, sehingga gampang sekali dibuka pelaku tindak kriminal dengan menggunakan silet dan benda tajam lainnya.

“Walaupun digembok dengan gembok yang sebesar kepalan tangan pun, tetap aja bagian kain resletingnya bisa disobek dengan silet atau benda tajam lainnya. Bagasi kan diberangkatkan lebih dahulu, dan keluarnya belakangan, jadi bisa saja terjadi pencurian, karena kelemahan koper itu ,“ kata Koordinator Pelaksana Harian PPIH Arab Saudi H Gatot Abdullah Mansyur dalam Rapat Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2009 di kantor Teknis Urusan Haji R I di Jeddah, kemarin.

Gatot menyarankan agar phak penyelenggara haji Indonesia mulai memikirkan kopor yang aman bagi jemaah haji Indonesia, serta dapat dipakai lebih lama. “Saya usulkan kopernya yang hardcover. Kan banyak jenis koper yang seperti itu. Jadi selain aman juga awet pemakaiannya,“ katanya.

Dalam kesempatan tersebut Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Depag H Slamet Riyanto menyatakan akan mempertimbangkan berbagai usulan yang ada termasuk pengadaan koper yang representatif, karena prinsipnya Depag selaku penyelenggara haji ingin memberikan pelayanan dan rasa aman bagi jemaah haji Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama Slamet juga mengomentari tentang desakan agar seragam jemaah yang berwarna telur asin diganti. Menurutnya warna tersebut sebenarnya masih layak dipertahankan, karena benar-benar netral. “Pak Maftuh (Menag M Maftuh Basyuni-red) sering mengatakan di depan DPR kalau warna itu adalah warna yang netral, tidak sama dengan bendera-bendera parpol yang ada, juga dilihatnya cerah dan bersih. Tapi kalau ada usulan lain ya akan kita kaji. Kalaupun batik ya tidak bisa sembarang batik,“ katanya.

Menurutnya desain batik harus yang sederhana namun jelas dilihat. Batik yang bergambar wayang dalam ukuran agak besar misalnya, kurang cocok untuk dipakai di Masjidilharam. “Jangan sampai mau sholat nanti malah ditanya-tanya asykar, gambar apa ini kok gambar orang. Belum lagi kalau mengganggu orang yang sholat di belakang kita, karena lihat gambar wayang itu,“ kata pria asal Majenang, Kabupaten Cilacap tersebut. mch/yto

Artikel Terkait:

Komentar