Jamaah Non Kuota Menurunkan Citra Penyelenggaraan Haji Indonesia

2 January 2010 | Kategori: Haji

Suryadharma Ali

Suryadharma Ali

JAKARTA — Menteri Agama H Suryadharma Ali mengatakan keberadaan jamaah haji non kloter sangat mengganggu konsentrasi petugas haji, bahkan dapat menurunkan citra penyelenggaraan haji Indonesia. Tercatat 3.750 jamaah non kuota dan rata-rata mereka terlantar di Arab Saudi. Upaya yang harus dilakukan ke depan adalah bagaimana menekan munculnya jamaah non kuota ini.

“Keberadaan jamaah non kuota telah mencoreng citra bangsa Indonesia. Kejelekkan yang mereka sandang, berdampak pada citra haji Indonesia. Karena mereka dari Indonesia, maka orang lain menilai penyelenggaraan haji Indonesia kurang baik. Oleh karena itu, ke depan harus kita tekan, syukur-syukur bisa kita nol kan,” kata Menag ketika menjemput kloter 49 JKG Jakarta Pondok Gede di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Jumat (1/1).

Munculnya jamaah non kuota ini bermula dari banyaknya jamaah haji yang menjadi waliting list (calon jamaah haji daftar tunggu). Calon jamaah haji waiting list ini sudah mencapai 840.000 orang. Mereka secara urut akan diberangkatkan ke tanah suci mulai tahun 2010 dan seterusnya. Bagi mereka yang tidak ingin menunggu, mengambil jalan pintas dan ingin berangkat cepat dengan perantaraan orang lain. Artinya tidak melalui pendaftaran di Departemen Agama, sehingga nama mereka tidak terdaftar baik pada jamaah haji regular maupun ONH Plus (BPIH Khusus).

“Jadi, khusus untuk jamaah non kuota ini, kami akan mengkaji ulang dan bekerjasama dengan Kementerian Hukum dan HAM. Sampai imigrasi bisa ditolak, sehingga mereka tidak berkesempatan lagi,” kata Menag. Menag mengatakan Secara umum pelaksanaan ibadah haji mengalami kemajuan dan sukses, seluruh jamaah menunaikan wukuf di Arafah. Hanya ada sedikit yang komplain.

Menag mengakui, masih ada kekurangan dalam pelayanan jamaah haji Indonesia. Namun demikian tidak ada maksud untuk meremehkan pelayanan dan tugas. “Ini tugas berat, karena melayani 210.000 orang, tentu semua tidak sama, tidak mungkin bisa melayani dengan baik, jadi ada yang terpuaskan atau tidak terpuaskan,” katanya.

Ia mengatakan, jamaah haji yang masih tinggal di Arab Saudi dan dirawat di rumah sakit yang oleh dokter belum diizinkan kembali ke tanah air sebanyak sembilan orang, tujuh orang di Makkah dan dua orang di Madinah. Selama jamaah haji dirawat di RS Arab Saudi menjadi tanggungjawab pemerintah, apabila jamaah dinyatakan sembuh pemulangan ke tanah air juga menjadi tanggungjawab pemerintah.

Mengenai pemondokan yang masih dikeluhkan jamaah, Menag mengatakan pemondokan tahun ini di Makkah jarak ke Masjid Haram paling jauh 7 km. “Tahun 2010 kami mengupayakan jarak terjauh pemondokan ke Masjidil Haram 4 kilometer,” tandas Menag.

Menag juga menyatakan, hanya 120 penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK) yang memenuhi syarat dan mampu memberangkatkan jamaah ke Arab Saudi pada musm haji tahun 2009.

“Dari 220 penyelenggara haji khusus hanya 120 (PIHK) bisa berangkatkan (jemaah) dengan jumlah minimum 50 orang,” kata Menag. Menurut Menag, ada kemungkinan sebagian PIHK juga melakukan penggabungan dalam memberangkatan jamaah haji khusus ke Arab Saudi. “Dari yang 120 (PIHK) tidak ada yang memberangkatkan diatas 500 jamaah,” ungkap Menag.

Pada musim haji tahun 2009, jamaah haji Indonesia yang berangkat ke Arab Saudi sebanyak 206.368 orang, terdiri jamaah reguler 189.359 orang dan jamaah haji khusus 17.009 orang.

Menag mengatakan secara umum pelaksanaan ibadah haji berlangsung lancar dan sukses. “Alhamdulillah pelaksanaan haji tahun 2009 ada kemajuan dan sukses,” ucapnya.  mch/yto

Artikel Terkait:

Komentar

5 Responses to “Jamaah Non Kuota Menurunkan Citra Penyelenggaraan Haji Indonesia”

  1. Febby on January 4th, 2010 3:02 pm

    Masukan buat bapak-bapak pengurus haji : pd waktu haji kemarin, makan pagi di mina hanya nasi dan kuah saja plus buncis rebus. Kondisinya sangat mengenaskan, apakah memang demikian standar makanan yg telah bapak-bapak bayar utk jamaah haji Indonesia? Adakah bapak-bapak pengurus yg sdh diamanahkan mengurus jama’ah haji tahu tentang hal ini ? Bapak-bapak tentunya sangat paham bahwa kondisi kita di mina perlu asupan gizi yg cukup karena kita sdg melakukan ibadah yg sangat erat kaitannya dg fisik. Mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan, bukan berlomba-lomba menyengsarakan jama’ah haji.

  2. akhmad basuki on January 4th, 2010 3:49 pm

    Ass. pak menteri agama yg baru
    saya jamaah haji kloter 38 banten alamat taman cilegon blok c11/11 HP 08129932456 sy pingin menunjukkan bukti bukti bahwa pelayanan haji sekarang tdk lebih baik dari th 2005

    Sedih sekali jk sy melihat saodara2 yang usia tua HANYA BISA KE HAROM seminggu sekali krn tdak bs berebut naik bus SAPTCO di terowongan belum lagi naik bus indonnesia yg disopiri orang mesir dan sama sekali tidak bisa bahasa indonesia kemudian petugas haji indonesia yg aras2en krn gaji yg rendah sehingga saya menangis kasihan jk melihat kejadian ini tiap hari.

    Sudah hari yg kelima teman2 saya ndak berbicara ibadah tapi berbicara tentang tersesatnya tatkala pulang ke maktap 552 ajiziah ja’fariah .

    Belum lagi kasih makanannya sangat keterlaluan kita dapat pelayanan makan di mina tgl 28 nov.2009

    PAK MENTERI SAMPAI KAPAN PELAYANAN INI AKAN BERUBAH PAK ? ….. NDAK USAH NIRU MALAYSIA KITA NIRU BANGLADES AJA PAK UDH CUKUP ….walau maktap jelek tapi dekat masjidil harom ini cita2 sebagian besar jamaah krn tidur dg AC fasilitas hotel bintang lima kami udh biasa tidur

    Nuhun wass.

  3. Aziz on January 5th, 2010 10:34 am

    Betul itu pak….hehe apanya yang betul..?

  4. Cak Sulais on January 5th, 2010 4:26 pm

    Perbaiki dulu pelayanan haji secara menyeluruh, baru boleh menyalahkan yang lain. Haji Non Kuota kan tidak melanggar undang-undang, mereka hanya tidak melalui pintu Depag. Sedangkan visa tetaplah visa haji (calling visa) dari Kedubes Saudi, apalagi paspornya sekarang memakai paspor hijau semua. Apakah Depag akan mengajak Depkumham untuk melanggar HAM dengan menolak paspor keberangkatan yang telah lengkap dan sah?

  5. usman akiki on July 4th, 2010 10:54 pm

    untuk mengurangi antrian panjang witinglis calon haji,
    1. tutup dahulu pendaftaran calon haji yang baru.
    2. berangkatkan seluruh yang sudah punya porsi secara bertahap dan sesuai kuota.
    3. pikirkan kembali bentuk pendaftaran yang lebih bagus dan tidak ada yang dirugikan, karena saya rasakan lebih baik pada jaman dahulu dimana begitu diumumkan dan dibatasi waktu penyetorannya, maka masyarakat akan menyadarinya manakala tidak berangkat karenaa tidak menyetor biaya pada waktunya.
    4. kalau begini terus daya hawatir hal ini menjadi bom waktu yang manakala masyarakat sudah merasa jenuh, dia akan meletus dan bergerak bagaikan dinamo, bisa positif tapi juga bisa negatif.