Jemaah Haji Masih Keluhkan Pelayanan

7 January 2010 | Kategori: Berita

Naik-BusYOGYAKARTA–sejumlah haji dari Kota Yogyakarta pemberangkatan 2009 masih mengeluhkan pelayanan yang diberikan pemerintah pada pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci.

Beberapa keluhan yang disampaikan oleh jemaah haji pada acara penyambutan kedatangan haji oleh Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto di Balai Kota Yogyakarta, Rabu, di antaranya adalah masalah makanan, transportasi, pemondokan dan eksklusivitas yang terjadi pada jemaah haji dalam sebuah kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) yang sama. “Pada saat di Tanah Suci, jemaah haji lebih mementingkan kelompok mereka sendiri meski tergabung dalam KBIH yang sama sehingga unsur kekompakan sangat kurang,” kata haji Abi Dzarin.

Ia mengusulkan KBIH dibubarkan saja karena sikap-sikap tersebut justru memicu munculnya kecemburuan di antara jemaah haji.

Sementara itu, Ketua Kloter 17 Yogyakarta Lukman Hakim menyatakan bahwa penyelenggaraan ibadah haji selama di Tanah Suci sudah cukup baik, terutama pada kloter yang dipimpinnya termasuk dalam hal makanan, transportasi, pondokan dan kekompakan jemaah. “Jika ada yang mengeluh masalah katering dan transportasi, kemungkinan besar mereka tergabung dengan jemaah dari daerah lain seperti DKI Jakarta,” katanya.

Jemaah dari DKI Jakarta, lanjut dia, memperoleh fasilitas tambahan dari pemerintah provinsi mereka seperti makanan saat di pondokan dan transportasi selama di Mekah dan Madinah.

Jemaah haji secara umum hanya mendapatkan makan ua kali sehari saat di Madinah dan di perjalanan serta di tempat transit dengan biaya yang melekat pada biaya pembayaran ibadah haji.

Kesan eksklusif jemaah haji yang tergabung dalam KBIH, lanjut Lukman, tergantung pada kondisi jamaah di lapangan yang sudah dibagi dalam rombongan sehingga yang bertanggung jawab adalah rombongan. “Perlu ada musyawarah antara jemaah haji sebelum melakukan suatu ibadah seperti saat wukuf,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta berharap seluruh jamaah haji dapat menjadi tokoh baru dalam masyarakat yang mampu memberi perubahan kepada keadaan di lingkungannya. “Jemaah haji ini bisa menjadi pemimpin di lingkungannya. Sayang sekali jika sudah berangkat haji, tetapi tidak mampu menjadi pemimpin. Gelar haji harus bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Pelaksanaan ibadah haji Kota Yogyakarta pada 2009 diikuti oleh 496 orang yang terbagi dalam tiga kloter. Ant/yto

Artikel Terkait:

Komentar