Kesuksesan Penyelenggara Haji 1430H Diganggu Masalah Jamaah Non Kuota

5 February 2010 | Kategori: Haji

sekjendepagbahrulhayatJAKARTA–Kendati secara umum penyelenggaraan ibadah haji tahun 1430 Hijriyah/2009 Masehi berjalan baik dan lancar, sehingga seluruh jamaah melakukan seluruh rangkaian ritual haji. Namun masih didapati sejumlah masalah yang harus diperbaiki sehingga para tamu Allah memperoleh pelayanan yang lebih baik.

Sekjen Kementerian Agama, Bahrul Hayat Ph.D selaku Amirul Haj tahun 1430H/2009 mengungkapkan bahwa salah satu masalah yang cukup mengganggu sistem dan pelayanan jamaah adalah kasus jamaah haji non kuota.

“Tahun 2009 kemarin, terdapat 3.700 jamaah non kuota, mereka sudah sampai tahapan mengganggu sistem pelayanan,” kata Bahrul saat menyampaikan paparan pada evaluasi haji penyelenggaraan haji tahun 1430H/2009M di Jakarta, Kamis (4/2) malam.

Akibat ulah jamaah non kuota itu, kata Bahrul, terdapat satu maktab di Mina diisi 280 orang. Walhasil, tenda menyempit dan makanan pun berkurang. “Baru diketahui setelah mereka menginap,” ungkap Bahrul.

Untuk mengatasi masalah tersebut lanjutnya, Tim Amirul Haj merekomendasikan antara lain, diharapkan Presiden RI kembali mengundang Raja Arab Saudi guna menyampaikan berbagai rencana Pemerintah RI dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggara ibadah haji.

Selain itu melakukan langkah pencegahan jamaah haji non kuota dengan Pemerintah Arab Saudi dan Kementerian Hukum dan HAM. “Jamaah tidak memperoleh visa kalau tidak diberikan, karena itu perlu mengendalikan jamaah non kuota kketika jemaah belum keluar dari Indonesia.”

Mengenai masalah transportasi, Sekjen mengungkapkan masih terdapat masalah keterlambatan atau delay. Pada penerbangan haji yang mendarat di bandara Amir Muhammad Madinah sebanyak 139 kloter, ada 115 kloter on time, 12 kloter lebih cepat dan 12 kloter delayed. Penerbangan haji yang mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah sebanyak 112 kloter, 89 kloter on time, 7 kloter lebih cepat dan 16 kloter delayed

“Rekomendasi kami adalah meningkatkan on time performance penerbangan dan pemberian sanksi secara eksplisit dalam kontrak,” kata Bahrul.

Sedangkan pelayanan kesehatan selama di Arab Saudi dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan melalui koordinasi dengan Kementerian Agama dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu: pelayanan kesehatan di kloter, klinik (balai kesehatan) dan di rumah sakit. Namun demikian menurut Amirul Haj, koordinasi pelayanan kesehatan belum optimal.

“Rekomendasi kami adalah meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan RI agar dengan menempatkan petugas Kementerian Agama dalam tim kesehatan,” jelasnya.

Tim Amirul Haj juga mengevaluasi peran Media Center Haji. Tim menilai MCH berfungsi cukup baik dalam menyampaikan informasi kepada publik di tanah air baik melalui media cetak maupun elektronik. “Pada musim haji tahun 2010 diharapkan ada kerjasama RRI dan Radio Saudi dalam meliput kegiatan haji. Selain itu meningkatkan sarana prasana MCH serta membangun sistem komunkiasi bagi jamaah haji dan petugas, papar Bahrul hayat.  mch/yto

Artikel Terkait:
  • No Related Post

Komentar