Ojek Sepeda Motor di Makkah Laku Keras selama Ramadhan
3 September 2010 | Kategori: Berita
MAKKAH–Perjalanan ke Masjidil Haram untuk menjalankan shalat lima waktu selama bulan ramadhan perlu sebuah perjuangan.
Selama ramadhan jalan-jalan kota di makkah penuh sesak, cara terbaik untuk mencapai Masjidil Haram adalah menggunakan sepeda motor yang dapat menembus kepadatan lalu lintas dan dapat melalui gang-gang sempit.
Fenomena ojek sepeda motor untuk mengantar para jamaah dari dan ke Masjidil Haram ini telah menjadi bisnis baru bagi banyak orang di Makkah. Mereka dapat mengantongi hingga SR150 per hari.
Para pengojek biasanya berkumpul disekitar Masjidil Haram, mereka menawarkan jasa pengantaran dengan sepeda motornya.
Ali Jameel adalah seorang pedagang yang memiliki toko di daerah Ajyad dekat Masjidil Haram. Kepada Arab News ia mengatakan bahwa sejak awal Ramadan dia akan memarkir mobilnya di daerah Al-Jin Mahbas, untuk menuju tokonya di dekat Masjidil Haram akan menggunakan angkutan umum dengan membayar SR5.
“Ini tidak masalah sampai pertengahan bulan Ramadan, setelah itu kemacetan akan terjadi dan menyulitkan mobil kecil untuk dapat mendekati Masjidil Haram,” katanya.
“Aku tidak punya pilihan lain selain melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Setiap hari para pengojek terus menaikkan tarifnya hingga SR 30 dari sebelumnya SR10 sejak awal bulan puasa.”
Jameel berpendapat tarif akan terus naik selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, dimana banyak jamaah dari dalam dan luar kota Makkah yang berdatangan ke Masjidil Haram.
“Saya tidak memiliki pilihan. Saya harus membayar tarif berapapun tingginya. Ini adalah satu-satunya cara saya bisa mencapai toko saya dan kembali lagi ke mobil saya,” katanya.
Mutassim Rizq, seorang jamaah yang mendengarkan percakapan Arab News ‘dengan Jameel di halaman Masjidil Haram, juga berbagi pengalaman.
Dia bilang, dia datang dari Jeddah dan memarkir mobilnya di lapangan parkir Al-Rusaifah. Dari sana dia menggunakan jasa ojek sepeda motor untuk mengantarkan ke Masjidil Haram dan sekaligus menjemputnya untuk kembali ke mobilnya.
“Saya harus membayar SR55 untuk perjalanan pergi pulang ke Masjidil Haram dari tempat parkir kendaraannya. Saya sekarang sedang menunggu untuk dijemput, dan membayarnya setengah saya sampai ke mobil saya,” katanya.
Hassan Youssef, jamaah lainnya, dia datang dari Taif dan memarkir mobil di lapangan parkir Al-Sharaia. Dari sana dia naik angkutan umum ke Masjidil Haram, tetapi ketika tiba di daerah Al-Hijoun terhenti karena padatnya lalu lintas.
“Saya pikir saya akan berjalan sepanjang jalan ke Masjidil Haram, tapi orang-orang mengatakan bahwa itu terlalu jauh. Mereka menyarankan saya untuk naik ojek sepeda motor saja.
“Saya harus membayar SR25, dan ini adalah pengalaman saya pertama kali dalam hidup saya naik sepeda motor. Dia meminta saya untuk tidak takut dan memegang erat-erat.. Saya lakukan apa yang dia minta sampai saya tiba dengan aman di Masjidil Haram. ”
Abu Hilal, yang memiliki sepeda motor, mengatakan selama bulan Ramadhan ia dapat mengumpulkan uang lebih dari SR2.700.
“Ini merupakan sarana transportasi yang baik bagi jamaah ke dan dari Masjidil Haram. Saya membuat mereka lebih nyaman,” katanya.
Muhammad Kano, adalah salah seorang yang dapat memberdayakan sepeda motor selama musim puncak di Makkah. Ia memulai usaha ini sekitar empat tahun yang lalu. Dia kini memiliki sembilan sepeda motor. Dia membeli motor bekas pakai seharga SR500 setiap motornya. Dan motor-motor itu diojekkan dengan membayar pengojeknya sebesar SR1,000 pada akhir bulan.
“Saya dapat memperoleh keuntungan SR 500 untuk setiap motornya, dan SR 4.500 untuk sembilan motor,” tambahnya.
Kata Kano, ojek sepeda motor adalah sarana transportasi terbaik untuk mengangkut para jamaah, dan ini adalah bisnis yang baik di Makkah, khususnya selama bulan Ramadan ketika mobil dilarang masuk disekitar Masjidil Haram. Sumber : Arabnews /Slamet Riyanto

Lha ternyata sama juga di Indonesia, dekat lebaran ojek bertebaran dan bayare juga niak niak ke puncak gunung