Niat Baik tak Selalu Diterima Orang

21 October 2011 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Tahun 1995, saya kepingin sekali bisa naik haji sampai-sampai saya menangis. Saat itu, ONH belum ada di tangan. Alhamdulillah, pada tahun 1996 atas izin dan ridho Allah SWT, dengan jalan yang tak terduga, kami berdua (saya dan suami) bisa melunasi ONH.

Menyadari  uang dan bekal yang pas-pasan, saya mempelajari manasik secara intens selama sembilan bulan agar bisa menjadi calhaj mandiri selama berada di Tanah Suci.

Dari berbagai studi pustaka, video, dan jurnal haji edisi tahun pertama yang diterbitkan oleh Republika ketika itu, saya membuat petunjuk praktis untuk calhaj mandiri, mulai dari persiapan di rumah, asrama haji, Jeddah, Madinah sampai tahapan akhir ritual haji di Tanah Suci. Ringkasan dan panduan praktis ini kemudian saya bagikan kepada teman-teman satu rombongan.

Salah satu hal yang saya anjurkan kepada teman (di luar ritual haji) ialah membawa sandal jepit lebih dari dua pasang untuk berjaga-jaga jika kita kehilangan sandal di masjid. Ini biar tidak usah repot beli sandal di Tanah Suci.

Anehnya, saya sendiri kehilangan sandal sampai tiga kali selama di Madinah saja. Suami saya mentertawakan musibah hilangnya sandal secara beruntun sampai tiga kali ini.

Besok subuh, gantian dia yang kehilangan sandal sampai dua kali dalam satu hari. “Ya..Allah.. kenapa ya… kami sering kehilangan sandal-sandal ini,” begitu saya mengaduh.

Teman-teman sekamar mentertawakan saya. “Makanya jangan sok tahu,” kata mereka, terutama jika saya mengingatkan untuk selalu hati-hati agar tidak melanggar wajib haji. “Awas, bisa kena dam lho!”, “Hati-hati, ojo gemampang lo”, dan sebagainya.

Tiga hari setelah wuquf, kami (saya dan suami) pindah kamar ke lantai empat Hotel Rawabi yang hanya berjarak kurang lebih 200 m dari Masjidil Haram (arah Babu Fattah/neon biru). Kamar ini ditinggal penghuninya, kloter l dari Surabaya.

Alhamdulillah ya Allah, kami yang hanya punya uang pas-pasan bisa mendapatkan fasiliatas haji plus sekamar hanya berdua sampai saat kepulangan kami ke Tanah Air dua minggu kemudian.

Mungkin ini hikmah saya yang selalu diejek teman sebagai orang yang sok tahu, tapi yang Maha Kuasa menilai lain. Subhanallah, wal Hamdulillah, wa Laailaahaillallahu Allahu Akbar.

T Rahmawati, jamaah haji 1996

Artikel Terkait:

Komentar

2 Responses to “Niat Baik tak Selalu Diterima Orang”

  1. hidayaturrahman on October 21st, 2011 8:15 pm

    sewaktu di mekkah saya awalnya saya tdk pernah kehilangan sandal jepit,sewaktu pulang dr masjid didekat pemondokan habis sholat ada teman saya yg kehilangan sandal jepit saya hanya tersenyum dan berkata dlm hati naruhnya sembarangan. subuh besoknya saya sholat ke masjidil haram sandal jepitnya saya letakan di rak tempat sandal /sepatu yg telah disediakan seperti biasanya.ketika saya pulang setelah saya cari-cari sandalnya tdk ketemu ketemu,akhirnya saya pulang keterminal bis dan kepemondokan tdk pakai sandal jepit.

  2. H.Sulistio on October 26th, 2011 2:39 pm

    Kejadian ini hampir sama seperti saya , tapi bukan kehilangan sandal, semua ini terjadi di lokasi Mina pada saat hari Nahar tgl 10 Zulhizah sampai tgl 12 zulhizah kebetulan saya dari Kab.Bandung sebagai Haji Mandiri. thn 2006. yang dikenal dengan Haji Kelaparan ?

    Selama di lokasi ARMINA jamah Indonesia tidak dapat jatah makan nasi, tapi makanan ringan bawa seperti roti dan biskuit dan sedikit buah Kurma, informasi bahwa para jamaah tidak usah bawa majkanan karena di Armina sudah disiapkan makanan kata petugas haji Indonesia 2 hari sebelum berangkat menuju Arafah. Setelah sampai diArafah katanya nanti jam 10 malam sdh masuk tgl 9 zulhizah akan diberi makan , tapi sampai esok pagi jam 8 pagi nasi belum ada bahkan sampai siang dan sesudah hutbah wukuf belum ada nasi sampai sore hari bahkan sampai di Musdalifah tidak dapat nasi, setelah mabit di Musdalifah kira kira jam 12.00 malam sudah masuk tgl 10 Zulhizah keita menuju mina sampai jam 03.00 baru turun dari bis baru dapat Nasi Dus dan langsung dimakan seperti mau Sahur saja, setelah itu jamaah melakukan Lempar Jumrah Aqobah, pada saat dibagikan nasi dus tadi panitya menitipkan nasi dus sebanyak 250 dus untuk jamaah haji dari KBIH Persis kab Bandung. dari subuh sampai esok hari tgl 11 zulhizah hari Tasyrik 1, jamaah KBIH Persis belum datang ketenda, bahkan sampai siang hari dan baru ketemu sore hari, nah itu yang namanya titipan nasi dus sebanyak 250.dus nasi masih dititipkan dan rombongan kami tidak berani mengambil karena bukan jatahnya, padahal jamah kami sudah kelaparan, yang namanya makan itu dapur umumnya gantian bila dapur umumnya ada di lingkingan kita , maka rt kita yang makan , tapi kalu dapur umum nya dilokasi lain maka lokasi itu yang dapat jatah makan, dilokasi kita gantian tidak dapat makan.

    Setelah ada perwakilan dari jamaah KBIH Persis datang saya sebagai ketua Regu mohon ijin itu ada jatah nasi dus sebanyak 250 dus apakah boleh kita makan, maka diijinkan silahkan saja ……. nasi sudah 2 hari basi atau tidak ya ? silahkan cek kepada rombongan apakah masih baik nasinya ,tidak basi atau masoh bisa dimakan ternyata ada sedukit yang basi kebanyakn masih bisa dimakan, setelah rombongan kami sebanyak 33 org sdh kebagian nasi dus tsb, maka saya umumkan ke pada jamaah lain, maklum hampir 2 hari tidak makan nasi, para jamaah haji yang belum makan silahkan datang ke tenda kami di jamaah haji Mandiri Kab. Bandung, sebelum saya bagikan nasi dus tsb saya katakan bahwa nasi dus ini sudah 2 hari jadi apa bila ada nasi yang basi jangan dimakan disimpan pada tempatnya , tetapi bila masih baik silahkan makan, nah pada saat itu seperti kita memberi daging Qurban kepada yang menerima pahaji saya minta lima dus saya minta 10 dus .saya minta ya macam macam, setelah nasi dus habis dibagikan saya melihat Istri dan teman satu regu menangis, saya tanya kenapa menangis ? katanya saya takut para jamaah yang diberi nasi melempar nasi kemuka saya karena dikira nasi dus itu basi, Alloh maha pengasih dan penyayang saya selamat dan aman tidak ada jamaah haji yang marah.
    Tidak beberapa lama datang seorang jamah wanita agak marah ? kenapa nasi basi diberikan , saya langsung jawab Buhajah saya sudah bilang bila nasi nya basi simpan pada tempatnya dan bila masih baik nasinya silahkan dimakan, akhirnya Bu haji tadi mengerti danbu haji langsung pergi meninggalkan tenda kita, apoakh selesai sampai disini tidak ? tidak berapa lama mungkin ada jamaah haji yang memberitahukan bahwa ditenda kami Mandiri Kab Bandung dibagikan nasi ke para Jamaah, maka saya tidak tahu dari Jamaah haji dari propindi mana datang pak Haji masih ada nasi ? saya jawab ada tapi nasi sudah basi ? karena memang kondisi lapar nasi basi tadi dibawa oleh jamaah tadi dan ludes habis titipan nasi dus sebanyak 250 dus tsb, saya dan jamaah lain berdoa Ya Alloh semoga nasi dus Basi yang dibawa jamaah tadi tidak menjadikan sakit atau penyakit bagi jamaah itu dan semoga menjadi sehat.

    Alhamdulillah dari mulai pembagian dus nsi tadi samapi esok tgl 12 Zulhizah waktu Solat Zuhur saya monitor tidak ada informasi dari panitya atau Jamaah yang lain , bahwa ada zjamaah yang sakit akibat makan nasi dus BASI. Alhamdulillah sampailah saya ke kembali keKota Makkah dan saya ambil Nafar awal tgl 12 zulizah 2006.

    Dari kesimpulan tadi saya ambil hikmahnya Betul bila kita sering memberi kepada orang belum tentu baik untuk dirinya, mungkin kita memberi pada orang lain apakah itu halal atau tidak maka Alloh berikan teguran kepada kita, contoh tadi ibu haji mengatakan nasi basi kok dibagikan ?????

    salam kepada seluruh JAMAAH HAJI iNDONESIA thn 2006 Alhamdulillah walau kita haji kelaparan kita dapat hari Wukuf Pas Pada Hari JUM’AT thn 2006