Haji sebagai Miniatur Keluarga

29 May 2009 | Kategori: Berita

Berhaji tidak hanya menjadi perjalanan rohani tetapi juga menjadi perjalanan yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang baik. Oleh karena itu, calon jamaah perlu memahami dengan sungguh-sungguh filosofi ibadah haji dan apa saja hal-hal yang harus dijadikan pegangan selama menunaikan ibadah di Tanah Suci.

”Filosofi berhaji adalah miniatur keluarga di mana orang-orang yang sedang melaksanakannya akan memperoleh pelajaran keluarga yang berharga dari Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS,” ujar Ustadz  Matyoto Fahruri, pembimbing haji dan sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Kabupaten Boyolali.

Menurutnya, seorang ayah yang melaksanakan ibadah haji tengah belajar agar menjadi ayah seperti Nabi Ibrahim AS yang hendaknya berbuat baik kepada isteri, anak, dan lingkungannya. Ibu yang berhaji sebenarnya sedang belajar menjadi ibu seperti layaknya Siti Hajar yang senantiasa tegar dan taat kepada suami dan perintah Allah SWT.

Seorang anak, lanjut Matyoto, yang melaksanakan ibadah haji sebenarnya sedang belajar menjadi anak yang saleh dan selalu berbakti kepada orang tuanya seperti Nabi Ismail AS. ”Kesamaan dari ketiganya adalah mereka semua tengah berupaya untuk memiliki akhlak seperti yang dimiliki Rasulullah,”ujar pengasuh pengajian Bani Adam Boyolali.

Berangkatnya calon jamaah haji ke Tanah Suci tentunya harus dilakukan dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Tapi, seiring kompleksitas kehidupan di masyarakat saat ini banyak pula orang yang berangkat haji dengan niat yang tidak semata-mata karena Allah melainkan untuk prestise, berdagang, bisnis, wisata, hingga riya.

”Untuk dapat melaksanakan ibadah haji diperlukan niat yang kuat diiringi dengan ikhtiar yang sungguh, berdoa, baik sangka, dan tawakal. Setelah semua hal itu dilakukan, yakinlah takdir haji akan datang dari jalan yang tidak pernah kita duga,” ucap Pimpinan Majelis Azzikra, Ustadz Muhammad Arifin Ilham.

Menurutnya, ibadah haji merupakan puncak dari usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasa rindu ingin bertemu dengan-Nya perlu dijadikan pegangan selama melaksanakan haji. ”Selama berhaji kita harus ingat bahwa semua yang kita lakukan ini ikhlas karena Allah. Janganlah kita sombong atau takabur karena mungkin saja kita tidak akan bisa kembali ke Tanah Air,” Arifin mengingatkan.

Senada dengan Fahruri dan Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Indramayu, KH Masyhuri Boedlowi MA mengemukakan bahwa filosofi ibadah haji adalah proses. ”Dalam setiap ibadah yang kita lakukan perlu proses untuk mencapai tingkat pemahaman tertentu. Shalat misalnya, untuk bisa khusyu dalam menjalankannya kita perlu proses untuk benar-benar mengerti hakikat dari ibadah tersebut,” jelasnya.

Kedalaman hati dan kesungguhan niat, lanjut Masyhuri, merupakan hal yang sangat penting diterapkan tidak hanya dalam ibadah haji tapi juga seluruh ibadah. ”Dalam hidup tentunya kita pasti akan diuji tapi apabila kita berpegang pada Alquran dan Sunnah Rasulullah, segalanya akan dimudahkan,” tegas alumnus Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.

Selain menetapkan hati untuk sungguh-sungguh beribadah karena Allah, Fahruri mengingatkan agar para calon jamaah yang akan berangkat juga mempersiapkan harta yang halal sebagai biaya berhaji, badan yang sehat, dan bekal ilmu yang memadai. ”Apabila kita memiliki ilmu maka kita akan mengetahui betapa istimewanya ibadah haji dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah dengan maksimal,” ujarnya.

Arifin menuturkan, hendaknya sebelum berangkat menunaikan ibadah haji, calon jamaah mempersiapkan ilmu berhaji yang cukup, niat yang baik, dan memahami esensi yang penting dari pelaksanaannya. ”Jangan sampai kita berhaji hanya memperoleh kisah tanpa membawa perbaikan diri yang berujung pada kemabruran haji kita karena semuanya akan menjadi sia-sia,” tegasnya. ci2/yto