Jamaah Batam Protes Tempat Penginapan

6 November 2010 | Kategori: Berita

Pemondokan jamaah haji di Madinah/media centre haji


MAKKAH–Kantor Daerah Kerja (Daker) Mekkah, Sabtu pagi hingga siang, dipenuhi jemaah haji dari embarkasi Batam, yang menempati pondokan nomor 313 Aziziyah Samaliah, menyampaikan ketidakpuasan atas tempat tinggal mereka.

“Kami menyampaikan ketidakpuasan seperti ini, karena ke Mekkah adalah untuk ibadah,” kata H. Azhar Yasid (50) yang mengaku sebagai pembimbing ibadah di kantor Daker Mekkah, Sabtu.

Dengan satu unit bus mereka datang ke Daker Mekkah. Ada yang duduk di lantai, di kursi dan beberapa tempat di ruang kerja staf Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Mekkah. Praktis aktivitas di kantor misi haji itu jadi terhenti.

Mereka menyesalkan, sudah sepekan keluhan tak ditanggapi, untuk itu mereka mendatangi kantor Daker Mekkah.

Di pemondokan itu, seperti disebutkan Ibnu Hajar, jemaah dari Bengkalis, ruang kamar dipadati 10 tempat tidur. Ada yang tujuh dan lima untuk satu kamar, tergantung dari besar kecilnya ruang. Hal itu tak sesuai dengan ketentuan pemerintah setempat bahwa 1 kepala menempati ruang empat meter.

Ibnu Hajar mengatakan, ia menempati pondokan sudah sepekan. Setiap pagi air tak mengalir, lift sering macet. “Bayangkan, ketika tak ada air saat di kamar kecil,” ia mengeluh.

Kedatangan jemaah asal Riau ini diterima Kadaker Mekkah, Cepi Supriatna. Tatkala berdialog, beberapa orang dari rombongan tersebut sempat melampiaskan emosinya sambil menggebrak meja.

Ketika menyampaikan aspirasinya, jemaah juga menuntut agar pondokan 313 yang ditempatinya bisa memperoleh uang sisa selisih rumah/pondokan. Sebab, rumah yang berdekatan dengan pondokan 313 seperti rumah 321`dan 320 mendapat pengembalian uang sebesar 600 real.

Selain itu, jemaah asal DKI Jakarta juga memperoleh pelayanan optimal seperti adanya penyediaan bus. “Bagaimana standar yang sebenarnya dalam hal pondokan ini,” kata seorang jemaah.

Cepi Supriatna mengatakan, pihaknya tak punya kewenangan dalam hal pengembalian sisa selisih uang pondokan. Sebab, kewenangan tersebut ada pada Tekhnis Urusan Haji (TUH).

Sedangkan untuk persoalan air, jika dalam satu jam air tak mengalir pihaknya akan meminta pemilik rumah untuk menyediakan. Bila tak dipenuhi, maka pihak Sektor akan mencarikan air.

Seusai pondokan ditempati, pembayaran untuk pemilik rumah akan dipotong sesuai dengan biaya pembelian air. Hal ini berlaku juga untuk fasilitas lain, seperti kerusakan lift, katanya.

Soal ada rumah yang dapat pengganti uang sisa selisih pemondokan sementara tetangganya tidak, Petugas Daker Mekkah menjelaskan dengan mencontohkan rumah 313 yang tak ada pengganti karena harga sewa rumah mencapai 3.400 real.

“Pemerintah memberikan subsidi karena harganya di atas plafon sebesar 2.850 real. Bila harga sewa di bawah harga plafon, maka akan dapat penggantian,” katanya.

Jadi, untuk rumah 313 tidak menerima uang sisa selisih sewa pondokan, katanya.

Ini persoalan kecemburuan akibat kesenjangan kualitas pondokan. Belum lagi mereka melihat pelayanan bagi jemaah DKI Jakarta yang terlihat lebih baik, katanya.”Mereka bisa, kok kita tidak,” teriak seorang jemaah.

Jemaah ini tak mengerti bahwa kelebihan jemaah DKI Jakarta karena adanya dukungan dari Pemprov baik untuk angkutan ke Masjidil Haram maupun pelayanan katering selama berada di Mekkah, ujarnya. “Jemaah dari daerah lain, tak seperti DKI,” kata petugas PPIH itu.

antara/taufik rachman