Sudut Pandang: Menjadi Saleh Setelah Haji

2 February 2012 | Kategori: Berita

oleh: M Subarkah (wartawan Republika)

Semakin banyak jamaah haji yang setiap tahun pergi ke Tanah Suci, seharusnya situasi negara dan bangsa membaik, bukan malah merosot atau bahkan mengalami dekadensi.

“Yang membuat saya selalu risau adalah bagaimana mempertahankan kualitas haji setelah tiba di Tanah Air!” Pernyataan ini jelas bukan omongan bercanda, tapi sebuah hal serius. Apalagi, diucapkan langsung oleh Dirjen Penyeleng garaan Haji dan Umrah, Slamet Riyan to. Menurut dia, selama lebih dari 30 tahun mengurus soal haji, persoalan yang terberat dan menjadi beban baginya adalah cara meningkatkan kualitas masing masing jamaah sepulang dari Tanah Suci.
“Saya mengurusi haji sejak 1980-an. Selama itu ada satu hal yang membuat saya galau. Hal itu adalah output yang dihasilkan setelah menunaikan ibadah haji, misalnya perubahan akhlak yang bisa diteladani, tetap belum tampak,” kata Slamet dalam sebuah perbincangan di Makkah, pertengahan November, tahun silam. “Ini di mana masalahnya, apa di manasik nya atau pembinaannya. Saya memikirkan betul itu. Itulah pekerjaan rumah besar yang belum terpecahkan sampai sekarang,” ujarnya.

Meski jumlah jamaah haji Indonesia beberapa tahun belakangan sudah mencapai lebih 200 ribu orang, memang masih ada kegetiran yang terlihat. Citra positif negara Indonesia dengan penduduknya yang sebagaian besar menganut agama Islam belum tampak. Indeks persepsi korupsi tetap saja terpuruk paling rendah. Tak ada bedanya dengan negara-negara Afrika dan Asia Tengah yang kini diremuk konflik. Belum lagi aksi kekerasan terus terjadi. Kemiskinan dan jurang kaya miskin semakin lebar.
Adanya situasi ini menjadi wajar bila Slamet menilai output haji seperti haji tempo dulu masih jauh panggang dari api.

Banyaknya jamaah ternyata tidak bisa menjadi cermin membaiknya kondisi umat, bangsa, dan negara. Haji yang mengajarkan kesederhanaan dan sikap wara terhadap dunia ternyata setelah dipraktikkan para jamaah sepulang dari Tanah Suci tak ada bekas. Haji malah tak ubahnya sebagai ajang cuci dosa sesaat. Tobat yang ada hanya tobat cabai, bukan tobat yang sungguh-sungguh (taubat nasuha).

Tak hanya Slamet, jauh-jauh hari sebelumnya almarhum Kuntowijoyo sudah berulang kali menyerukan agar umat Islam perlu membangun kesalehen sosial di samping kesalahen ritual. Menurut Kuntowijoyo, soal ini perlu dikembangkan sebagai perwujudan dari pembumian nilainilai Islam. Haji dalam soal ini harus dapat dipandang sebagai ibadah yang juga punya dimensi sosial keagamaan. Dengan begitu, semakin banyak jamaah haji yang setiap tahun pergi ke Tanah Suci, seharusnya situasi negara dan bangsa terus membaik, bukan malah terus merosot atau bahkan mengalami dekadensi.

Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah yang juga Naib Amirul Haj musim haji 2011  Abdul Mu’ti, mengakui memang masih terdapat kesenjangan lebar antara sosok haji ideal dan sosok haji yang nyata dalam kehidupan masa kini. Para haji masa kini belum menampilkan sosok keteledanan sekuat dengan para haji di masa lalu. Bahkan, yang lebih banyak terlihat hanya unsur wujud luar yang pragmatis dan kadang kala hedonis. Ritual haji kadang tak ubahnya ajang hura-hura sesaat.

“Lihat saja contohnya dalam hal yang paling sederhana. Ini misalnya bentuk oleh-oleh yang dibawa para haji sepulang dari Tanah Suci. Kalau dahulu kita masih mengenal para haji pulang membawa ki tab baru, tapi sekarang mereka pulang ha nya sekadar membawa sajadah, kurma, atau tasbih. Jadi, bayangkan kualitas haji seperti apa yang terjadi pada masa kini dibandingkan dengan masa lalu,” kata Mu’ti.

Mu’ti mengatakan, lesunya situasi pemenuhan hal rohani dari para jamaah juga terlihat jelas dalam kesiapan para jamaah haji Indonesia masa kini. Dahulu mereka yang pergi haji adalah orang yang betulbetul siap dan paham akan ritual haji. Ini jauh berbeda, bahkan berbalik keadaannya dengan rata-rata yang terjadi pada sosok para calon haji masa sekarang.
“Dahulu yang akan pergi haji pasti sudah paham manasik haji, bisa baca Alquran, dan bahasa Arab fuskhah dengan baik. Dan selama di Arab Saudi mereka juga menuntut ilmu dengan para guru atau syekh yang ada di sana. Mereka juga benar-benar orang yang kaya secara material. Jadi, ketika pulang mereka akan menjadi sosok haji yang bersinar. Jumlah haji saat itu memang sedikit, tapi pengaruhnya sangat besar bagi masyarakat. Ini yang hilang sekarang,” ujar Mu’ti.

Memang harus diakui, bila ditelisik secara pribadi banyak dari para calon haji masa kini yang pemahaman keagamaannya masih periferal. Jangankan menguasai bahasa Arab, bukan rahasia lagi bila sebagian mereka belum bisa baca Alqur an. Pengetahuan manasiknya pun masih sangat dangkal sehingga menjadi hal lazim banyak di antaranya ketika menunaikan ibadah haji hanya sekadar ikut-ikutan.

Yang paling konyol lagi, masa yang cukup panjang, yakni selama sebulan di Makkah, misalnya, mereka tidak gunakan untuk mendalami ajaran Islam. Kecenderungannya jamaah hanya sekadar sibuk ‘tawaf’ di berbagai pusat perbelanjaan yang begitu banyak tersebar di pelataran Masjidil Haram. Kesibukan ini semakin bertambah meriah dengan banyaknya paket tur yang ditawarkan kepada mereka selama di Tanah Suci. Di Madinah misalnya, dapat dipastikan jamaah pasti meminta datang ke ‘Bukit Magnet’. Padahal, bukit ini adalah tempat wisata biasa dan baru muncul sebagai pusat tujuan tur haji sekitar sepuluh tahun silam.
Menyadari hal seperti itu, sungguh tepat isi pidato mantan ketua umum PB NU, KH Hasyim Muzadi, saat menyampaikan khotbah pada prosesi wukuf di Arafah. Menurut dia, setelah menjadi haji maka sesorang diharapkan mampu menjadi suri teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Atau paling tidak, mampu sedikit banyak membawa perubahan bagi perbaikan kualitas kehidupan kebangsaan.
“Waktu wukuf, sebagai bagian yang terpenting dalam ibadah haji, semoga dapat dimanfaatkan sebagai ajang perbaikan diri. Sebagai ajang pertobatan total, baik sebagai hamba Allah maupun bagi sebagian komunitas manusia,” ungkap Hasyim dalam khotbah wukuf di Arafah, Sabtu (5/11/2011).

Menurut Hasyim, selain diisi zikir, waktu wukuf dan prosesi haji lainnya hendaknya dipakai sebagai ajang untuk membentuk manusia yang saleh, baik secara pribadi maupun sosial. Dan ini bisa terjadi bila secara pribadi manusia secara sadar bahwa dirinya adalah orang yang harus menjalankan amanah dengan baik. “Sebagai haji ia berkewajiban membawa nilai Arafah untuk kemaslahatan pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa,” ujarnya.

Namun yang menjadi masalah, bagaimana dapat mengenal nilai luhur dan agung dari wukuf di Arafah sebagai bagian terpokok dari ibadah haji. Setelah itu kemudian menyerap, menghayati, dan melakukan nilai yang mulia untuk diri masing-masing agar bisa menjadi insan yang bertakwa. “Jadi, hasil introspeksi diri sewaktu wukuf berhaji dan wukuf Arafah kemudian diterapkan di kalangan keluarga kita masing-masing dalam perspektif keluarga sakinah serta memperjuangkan nilai luhur itu pada masyarakat sesuai dengan bi dang kehidupan dan keahlian serta kemungkinan yang ada pada diri kita masing-masing,” jelasnya.

Hasyim mengakui, penegakan nilai luhur terhadap diri dan orang lain bukanlah pekerjaan mudah. Namun, betapa pun sulitnya penegakan nilai luhur dan nilai kebenaran tidaklah berarti membebaskan seseorang dari kewajiban penegakan itu dalam konteks amar makruf dan nahi mungkar.
“Kita harus memulai dari diri kita sendiri karena kita tidak mungkin menyatakan kebenaran padahal diri kita penuh kepalsuan. Tidak mungkin kita berteriak kejujuran padahal kita penuh kebohongan. Kita tidak mungkin berbicara tentang perjuangan dalam kondisi kita sedang memanfaatkan perjuangan untuk diri sendiri. Apabila kondisi yang kontradiktif antara anjuran dan kenyataan, yang terjadi adalah kemunafikan,” terangnya.
Hasyim juga mengingatkan agar para jamaah haji selain melakukan introspeksi diri, mereka juga menutup semua kelemah an agar tidak ada lubang untuk diserang musuh. Kelemahan umat Islam bukan hanya pada akidah dan syariah, tetapi juga tata sosial, misalnya keadilan hukum, kemerataan ekonomi, dan amanat permusyawaratan dari rakyat untuk pemimpinnya dan keteladanan pemimpin untuk rakyatnya.

“Kita tidak mungkin berharap agar tidak ada pihak yang merusak agama dan umat karena hal tersebut telah menjadi bagian dari sunatullah guna memberikan ingatan dan kewaspadaan kepada kaum Muslim,” tegasnya.
Kesenjangan yang masih terlalu jauh antara hal ideal dan faktual dalam pelaksanaan ibadah haji itulah yang perlu dibenahi. Dalam alam modern memang pergi haji bukan hal yang terlalu sukar dan berbiaya luar biasa mahal.
Dahulu, misalnya perjalanan haji memang butuh waktu sampai satu tahun dan menelan biaya dengan nilai hingga sepuluh kali lipat dari sekarang, tapi sekarang sudah jauh lebih singkat. Waktu haji reguler hanya 42 hari. Biaya tak sampai 500 gram emas, tapi kurang dari 100 gram emas. Meski begitu, hendaknya kualitas para haji tetap dapat semakin baik, minimal sama seperti kualitas sosok haji dari para pendahulunya di zaman prakemerdekaan itu.