Roudhoh, Butuh Kesabaran Ekstra untuk Mencapainya

21 October 2010 | Kategori: Berita, Tips


MAKKAH–Jangan pernah Anda berharap dapat menyelinap di sela-sela jamaah turki, karena selain berbadan besar, mereka juga relatif lebih tegap dan kuat dibanding jamaah asal Indonesia. Selain itu, jamaah asal Turki sangat bandel ketika ditertibkan oleh Askar/penjaga.

Biasanya, mereka hanya akan mengangkat bahu sembari menoleh ke belakang jika dihalau oleh askar. Dia hanya butuh sedikit menoleh untuk untuk bisa menjangkau bahu teman di belakangnya. Isyarat ini terpaksa harus diterjemahkan sebagai, “tidak ada ruang selain ke depan.”

Dengan demikian askar akan lebih memilih menghalau orang-orang yang sedang berdoa di depan, daripada menghalau orang Turki. Hal ini berarti orang-orang turki berhak melangkah maju untuk semakin mendekati Roudhoh.

Roudhoh adalah tempat antara mimbar Masjid Nabawi dan rumah Nabi Muhammad SAW. Roudhoh bagi Masjid Nabawi, ibarat jantung bagi segala aktifitas spiritual jutaan orang yang berkunjung ke Madinah, khususnya ke Masjid Nabawi.

Berjuta-juta orang Islam dari berbagai penjuru dunia, yang datang ke Madinah pasti akan mengunjungi Masjid Nabawi. Dan mereka yang mengunjungi Nabawi juga hampir bisa dipastikan akan sholat atau berdoa di Roudhoh.

Mungkin bukan masalah yang berarti jika Roudhoh ini seluas lapangan sepakbola misalnya. Namun kenyatannya, luas Roudhoh tidak lebih daripada satu ruang kelas. kira-kira enam kali delapan meter. Anda bisa bayangkan betapa berjubelnya jutaan orang memperebutkan tempat sesempit itu.

Namun ternyata di Madinah, semua dapat berjalan dengan tertib dan nyaman, hanya sedikit berdesakan tanpa kekerasan. Berbeda dengan perebutan Multazam atau Hajar Aswad di Masjidil haram yang syarat dengan adu otot, perebutan tempat di Roudhoh berlangsung dengan relatif lembut dan sopan.

Berebut tempat di Roudhoh, jamaah hanya hanya butuh kesabaran ekstra dan sedikit bergerak gesit agar dapat terus merangsek ke arah karpet berwarna dasar putih (karpet warna dasar putih ini menandai tempat bernama Roudhoh). Terpenting sebenarnya, jamaah perlu sedikit bandel untuk beroleh Roudhoh, terutama waktu-waktu yang sibuk atau penuh.

Nah, dalam hal kebandelan ini, tampaknya jamaah asal Indonesia perlu mencontoh jamaah haji dari Turki. Bila jamaah asal Indonesia biasanya datang dengan sendiri-sendiri atau berpasangan, maka orang-orang Turki biasanya selalu datang dengan bergerombol rapat dalam jumlah besar. Keuntungan jumlah besar ini adalah mereka menutup untuk sementara peluang orang lain yang ingin menyelinap mendahului mereka.