Tawaf dan Sa’i Disarankan Selepas Dini Hari

19 October 2011 | Kategori: Berita

Tawaf (Antara)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Kondisi Masjidil Haram saat ini sudah benar-benar sesak. Jamaah pun disarankan untuk bisa mencari celah kapan melakukan tawaf dan Sa’i.

Kepala Daerah Kerja Makkah, Arsyad Hidayat, menyarankan agar jamaah bisa memilih waktu yang tepat ketika hendak mengerjakan ibadah tawaf dan Sa’i. ‘’Kepada jamaah yang saat ini baru tiba di Makkah, jangan terlalu semangat untuk segera menyelesaikan ibadah umrah. Jangan merasa terlalu risau ketika masih harus mengenakan pakaian ihram. Bersabarlah. Carilah waktu tepat untuk menuntaskan ibadah umrahnya. Aturah tenaga,’’ katanya.

Seorang calon Jamaah haji asal Magelang, Jawa Tengah, Harjo, menyarankan waktu yang cukup tepat bagi jamaah Indonesia untuk mengerjakan ibadah tawaf dan Sa’i adalah selepas dini hari. Sebab, meski pun masih banyak orang, tempat untuk tawaf dan Sa’i sudah sedikit longgar.

’’Hindari tawaf pada waktu sore dan malam hari sebelum tengah malam. Dan jangan pula nekad melakukan tawaf pada siang hari bolong. Saat itu memang sedikit longgar, tapi udaranya panas sekali. Lebih baik dini hari saja,’’ katanya, seperti dilaporkan wartawan Republika Muhammad Subarkah dari Tanah Suci.

Ia mengatakan, kalau memang situasi tempat pelataran tawaf di dekat Ka’bah sudah penuh, maka jamaah sebaiknya tak memaksakan masuk ke pelataran itu. Hal ini karena situasi di tempat tawaf itu penuh senggolan badan dan kadang saling mendorong.

‘’Jamaah haji Indonesia jelas kalah bila harus adu badan dengan mereka. Jamaah haji asal Afrika misalnya mereka tinggi besar dan badannya kokoh sekali. Ini beda dengan jamaah kita yang kecil-kecil badannya. Apalagi banyak yang berusia lanjut dan kaum perempuan. Berbahaya sekali kalau sampai terjatuh,’’ kata Harjo.

Redaktur: Johar Arief