<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnalhaji.com &#187; Galeri</title>
	<atom:link href="http://www.jurnalhaji.com/category/galeri-foto/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jurnalhaji.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 02:27:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Masyarakat Bandung Minati Tabungan Haji</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2010/02/16/masyarakat-bandung-minati-tabungan-haji/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2010/02/16/masyarakat-bandung-minati-tabungan-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 04:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=2572</guid>
		<description><![CDATA[BANDUNG&#8211;Produk tabungan haji dari Bank BRI Syariah, cukup diminati oleh masyarakat Bandung. Oleh karena itu, menurut Pimpinan Cabang BRI Syariah Suniaraja-Bandung, Hilman Purakusumah, BRI Syariah membuat produk baru berupa dana talangan haji. Dilihat dari jumlah nasabah tabungan haji, secara nasional Bandung menduduki peringkat kedua terbanyak nasabahnya. &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Masyarakat Bandung memang cukup antusias terhadap tabungan haji ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BANDUNG&#8211;Produk tabungan haji dari Bank BRI Syariah, cukup diminati oleh masyarakat Bandung. Oleh karena itu, menurut Pimpinan Cabang BRI Syariah Suniaraja-Bandung, Hilman Purakusumah, BRI Syariah membuat produk baru berupa dana talangan haji. Dilihat dari jumlah nasabah tabungan haji, secara nasional Bandung menduduki peringkat kedua terbanyak nasabahnya.</p>
<p>&#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Masyarakat Bandung memang cukup antusias terhadap tabungan haji ini. Produk dana talangan haji kan baru kami luncurkan, jumlah account nya sekarang sudah 50 orang,&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; ujar Hilman kepada wartawan di sela-sela acara Gathering Bank BRI Syariah dan KBIH se-Bandung Raya, Selasa (16/2).</p>
<p>Oleh karena itu, sambung Hilman, BRI Syariah Cabang Suniaraja-Bandung, menargetkan tabungan haji dan talangan haji sebesar 5-10 persen di 2010 ini. Total pembiayaan yang ditargetkan BRI Syariah Cabang Suniaraja-Bandung, sebesar Rp 200 miliar.</p>
<p>Dari target sebesar Rp 200 miliar itu, kata dia, untuk consumer banking ditargetkan sebesar 30 persen, yang diantaranya sekitar 10 persen digunakan untuk tabungan haji. Sekitar 20 persen, kata dia, untuk pembiayaan mikro dan sisanya komersial retail. &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Kami menargetkan Dana Pihak Ketiga (DPK) di 2010 ini sebesar Rp 48 miliar,&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Hilman, BRI Syariah ingin benar-benar membantu masyarakat Bandung dalam menunaikan ibadah haji. Oleh karena itu, selain memiliki produk tabungan haji, BRI Syariah pun mengeluarkan dana talangan haji.</p>
<p>Produk dana talangan haji ini, kata dia, berbeda dengan tabungan haji. Kalau tabungan haji, nasabah harus menabung yang ditentukan jangka waktunya. Sementara, dana talangan haji diberikan pada nasabah yang sudah terdaftar sebagai jamaah haji tapi masih kekurangan biaya. &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Kalau ada nasabah yang mau daftar haji, tapi tabungannya kurang bisa mengajukan dana talangan pada kami. Plafonnya hingga Rp 18 juta,&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; ujarnya. Arie/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2010/02/16/masyarakat-bandung-minati-tabungan-haji/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2010/02/16/masyarakat-bandung-minati-tabungan-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madinah Kota Bersejarah nan Damai dan Bersahabat</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/madinah-kota-bersejarah-nan-damai-dan-bersahabat/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/madinah-kota-bersejarah-nan-damai-dan-bersahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 02:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=2344</guid>
		<description><![CDATA[MADINAH&#8211;Daya tarik utama Kota Madinah adalah keberadaan Masjid Nabawi. Itulah sebabnya, jutaan orang setiap tahunnya mengunjungi Kota Rasul ini. Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun oleh Muhammad saw. dan sekaligus tempat pergerakan perjuangan menyebarkan Islam. Magnet umat Islam adalah insentif yang diberikan berupa pahala dan keutamaan bagi yang melaksanakan salat di Mesjid Nabawi memiliki pahala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><img class="alignleft size-full wp-image-2345" title="Madinah" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/12/Madinah.jpg" alt="Madinah" width="368" height="245" />MADINAH&#8211;</span>Daya tarik utama Kota Madinah adalah keberadaan Masjid Nabawi. Itulah sebabnya, jutaan orang setiap tahunnya mengunjungi Kota Rasul ini. Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun oleh Muhammad saw. dan sekaligus tempat pergerakan perjuangan menyebarkan Islam. Magnet umat Islam adalah insentif yang diberikan berupa pahala dan keutamaan bagi yang melaksanakan salat di Mesjid Nabawi memiliki pahala 1.000 kali lebih utama dibanding dengan salat di tempat lain, selain Masjidilharam.</p>
<div>
Saat Musim haji, sedikitnya 200.000 jemaah Indonesia mengunjungi Madinah khususnya Mesjid Nabawi, ditambah lagi ratusan jutaan jemaah dari negara lain guna melakukan salat arba`in (salat 40 waktu tanpa terputus). Belum lagi jutaan orang yang silih berganti berdatangan ke Madinah ketika menunaikan umrah baik dari Indonesia maupun dari negara lain. Hal ini menjadikan Madinah menjadi kota yang tidak pernah mati selama 24 jam sepanjang tahun.</p>
<p>Kota yang terletak di sebelah utara Mekkah dengan jarak tempuh sekitar 450 km ini pada masa Muhammad saw. menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Di Madinah pula diletakkan foundasi perpolitikan modern oleh Rasulullah yang termaktub dalam Piagam Madinah. Dari kota yang sebelumnya bernama Yatsrib ini Islam kemudian menyebar ke seluruh jazirah Arab dan kemudian ke seluruh dunia.</p>
<p>Yatsrib sejak dulu merupakan pusat perdagangan. Setelah Rasulullah menetap di kota ini, Yatsrib kemudian diberi nama Madinah dan kemudian menjadi pusat perkembangan Islam. Perjuangan ini dilanjutkan pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan (pada masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kuffah Irak karena terjadinya pergolakan politik yang menyebabkan Utsman bin Affan terbunuh).</p>
<p>Jejak perjuangan Rasul Muhammad menyebarkan Islam di Madinah masih berbekas hingga kini. Tempat seperti Jabal Uhud, Khondak, dan Mesjid Quba adalah tempat &#8220;wajib&#8221; untuk diziarahi ketika jemaah berada di Madinah selain Mesjid Nabawi.</p>
<p>Peran sebagai pusat perdagangan sejak dulu hingga kini masih terus berlangsung. Kedatangan jutaan orang ke Madinah setiap tahunnya tentu membuat kota ini tidak berhenti terutama aspek perdagangan makanan dan kebutuhan hidup, akomodasi dan transportasi bagi para pengunjungnya. Apalagi di musim haji ini, jutaan jemaah keluar masuk Kota Madinah baik lewat darat maupun udara tanpa mengenal waktu.</p>
<p>Bagi penduduk Madinah (orang) Indonesia bukan asing lagi bagi mereka, para pedagang, petugas hotel, asykar (petugas keamanan) atau yang lainnya terutama di sekitar Masjid Nabawi rata-rata lebih mengenal Indonesia dibanding negara lain. Oleh karena itu, jemaah tidak perlu khawatir saat berada di Madinah tidak bisa melakukan aktivitas belanja, makan atau kegiatan lainnya karena kendala komunikasi bahasa.</p>
<p>Sapaan &#8220;Hajiâ�¦! Mari ke sini, barangnya bagus, murah&#8230;&#8221; adalah hal biasa. Atau ada celetukan, &#8220;Kemahalan ya&#8230;?â�� dari pedagang ketika kita menanyakan harga barang kemudian tidak menawar barang tersebut. Para pedagang Arab juga fasih melafalkan angka-angka rupiah untuk saling tawar manawar.</p>
<p>Bahkan di saat &#8220;peak season&#8221; pada musim haji, pedagang kaki lima di sekitar Masjid Nabawi tidak ubahnya <span>PKL </span>(pedagang kaki lima) di pasar di Indonesia dalam menawarkanbarangnya. &#8220;Lima real, lima real selusin murraaaahâ�¦&#8221; demikian seorang pedagang berulang-ulang menawarkan harga tasbih satu lusin kepada setiap orang yang lalu lalang.</p>
<p>Tidak hanya itu, bagi orang Indonesia juga tidak kesulitan mencari barang-barang khas Indonesia, terutama makanan. Berbagai macam kerupuk bisa dijumpai di toko &#8220;Nusantara&#8221; di kawasan Ijabah. Atau ingin makan bakso, tersedia &#8220;Bakso Solo&#8221; dan &#8220;Warung Si Doel Anak Madinah&#8221; di kawasan Markaziah.</p>
<p>Madinah menjadi kota damai karena hampir tidak terdengar perselisihan antar penduduk Madinah, atau penduduk Madinah dengan warga asing, juga warga asing dengan warga asing. Kalau ada perselisihan di jalan mengenai lalu lintas misalnya, yang dilakukan pengemudi hanyalah &#8220;main&#8221; klakson, tidak lebih dari itu. Kalau terjadi kecelakaan fatal tentu ada hukum yang mengaturnya. Prinsipnya siapa yang memulai melakukan kekerasan dia yang akan terkena hukuman lebih berat.</p>
<p>Pun tidak pernah ada paksaan untuk memilih, atau membeli atau tidak terhadap sesuatu yang kadang menjadi sumber perselisihan karena tidak ada preman yang sok berkuasa di daerah tertentu. Tidak ada tukang parkir, Pak Ogah atau timer yang mengatur-atur kendaraan kemudian meminta imbalan lebih seperti di Jakarta. Karena di Madinah memang tidak ada pungutan parkir. Mobil pun diparkir di depan rumah, di pinggir jalan atau di tanah lapang tanpa takut akan dicuri pencuri yang setiap saat mengintai pemilik mobil yang lengah.</p>
<p>Kedamaian itu tercipta karena setiap orang yang ada di Tanah Suci ini bersahabat. Penduduk lokal tidak merasa lebih baik dari warga asing yang datang ke Madinah. Tidak ada yang merasa lebih hebat karena di negaranya adalah dia seorang pejabat. Hitam, kuning maupun putih kulitnya, besar-kecil postur tubuhnya semua sama.</p>
<p>Apabila berjumpa, mereka mengucapkan &#8220;Salamun alaik&#8221; yang diberi salam akan menyambutnya dengan penuh persahabatan. Kemudian dilanjutkan dengan menyebut negara-masing-masing. Setelah itu dilanjutkan obrolan yang sama-sama tidak paham karena menggunakan bahasa mereka sendiri-sendiri. Umpamanya, setelah saya tegur sapa dengan menyebut asal negara, seering kemudian saya bilang, &#8220;Asif, lam a`rif kalamuka&#8221; atau &#8220;Sorry, Don`t Understand what you talking about,&#8221; tapi lawan bicara tetap saja bicara. Jurus ampuh yang saya gunakan kemudian adalah bahasa Tarzan atau kabur dengan mengucap &#8220;Ma`assalamah&#8221;.  mch/yto</p></div>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/madinah-kota-bersejarah-nan-damai-dan-bersahabat/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/madinah-kota-bersejarah-nan-damai-dan-bersahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ironi di Jabal Tsur</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/ironi-di-jabal-tsur/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/ironi-di-jabal-tsur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 23:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=2364</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya. Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada temannya: &#8221;Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita&#8221;. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><img class="alignleft size-full wp-image-2365" title="Tsur" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/12/Tsur.jpg" alt="Tsur" width="325" height="216" />&#8220;Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya. Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada temannya: &#8221;Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita&#8221;. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS At-taubah [9]: 40)</p>
<p>Hari itu, kaum kafir menduga Rasulullah SAW dan ajarannya bakal &#8220;habis&#8221;. Sebagian telah berangkat ke Madinah, tinggal dia dan sabahatnya, Abu Bakar, yang tersisa. Keduanya merupakan <em>most wanted</em> saat itu, dan tekad kaum kafir Quraisy hanya satu: Membunuhnya.</p>
<p>Jabal Tsur diyakini bakal menjadi ladang pembantaian bersejarah bagi pria yang dianggap mengganggu karena menyebarkan ajaran tauhid itu. Keduanya ditengarai lari ke atas bukit curam itu. Makin mudah bagi mereka untuk menangkap hidup-hidup atau menghabisinya dengan satu ayunan pedang.</p>
<p>Namun, seperti ditegaskan Allah dalam ayat itu, Dia berkehendak lain. Seekor laba-laba membuat sarang dengan begitu cepat di mulut gua. Sepasang merpati sigap membuat sarang di tempat yang tidak jauh berbeda.</p>
<p>Kaum kafir terkecoh. Tak mungkin keduanya berada di sana, jika mulut gua tertutup sarang laba-laba. Rasul dan Abu Bakar pun selamat.</p>
<p>Namun, mereka belum cepat-cepat keluar dari gua begitu kaum kafir meninggalkan mereka. Tiga malam mereka habiskan waktu di gua pengap itu.</p>
<p>Abu Bakar berkorban dengan caranya. Saat tubuh letih dan lemah, ia mempersilakan Rasulullah SAW tidur di pangkuannya. Terdengar desis ular keluar dari sebuah lubang. Abu Bakar menghalaunya dengan jari kaki sehingga terpatuk ular berbisa. Tubuh Abu Bakar menggigil karena sengatan bisa. Hingga keringat dingin bercucuran dari dagunya dan menetes di pipi Rasulullah SAW yang tengah terlelap tidur.</p>
<p>Di sinilah, pegorbanan lain dilakukan Asma binti Abu Bakar RA. Dia sembunyi-sembunyi menyelinap ke atas bukit untuk menyuplai makanan dengan risiko diketahui kaum kafir dan dihabisi.</p>
<p>Maka, inilah Jabal Tsur yang menjadi bukti dari pengorbanan seorang Muslim demi membela dan menyebarkan ajaran Islam. Tidak peduli, meski nyawa menjadi taruhannya. Bukit terjal yang memiliki tiga puncak yang bersambungan ini berada 7 km dari Masjidil Haram ke arah Thaif. Ke sanalah, kami menuju.</p>
<p>Berangkat dini hari pukul 02.30 waktu Arab Saudi, saya bersama sembilan teman wartawan dari Jakarta memulai perjalanan ke Jabal Tsur. Tulisan &#8220;Mad Carok&#8221; di batu besar menuju pintu masuk menyambut kami. Ah, ini pasti ulah iseng jamaah kita.</p>
<p>Sepuluh menit pertama, saya melewati dengan napas tersengal-sengal. Jalan terus menanjak. Persiapan saya sangat kurang untuk memulai pendakian itu: Hanya sempat tidur 1,5 jam sebelum berangkat.</p>
<p>Di seperlima jarak menuju puncaknya, saya menyerah. Saya gagal mengatur ritme napas. Kepala berkunang-kunang dan muntah hebat. Sempat berpikir untuk menyudahi misi kunjungan kami ke Jabal Tsur itu, tapi saya malu pada Rasulullah. Jangankan untuk berjuang seperti beliau, menapak tilas sebagian kecil saja fragmen hidupnya, saya tak mampu.</p>
<p>Dua orang teman dari <em>TV One</em> dan kantor berita <em>Antara</em> menyemangati langkah saya. &#8220;Muntahkan saja semua, kami menunggu,&#8221; ujar mereka. Sepuluh menit berhenti, kami kembali meneruskan perjalanan.</p>
<p>Kali ini, saya menemukan cara mengatur napas. Tarik dari hidung, embuskan melalui mulut. Jangan terlalu terburu-buru melangkah, dan pilih pijakan yang tak terlalu tinggi. Sukses. Satu jam kemudian, kami telah berada di puncaknya.</p>
<p>Puluhan jamaah Turki telah berada di sana. Sebagian telah lanjut usia. Ya, stamina mereka memang luar biasa. Kami bergabung untuk shalat Tahajud di pelataran datar yang telah ditutup karpet seadanya. Juga shalat Subuh berjamaah.</p>
<p>Bagaimana Gua Tsur yang bersejarah itu? Luasnya tak seberapa, pintu masuknya hanya cukup untuk satu orang dan setengah membungkuk untuk memasukinya. Di dalam goa, kita tak bisa berdiri. Saya duduk di bagian datar gua itu, tempat dulu Abu Bakar duduk dan Rasulullah merebahkan kepala di pangkuannya.</p>
<p>Keluar dari sisi lain gua, saya disambut hal yang sungguh merusak pemandangan: Penjual minuman yang tendanya menutupi mulut gua. Terpal biru yang menutupnya sungguh kumal.</p>
<p>Namun, saya tak begitu kaget. Saat berkunjung ke Jabal Rahmah beberapa hari setelah tiba di Makkah, saya sudah cukup terkaget-kaget dengan 15 menit pendakian saya berakhir dengan pemandangan puncak bukit yang ganjil: Tugu peringatan pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa dan barisan pedagang tasbih yang menggelar dagangannya di bawah tugu itu!</p>
<p>Menurut saya, dalam soal pelestarian objek-objek bersejarah, pemerintah Makkah agak teledor. Jabal Tsur, Jabal Rahmah, dan Jabal Nur, dipenuhi aksi vandalisme; coretan di sana-sini. Sampah bertebaran dan menghiasi cekungan sepanjang bukit.</p>
<p>Puluhan pria &#8211;rata-rata berasal dari India&#8211; dengan sekop pura-pura meratakan batu dan ujung-ujungnya meminta uang satu riyal dari jamaah. Mirip oknum yang pura-pura mengerjakan perbaikan jalan rusak di pinggiran Jakarta dan meminta uang dari pengguna jalan.</p>
<p>Banyak tempat bersejarah juga berubah dari kondisi aslinya. Masjid Jin, misalnya, bangunan hasil renovasi tak lagi sama dengan bentuk aslinya. Dinding ditutup keramik dan ornamen arsitektur modern tampil di sana-sini. Di masjid itu, susah saya menemukan &#8220;penjiwaan&#8221; saat utusan jin mendatangi Rasulullah dan melakukan bai&#8221;at serta bersyahadat.</p>
<p>Sekarang di Jabal Tsur, tempat yang sungguh penting dalam sejarah penyebaran <em>dienullah</em>, kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Bayangkan, mulut gua dipersandingkan dengan tenda kumal seadanya pedagang minuman yang melayani pembeli dengan lupa tersenyum pula. Ironis sekali. Sayang sungguh sayang. mch/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/ironi-di-jabal-tsur/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/14/ironi-di-jabal-tsur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengunjungi Masjid Baiat di Jamarat Mina</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/12/mengunjungi-masjid-baiat-di-jamarat-mina/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/12/mengunjungi-masjid-baiat-di-jamarat-mina/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 23:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=2331</guid>
		<description><![CDATA[MINA&#8211;Tempat melontar jumrah di Mina yang dikenal dengan Jamarat saat ini dibangun amat sangat megah. Dilihat dari jauh tampak seperti bendungan raksasa yang dihiasi kilauan sinar lampu yang terang benderang. Kalau dilihat dari jarak dekat, Jamarat mirip kapal pesiar yang mampu menampung ratusan ribu orag dalam satu waktu. Dengan membuat Jamarat bertingkat lima dengan areal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><img class="alignleft size-full wp-image-2332" title="Masjid-Baiat" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/12/Masjid-Baiat.jpg" alt="Masjid-Baiat" width="325" height="244" />MINA&#8211;</span>Tempat melontar jumrah di Mina yang dikenal dengan Jamarat saat ini dibangun amat sangat megah. Dilihat dari jauh tampak seperti bendungan raksasa yang dihiasi kilauan sinar lampu yang terang benderang. Kalau dilihat dari jarak dekat, Jamarat mirip kapal pesiar yang mampu menampung ratusan ribu orag dalam satu waktu. Dengan membuat Jamarat bertingkat lima dengan areal melontar yang semakin luas, ditambah dengan penggantian tugu Jamarat menjadi tembok, peluang terjadinya peristiwa desak-desakan saat lontar jumrah dapat dihindarkan.</p>
<div>
<p>Di antara areal bangunan Jamarat yang megah, terdapat masjid kecil yang jelek dan kuno di belakang Jumrah Aqabah. Jaraknya tak lebih dari 50 meter dari seluruh bangunan Jamarat yang megah itu, terdapat masjid kuno. Masjidnya dicat warna krem, tidak beratap, berukuran sekitar 7 X 10 meter , tapi tidak ada jemaah di dalamnya. Bagaimana mungkin ada jemaah, pagar besi yang mengelilinginya selalu dikunci siang malam. Lagi pula tak ada tempat berwudhu dan toilet sebagaimana lazimnya masjid. Meski demikian, pengunjung bisa melihat isi dalamnya masjid. Sebab, pintu dari sayap kanan tak berpintu.</p>
<p>Inilah Masjid Baiat, masjid yang dibangun oleh Dinasti Abbasiah untuk menghormati Abbas bin Abdul Muthalib. Abbas adalah paman Rasulullah saw, yang anak keturunannya kemudian membangun Dinasti Abbasiah. Sebagian orang menganggap bahwa masjid ini dibangun oleh jin saat mereka melakukan baiat kepada Rasulullah. Namun anggapan ini tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena Masjid Jin memang ada di Kota Mekah sebagai penanda terjadinya baiat para jin yang beriman kepada Rasulullah.</p>
<p>Masjid ini konon sempat terkubur tanah. Namun dalam proses pembangunan besar-besaran Jamarat, budozer yang melakukan pengerukan tanah terantuk batu yang sangat keras. Setelah diteliti, ternyata batu keras tersebut merupakan masjid. Maka, masjid itu dibiarkan seperti apa adanya. Meski demikian, masjid ini tidak difungsikan sebagaimana masjid pada umumnya, hanya sebagai tempat berziarah.</p>
<p>Mezki demikian, bentuk masjid dipelihara. Misalnya tempat imam salat diberi sajadah. Demikian pula dua saf di belakang imam. Semua sajadah dibiarkan kotor dan berdebu, karena memang tidak digunakan. Di tempat imam juga terdapat tempat menaruk microphone sehingga terkesan masjid ini aktif digunakan. Di beberapa sudut terdapat tempat Alquran.</p>
<p>Karena masjid terbuka tanpa atap, maka dalamnya masjid tak ubahnya pelataran. Tak ada tegel yang bagus apalagi marmer sebagaimana Masjidilharam. Tapi inilah peninggalan sejarah yang dihargai pemerintah Arab Saudi. Padahal, biasanya kerajaan ini biasanya membangun sesuatu secara fungsional, meskipun harus mengabaikan nilai sejarah yang sangat besar. Meski demikian, kali ini, Masjid Baiat dibiarkan apa adanya. Itulah sebabnya, di luar musim haji, masyarakat Arab juga suka mengunjungi masjid ini.</p>
<p><strong>Menghormati Abbas</strong></p>
<p>Masjid Baiat dibangun oleh Dinasti Abbasiah untuk menghormati Abbas bin Abdul Muthalib. Masjid ini dibangun sebagai penghormatan atas terjadinya Baiat Aqabah, karena di tempat inilah kaum Yatsrib (masyarakat Madinah) melakukan baiat kepada Rasulullah untuk taat dan tidak melakukan syirik. Ketika itu, Rasulullah saw. ditemani pamannya Abbas bin Abdul Muthalib yang belum beriman. Meski demikian, ia sangat memperhatikan kepada keponakannya dan sangat menjaga keselamatannya.</p>
<p>Wikipedia menjelaskan, baiat di Aqabah terjadi dua kali. Baiat Aqabah pertama yang terjadi tahun 621 M, yaitu perjanjian antara Rasulullah dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka memeluk Islam. Baiat Aqabah ini terjadi pada tahun kedua belas kenabiannya. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia) kepada Muhammad. Adapun isi baiat itu, penduduk Yatsrib tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun; Mereka akan melaksanakan apa yang Allah perintahkan; Dan ketiga, mereka akan meninggalkan larangan Allah .</p>
<p>Setahun kemudian, tahun 622 M, Rasulullah kembali melakukan baiat di Aqabah. Kali ini perjanjian dilakukan Rasulullah terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita dari Yatsrib. Wanita itu adalah Nusaibah bintu Ka`ab dan Asma` bintu `Amr bin `Adiy. Perjanjian ini terjadi pada tahun ketiga belas kenabian. Mushâ��ab bin â��Umair yang ikut berbaiat pada Baiat Aqabah pertama kembali ikut bersamanya beserta dengan penduduk Yatsrib yang sudah terlebih dahulu masuk Islam.</p>
<p>Mereka menjumpai Rasulullah di Aqabah pada suatu malam. Muhammad datang bersama pamannya Abbas bin Abdil Muthallib. Meskipun saat itu Abbas masih musyrik, namun ia ingin meminta jaminan keamanan keponakannya Muhammad, kepada orang-orang Yatsrib itu. Ketika itu, Abbas menjadi orang pertama yang angkat bicara kemudian disusul oleh Muhammad yang membacakan beberapa ayat Alquran dan menyerukan tentang Islam.</p>
<p>Kemudian orang-orang Yatsrib itu membaiat Muhammad. Isi baiatnya adalah, mereka akan mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci; Mereka akan berinfak, baik dalam keadaan sempit maupun lapang; Mereka akan beramar maâ��ruf dan nahi munkar. Mereka juga berjanji agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah; Dan mereka berjanji akan melindungi Muhammad sebagaimana mereka melindungi para wanita dan anak mereka sendiri.</p>
<p>Setelah baiat itu, Muhammad kembali ke Mekah untuk meneruskan dakwah. Kemudian ia mendapatkan gangguan dari kaum musyrikin kepada kaum muslimin yang dirasa semakin keras. Maka Muhammad memberikan perintah kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Yatsrib. Baik secara sendiri-sendiri, maupun berkelompok. Mereka berhijrah dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kaum musyrikin tidak mengetahui kepindahan mereka.  mch/yto</p></div>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/12/12/mengunjungi-masjid-baiat-di-jamarat-mina/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/12/12/mengunjungi-masjid-baiat-di-jamarat-mina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mina Menjadi Projek Terpadu</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/mina-menjadi-projek-terpadu/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/mina-menjadi-projek-terpadu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 03:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=2019</guid>
		<description><![CDATA[MINA&#8211;Kawasan Mina, yang kini sudah megah dengan berdirinya gedung melempar jumrah, masih akan dikembangkan lagi. Kelak jemaah haji tak perlu tidur berdesak-desakan di tenda. Di sana akan dibangun ratusan tower yang menampung satu juta jemaah. Tahap petama sudah terealisasi dengan berdirinya enam tower yang mampu menampung 12.000 jemaah. Enam tower tersebut dibangun di atas lahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2020" title="mina-malam-hari" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/mina-malam-hari.jpg" alt="mina-malam-hari" width="325" height="211" />MINA&#8211;Kawasan Mina, yang kini sudah megah dengan berdirinya gedung melempar jumrah, masih akan dikembangkan lagi. Kelak jemaah haji tak perlu tidur berdesak-desakan di tenda. Di sana akan dibangun ratusan tower yang menampung satu juta jemaah. Tahap petama sudah terealisasi dengan berdirinya enam tower yang mampu menampung 12.000 jemaah.</p>
<p>Enam tower tersebut dibangun di atas lahan 2,5 hektare. Lokasinya dekat Jamarat. Jemaah haji bisa melihatnya di sebelah kanan ketika hendak melempar jumrah. Masing-masing tower terdiri atas 12 lantai. Penginapan itu didisain setingkat hotel berbintang.</p>
<p>Seperti halnya Masjidilharam, kawasan Mina nanti juga akan dikembangkan menjadi kawasan terpadu. Tempat bermalam dan melempar jumrah setelah wukuf di Arafah itu akan dilengkapi tempat perbelanjaan, restoran, pelayanan kesehatan, dan lainnya. Nantinya kamar mandi dan WC-nya juga tidak seperti sekarang yang kecil-kecil, sederhana dan berserakan di mana-mana. Semuanya akan dibikin modern.</p>
<p>Fasilitas kesehatan yang dikembangkan antara lain rumah sakit Mina Wadi. Rekonstruksinya sudah dilakukan tahun ini. Rumah sakit itu berkapasitas l94 tempat tidur. Disediakan pula 25 ruang untuk pasien sengatan panas matahari, 25 ruang perawatan intensif, 24 ruang observasi, serta dua ruang operasi.</p>
<p>Sekarang di kompleks tersebut juga sudah ada rumah sakit Mina Al-Jisr. Rumah sakit ini memiliki 140 tempat tidur, 28 ruang perawatan intensif, 4 ruang operasi dan sejumlah klinik rawat jalan. Yang lebih kecil juga ada yaitu Mina New Road Hospital yang memiliki 50 tempat tidur.</p>
<p>Projek Mina terpadu tersebut meliputi lahan sekitar 650 hektare. Awalnya berupa lembah di sela-sela bukit batu. Amparan padang pasir itu telah dimanfaatkan untuk mendirikan tenda bagi jemaah haji yang tahun ini mencapai 2,5 juta.</p>
<p>Mina yang berjarak 20 kilometer dari Mekah oleh bangsa Arab disebut Muna atau Pengharapan. Ritual di sana meriwayatkan saat Nabi Adam dibisiki mengenai harapan bertemu dengan Siti Hawa yang berpisah selama 200 tahun. Keduanya diusir dari Taman Firdaus karena melanggar larangan Allah memakan buah Khuldi.</p>
<p>Mina yang sempit itu sudah beberapa kali diperluas. Terakhir dengan mengolor lokasi ke wilayah Muzdalifah. Namun masih belum cukup juga. Kini bukit di kanan-kiri Mina dipotong seperti halnya bukit-bukit di sekitar Masjidilharam. Di bekas bukit itulah nanti tower akomodasi, pusat perbelanjaan, dan sarana sosial dibangun. Semua itu untuk mendukung projek Jamarat yang memakan lahan 20 hektare.</p>
<p>Jamarat lima lantai yang dioperasikan kali pertama saat melempar jumrah nanti masih akan dikembangkan lagi. Pemerintah Arab Saudi berobsesi meninggikannya lagi hingga menjadi 12 lantai. Konstruksi dasar sudah disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Sehingga kelak akan menampung lima juta jemaah.</p>
<p>Tahun ini sebagian Jamarat sudah dilengkapi eskalator. Sehingga jemaah merasa sangat nyaman. Apalagi suhu udara dikondisikan maksimum 29 derajat celsiun di semua lantai. Kini untuk naik ke lantai tiga ke atas harus naik tangga.</p>
<p>Projek Mina dilengkapi pula delapan rumah jagal yang dibangun oleh Bank Pembangunan Islam. Kelak akan menampung l,5 juta hewan kurban. Lokasinya di lembah Muaishim, timur Mina. Sebelumnya, hewan kurban disembelih di dekat Jamarat sehingga mengganggu kesehatan dan lingkungan.</p>
<p>Untuk mencapai Mina, kini telah dibangun 25 terowongan yang menghubungkan Mekah, termasuk 41 jembatan, jembatan layang (flyover) dan jalan sepanjang 70 km. Akses akan semakin nyaman kelak kalau projek monorel sudah selesai. Tiang- jalan monorel itu sudah kelihatan berdiri di Mina. Tahun depan sudah dioperasikan. mch/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/mina-menjadi-projek-terpadu/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/mina-menjadi-projek-terpadu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jabal Tsur, Pelindung Rasulullah dari Kafir Quraisy</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/jabal-tsur-pelindung-rasulullah-dari-kafir-quraisy/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/jabal-tsur-pelindung-rasulullah-dari-kafir-quraisy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 02:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=2012</guid>
		<description><![CDATA[Memandang ke arah selatan dari Masjidil Haram di Kota Makkah, akan tampak barisan bukit batu terhampar memanjang. Berjarak lima kilometer dari Kota Makkah, barisan bukit batu tersebut adalah Jabal Tsur, perbukitan tertinggi di Makkah Al-Mukarromah. Jabal Tsur atau Gunung Tsur memiliki tiga puncak yang bersambungan dan berdekatan. Di salah satu puncak Jabal Tsur itulah terdapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2013" title="gua-tsur" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/gua-tsur.jpg" alt="gua-tsur" width="325" height="216" />Memandang ke arah selatan dari Masjidil Haram di Kota Makkah, akan tampak barisan bukit batu terhampar memanjang. Berjarak lima kilometer dari Kota Makkah, barisan bukit batu tersebut adalah Jabal Tsur, perbukitan tertinggi di Makkah Al-Mukarromah.</p>
<p>Jabal Tsur atau Gunung Tsur memiliki tiga puncak yang bersambungan dan berdekatan. Di salah satu puncak Jabal Tsur itulah terdapat Gua Tsur.Gua Tsur merupakan tempat yang dijadikan perlindungan Rasulullah Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar RA. Rasul dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraiys.</p>
<p>Kala itu, tahun 622 Masehi, Rasulullah Muhammad SAW berniat hijrah ke Kota Madinah untuk mencari tempat penyebaran Islam yang lebih kondusif. Namun, kaum kafir Quraisy yang tak menginginkan ajaran Muhammad menyebar ke luar Makkah, melakukan pengejaran untuk menghalangi niat Rasulullah.</p>
<p>Dalam kondisi terdesak, Rasulullah dan Abu Bakar memilih masuk ke Gua Tsur atas petunjuk yang diberikan Allah SWT melalui malaikat Jibril. Di gua yang berada di Jabal Tsur nan tandus itulah Rasulullah dan Abu Bakar berlindung selama tiga hari tiga malam.</p>
<p>Upaya pengejaran kaum kafir Quraisy menemui jalan buntu manakala sampai di sekitar gua. Kendati sudah berada di depan pintu masuk gua, kaum kafir Quraisy terkecoh dengan keberadaan sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang menutupi jalan masuk ke gua.</p>
<p>Kaum kafir Quraisy tak melanjutkan mengejar ke dalam gua. Mereka berpandangan, tak mungkin ada orang yang sebelumnya masuk tanpa merusak sarang laba-laba dan membuat burung merpati terbang dari sarangnya. Dengan logika itu, kaum kafir Quraisy pun angkat langkah dan menghentikan pengejaran, kembali ke Kota Makkah.</p>
<p>Peristiwa pertolongan di Jabal Tsur serta persembunyian Rasulullah Muhammad SAW dan Abu Bakar di Gua Tsur diabadikan melalui firmah Allah SWT dalam Surat At-Taubah ayat 40. Ayat itu berbunyi: &#8221;&#8221;Bila kamu tidak mau menolong Rasul, maka Allah SWT telah menjamin menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya.</p>
<p>Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada sahabatnya, &#8221;Janganlah engkau berduka cita, karena Allah SWT bersama kita.&#8221; Lalu Allah SWT menurunkan ketenangan hati (kepada Muhammad) dan membantunya dengan pasukan-pasukan yang tiada tampak olehmu. Dijadikan-Nya kepercayaan orang-orang kafir paling rendah dan agama Allah SWT menduduki tempat teratas. Sesungguhnya Allah SWT Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.&#8221;&#8221;</p>
<p>Dulu, saat musim haji banyak jamaah yang berupaya naik ke Jabal Tsur dan melihat Gua Tsur. Namun, kondisi medan bukit yang terjal serta waktu tempuh yang cukup lama, sekitar 2-3 jam untuk mencapai gua, membuat Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan larangan naik ke Jabal Tsur.</p>
<p>Jamaah kini hanya bisa menyaksikan Jabal Tsur dari bawah bukit. Bila jamaah kebetulah ikut rombongan yang melakukan rangkaian ziarah di Kota Makkah, maka bus pembawa rombongan akan berhenti di bawah bukit Jabal Tsur. Pemandu ziarah biasanya akan menceritakan sejarah peristiwa di zaman Rasulullah yang terjadi di Jabal Tsur.</p>
<p>Sambil mendengarkan penjelasan pemandu ziarah, jamaah bisa mendokumentasikan momentum berada di Jabal Tsur dengan latar belakang puncak bukit Jabal Tsur. Ada pula unta-unta yang bisa disewa untuk sekadar berkeliling dan berfoto di areal kaki bukit Jabal Tsur. Sayang, jamaah tak bisa naik melongok lokasi Gua Tsur. Kalau dulu, jamaah yang berfisik kuat biasanya memaksakan naik ke Gua Tsur dan melakukan shalat sunah di dalam gua. ismail ed:m as&#8221;adi/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/jabal-tsur-pelindung-rasulullah-dari-kafir-quraisy/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/23/jabal-tsur-pelindung-rasulullah-dari-kafir-quraisy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makam Rasulullah</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/makam-rasulullah/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/makam-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 03:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1899</guid>
		<description><![CDATA[MADINAH&#8211;Untuk saat-saat ini jemaah calon haji yang berziarah ke makam Rasulullah dapat melihatnya langsung karena kisi-kisi yang menutupinya dibuka oleh aparat yang menjaga makam nabi itu. Selain makam Rasullullah juga bisa pula dilihat makam Abu Bakar Ass-siddiq dan Umar Bin Khottab yang berada di sisi makam nabi. Alamsyah Hanafiah, jemaah Indonesia yang berkesmpatan melihat langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1900" title="makam-rosulullah" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/makam-rosulullah.jpg" alt="makam-rosulullah" width="325" height="219" />MADINAH&#8211;Untuk saat-saat ini jemaah calon haji yang berziarah ke makam Rasulullah dapat melihatnya langsung karena kisi-kisi yang menutupinya dibuka oleh aparat yang menjaga makam nabi itu. Selain makam Rasullullah juga bisa pula dilihat makam Abu Bakar Ass-siddiq dan Umar Bin Khottab yang berada di sisi makam nabi.</p>
<p>Alamsyah Hanafiah, jemaah Indonesia yang berkesmpatan melihat langsung makam pembawa ajaran Islam tersebut menandaskan, dengan melihat langsung makam Rasulullah semakin mendekatkan secara psikologis antara nabi dan umatnya.</p>
<p>Makam tersebut lanjut Alamsyah menjadi bukti konkrit bagi dirinya akan kebenaran nabi dan ajaran yang dibawanya. Karena selama ini yang dia dengar hanyalah cerita dari masa lalu. Dengan melihat langsung makam nabi, ada gambaran baginya tentang sosok nabi tersebut sehingga menambah keyakinan tentang ajaran yang dibawanya.</p>
<p>Makam rasululloh ini, terletak dibagian sebelah kiri masjid, dan dahulunya merupakan kamar pribadi Rasulullah SAW dan isterinya. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar yang tetap dalam kondisinya seperti semula, sampai pada tahun 90 H, kamar tersebut dijadikan sebagai bagian dari masjid.</p>
<p>Kemudian di sekeliling makam yang itu dibangun tembok berbentuk segi lima pada masa Khalifah al Walid dari Dinasti Umayyah, agar tidak serupa dengan kabah yang berbentuk persegi empat, sehingga tidak dikhawatirkan untuk dijadikan sebagai qiblat shalat.</p>
<p>Orang pertama kali membuatkan penutup bagi makam itu adalah Abdullah ibn Abi al Haija, salah seorang pemimpin Dinasti Fathimiyah dari Mesir. Pada tahun 557 H, dibuatkan penutup dari logam yang ditanam disekitar Makam Nabi SAW, agar tidak terjadi pencurian atas jasad nabi. Tahun 668 H, dibangun kisi-kisi penutup disekitar makam, dan termasuk rumah. Fathimah , juga dimasukkan didalamnya. Kisi-kisi tersebut memiliki empat pintu, yang keadaannya tidak ada perubahan sampai saat ini. mch/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/makam-rasulullah/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/16/makam-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Dua Kiblat</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/05/masjid-dua-kiblat/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/05/masjid-dua-kiblat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 03:56:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1798</guid>
		<description><![CDATA[Di dekat sebuah bukit kecil, di kawasan utara Harrah Wabrah, Madinah, terdapat sebuah masjid nan elok. Bercat putih dengan dua menara menjulang ke langit, masjid yang mempunyai dua kubah tersebut bernama Masjid Qiblatain. Qiblatain artinya dua kiblat. Sebelum bernama Masjid Qiblatain, masjid yang terletak sekitar 7 kilometer dari Masjib Nabawi tersebut bernama Masjid Bani Salamah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1799" title="qiblatain" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/11/qiblatain-300x225.jpg" alt="qiblatain" width="300" height="225" />Di dekat sebuah bukit kecil, di kawasan utara Harrah Wabrah, Madinah, terdapat sebuah masjid nan elok. Bercat putih dengan dua menara menjulang ke langit, masjid yang mempunyai dua kubah tersebut bernama Masjid Qiblatain. Qiblatain artinya dua kiblat.</p>
<p>Sebelum bernama Masjid Qiblatain, masjid yang terletak sekitar 7 kilometer dari Masjib Nabawi tersebut bernama Masjid Bani Salamah. Semula, di dekat Masjid Bani Salamah ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah. Sumur itu adalah sumber air terdekat dengan masjid yang dimiliki orang Yahudi.</p>
<p>Mengingat pentingnya air untuk masjid, atas anjuran Rasulullah SAW, Khalifah Usman bin Affan menebus telaga sumur orang Yahudi itu seharga 20 ribu dirham. Usman pun kemudian mewakafkan sumur untuk kepentingan masjid. Sumur itu sampai kini masih berfungsi dengan baik. Airnya digunakan untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Namun, sekarang, bentuk fisik sumur sudah tidak kelihatan karena ditutup dengan tembok.</p>
<p>Perubahan nama masjid bermula pada peristiwa penting yang dialami Rasulullah SAW serta para sahabat. Saat itu, bulan Rajab tahun 12 Hijriyah. Rasulullah dan para sahabat tengah menunaikan shalat berjamaah siang hari. Sebagian hadis meriwayatkan, shalat jamaah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat adalah shalat Zuhur. Tapi, sebagian hadis ada yang menerangkan bahwa shalat itu adalah shalat Ashar berjamaah.</p>
<p>Kala itu, kiblat shalat masih menghadap ke arah Masjidil Aqsa di Palestina. Di tengah shalat berlangsung pada rakaat ketiga, Rasulullah SAW menerima wahyu yang memerintahkan kiblat shalat diubah ke arah Masjidil Haram di Makkah.</p>
<p>&#8220;Sungguh, Kami melihat mukamu menengadah ke langit. Maka, sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan, di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan, sesungguhnya, orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.&#8221; (QS Albaqarah ayat 144).</p>
<p>Seketika itu pula, Rasulullah yang sedang mengimami shalat mengubah kiblat ke arah Ka&#8221;&#8221;bah. Tanpa membatalkan atau mengulangi shalat, Rasulullah berputar 180 derajat, dari semula ke arah Masjidil Aqsa kemudian menghadap ke arah Masjidil Haram. Para sahabat mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Peristiwa perubahan kiblat inilah yang melatarbelakangi pemberiaan nama Masjid Qiblatain pada Masjid Bani Salamah.</p>
<p>Di zaman Nabi SAW, peristiwa perpindahan kiblat ini mengundang kritik dan celaan kaum kafir. Namun, bagi mereka yang beriman, perpindahan kiblat tidak lantas membuat mereka ragu terhadap Allah SWT dan Muhammad SAW. Mereka justru bertambah keimanannya lantaran wahyu yang turun di Masjid Salamah itu memang telah lama diharapkan kaum Muslim.</p>
<p>Perubahan kiblat shalat juga memengaruhi cara shalat di Masjid Nabawi. Sebelum perubahan kiblat, Nabi Muhammad SAW biasa memimpin shalat dalam Masjid Nabawi dari suatu tempat di seberang Babul Jibriil yang dahulu menghadap ke arah utara. Setelah perintah untuk perubahan kiblat, beliau memimpin shalat dari pilar/tiang Aisyah untuk beberapa hari dan kemudian seterusnya memimpin shalat dari Mihrab Nabawi. Dengan perubahan kiblat, beliau menghadapi ke arah selatan (Baitullah).</p>
<p>Area di seberang Babul Jibriil yang lama kini menjadi bagian belakang Masjid Nabawi. Area ini diperuntukkan bagi Ashabus-Suffah menginap dan belajar.</p>
<p>Dalam perkembangannya, Masjid Qiblatain mengalami beberapa kali pemugaran, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Usmani, hingga era pemerintahan Kerajaan Arab Saudi sekarang. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan. Pada dinding di arah kiblat pertama, tertera bunyi ayat 144 surah Albaqarah. Ada pula tulisan berupa larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama.</p>
<p>Di saat musim haji, Masjid Qiblatain merupakan salah satu primadona lokasi yang masuk ke dalam menu ziarah para jamaah. Tak terkecuali jamaah haji asal Indonesia.</p>
<p>Meskipun Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak memasukkan Masjid Qiblatain dalam daftar masjid yang wajib dikunjungi dalam rangkaian ibadah di Tanah Suci Madinah, masjid dengan dua kiblat ini tidak pernah sepi dari kunjungan jamaah haji.</p>
<p>Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik suri teladan (ibrah) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah dan melaksanakan perintah Allah SWT.</p>
<p>Biasanya, jamaah mengunjungi Masjid Qiblatain sambil menunggu datangnya puncak pelaksanaan ibadah haji.n Ismail ed: m as&#8221;&#8221;adi/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/11/05/masjid-dua-kiblat/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/11/05/masjid-dua-kiblat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Kurma Terbesar di Arab Saudi</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-kurma-terbesar-di-arab-saudi/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-kurma-terbesar-di-arab-saudi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 04:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Belanja]]></category>
		<category><![CDATA[Kurma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1370</guid>
		<description><![CDATA[Kurma dan air zam-zam selalu identik dengan oleh-oleh ibadah haji. Kurma yang paling terkenal adalah kurma Madinah. Selain karena bentuknya lebih besar, daging buahnya kenyal dan kering, menambah atribut rasa manis kurma Madinah. Seperti namanya, kurma ini memang berasal dari Madinah, kota produsen kurma terbesar di Arab Saudi. Hampir bisa dipastikan, setiap jamaah haji dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1201" title="Salah satu sudut Pasar Kurma" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/05/pasar-kurma-300x225.jpg" alt="Salah satu sudut Pasar Kurma" width="300" height="225" />Kurma dan air zam-zam selalu identik dengan oleh-oleh ibadah haji. Kurma yang paling terkenal adalah kurma Madinah. Selain karena bentuknya lebih besar, daging buahnya kenyal dan kering, menambah atribut rasa manis kurma Madinah. Seperti namanya, kurma ini memang berasal dari Madinah, kota produsen kurma terbesar di Arab Saudi.</p>
<p>Hampir bisa dipastikan, setiap jamaah haji dari segala penjuru dunia yang bertandang ke Tanah Suci, akan menjinjing buah cokelat kehitam-hitaman ini sebagai salah satu oleh-oleh mereka.Tak sulit mendapatkan kurma Madinah. Saat berada di Madinah, pergi saja ke Pasar Kurma (Madinah Dates Market ). Letak pasar ini tepat di pusat kota, arah selatan Masjid Nabawi. Hanya berjarak sekitar setengah kilometer dari masjid para nabi, Pasar Kurma berada di kawasan bernama Qurban.</p>
<p>Dari Masjid Nabawi, Anda cukup berjalan ke arah Kubah Hijau dari arah Baqi. Bila wajah Anda sudah menghadap ke arah Kubah Hijau dan membelakangi Baqi, berjalanlah lurus ke depan. Tak berapa lama, Anda akan melihat Pasar Kurma di sisi sebelah kanan. Pasar ini cukup luas dengan  outlet-outlet kurma berjajar. Dijamin tak kesulitan menemukan pasar ini.</p>
<p>Pasar Kurma Madinah yang dibangun pada 1982 oleh Pemerintah Arab Saudi, buka mulai pukul 08.00 sampai pukul 22.00 waktu setempat. Anda bisa membeli aneka kurma di sini, baik kurma murni maupun olahan. Ada puluhan jenis. Sebut saja cokelat isi kurma, kurma isi kacang, kismis, biskuit selai kurma, dan tentunya (buah) kurma Madinah yang terkenal.</p>
<p>Layaknya di pasar-pasar tradisional, para pedagang Pasar Kurma Madinah juga bersaing dalam urusan memberikan harga kepada para calon pembeli. Kejelian memilih aneka jajanan kurma dan kemahiran menawar harga menjadi kunci utama bertransaksi di pasar ini. Tak jarang ada cerita seorang pembeli mendapatkan kurma dengan harga lebih murah dibandingkan pembeli lainnya. Padahal, jumlah makanan dan tempat membelinya sama.</p>
<p>Khusus untuk kurma Madinah, setidaknya ada tiga klasifikasi yang sudah dikenal, yaitu Ajwa, Ambhar, dan Safawi. Kurma Ajwa adalah kurma yang paling diminati. Tak heran, kurma jenis inilah yang paling banyak terdapat di Pasar Kurma.</p>
<p>Bukan rasa ataupun bentuk yang menjadikan Kurma Ajwa diincar para pembeli, melainkan sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: &#8221;&#8221;Barang siapa di waktu pagi makan tujuh butir Kurma Ajwa, pada hari itu ia tidak akan kena racun maupun sihir.&#8221;&#8221;Hadis yang terdapat dalam kumpulan Shahih Bukhari inilah yang membuat kurma berwarna agak kehitaman dan berkulit keriput tersebut menjadi incaran para jamaah.</p>
<p>Mengikuti teori ekonomi, Kurma Ajwa merupakan kurma dengan harga paling mahal dibandingkan kurma jenis lainnya. Menyesuaikan ukuran buah, Kurma Ajwa dibanderol dengan harga 60 riyal sampai 80 riyal untuk satu kilogramnya.</p>
<p>Terkait kualitas buah, di bawah Kurma Ajwa, ada jenis Kurma Ambhar. Untuk satu kilogram kurma ini, pembeli harus mengeluarkan kocek antara 35 riyal sampai 40 riyal, tergantung besar buahnya. Kalau kurma-kurma jenis lain bisa dicicipi sebelum membeli, jangan harap Anda bisa mencicipi Kurma Ajwa dan Kurma Ambhar.</p>
<p>Para pedagang di sana kebanyakan menyatakan haram untuk mencicipi dua jenis kurma terbaik tersebut, kecuali Anda memang benar-benar ingin membelinya. Sedangkan untuk jenis kurma lainnya, jamaah bisa membeli dengan cukup murah.</p>
<p>Hal yang sudah pasti, bila Anda ingin membeli kurma sebagai oleh-oleh, belilah di Madinah. Alasannya tak lain karena kurma dijual lebih murah di Madinah daripada di Makkah. Selisih harga untuk satu kilogram kurma di Madinah dengan di Makkah bisa mencapai setengah kalinya. Contoh saja untuk Kurma Ajwa ukuran kecil dengan harga sekitar 60 riyal di Madinah, maka di Makkah paling murah Anda harus mengeluarkan uang 100 riyal per kilogramnya.<br />
Contoh lain adalah Kurma Safawi yang di Madinah hanya seharga 15 riyal per kilogram, namun di Makkah dijual dengan harga paling murah 20 riyal. ade/yus/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-kurma-terbesar-di-arab-saudi/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-kurma-terbesar-di-arab-saudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Seng Tinggal Kenangan</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-seng-yang-tinggal-kenangan/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-seng-yang-tinggal-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 03:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Belanja]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Seng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1355</guid>
		<description><![CDATA[Sampai musim haji 2006, jamaah yang mendatangi Makkah pastilah mempunyai cerita tentang Pasar Seng. Pasar yang terletak berdekatan dengan Masjidil Haram ini layaknya Pasar Tanah Abang di Jakarta. Bila ditarik garis lurus, Pasar Seng terdapat di ujung jalan dekat perpustakaan atau rumah lahir Nabi Muhammad SAW. Aneka dagangan dijajakan di sana. Bukan saja makanan, segala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1356" title="Pasar Seng (Republika)" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/10/pasar-seng-5-300x204.jpg" alt="Pasar Seng (Republika)" width="300" height="204" />Sampai musim haji 2006, jamaah yang mendatangi Makkah pastilah mempunyai cerita tentang Pasar Seng. Pasar yang terletak berdekatan dengan Masjidil Haram ini layaknya Pasar Tanah Abang di Jakarta.</p>
<p>Bila ditarik garis lurus, Pasar Seng terdapat di ujung jalan dekat perpustakaan atau rumah lahir Nabi Muhammad SAW. Aneka dagangan dijajakan di sana. Bukan saja makanan, segala macam cendera mata seperti pedang hiasan ala Arab, pakaian, jam tangan, tasbih, parfum, minyak wangi, perlengkapan shalat (sajadah, mukenah, peci), buku, dan kaset-kaset Islami, tersedia di pasar legendaris ini.</p>
<p>Cendera mata yang diperdagangkan juga banyak yang buatan Cina, India, Bangladesh, Turki, Mesir, bahkan Indonesia.Konon, penyebutan Pasar Seng karena awalnya bangunan toko yang ada di pasar tersebut beratapkan seng (zinc ). Kecuali, harga-harganya yang relatif murah, ketersediaan segala macam buah tangan untuk dibawa pulang ke tanah air jamaah haji, menjadikan Pasar Seng surga belanja bagi mereka.</p>
<p>Sampai musim haji 2006, Pasar Seng selalu dipadati jamaah. Tak ada toko yang sepi pembeli. Jamaah Indonesia termasuk yang paling ditunggu para pedagang Pasar Seng. Selain jumlahnya yang paling banyak, jamaah haji Indonesia dikenal sebagai jamaah yang &#8221;&#8221;doyan&#8221;&#8221; belanja.</p>
<p>Banyak cerita betapa para pedagang Pasar Seng mencoba menyelami psikologis orang Indonesia dengan memasang gaya keramahan khas masyarakat Nusantara. Ada pedagang yang langsung memeluk dan mencium pipi jamaah haji Indonesia (tentu yang satu jenis kelamin) guna menunjukkan keramahannya.</p>
<p>Kosakata bahasa Indonesia mereka juga kaya kendati tak bisa disebut lancar berbahasa Indonesia. Tujuannya tak lain agar jamaah Indonesia terpikat berbelanja di toko mereka.<br />
Kata-kata fasih seperti, &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Murah, ini satu riyal saja&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; atau &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Halal, murah, beli di sini saja,&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; acap terdengar di Pasar Seng. Tanpa mengurangi keramahannya, pedagang yang tak bisa berbahasa Indonesia langsung menyodorkan kalkulator yang sudah diketik deretan angka penanda harga barang yang ingin dibeli. Bila tertera angka 40, berarti barang yang ingin dibeli jamaah seharga 40 riyal.</p>
<p>Tapi, kini cerita keramaian dan keunikan Pasar Seng tinggal kenangan. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sudah membongkar areal sekitar Masjidil Haram, Makkah, itu guna perluasan kawasan masjid.</p>
<p>Pasar Seng hanyalah satu dari sekian banyak yang menjadi &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;korban&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; kebijakan Pemerintah Arab Saudi. Sejumlah hotel dan bangunan lain di sekitar Masjidil Haram turut tergusur. Bangunan Hotel Sheraton yang megah pun tak mampu mengelak dari penggusuran.</p>
<p>Ada pula Masjid Kucing dan Hotel Soraya yang berdekatan dengan Pasar Seng dirobohkan. Hotel-hotel lain seperti Qurtuba, Zahret, Darkum, Talal, Firdaus Umrah, dan Firdaus Makkah mengalami nasib sama.</p>
<p>Melalui Surat Keputusan (Qarar) Majelis Ulama Arab Saudi tentang dibolehkannya perluasan  mas&#8221;&#8221;a (tempat sa&#8221;&#8221;i) bernomor 227 tertanggal 22 Safar 1427 H bertepatan tanggal 22 Maret 2006, pemerintah setempat memulai pembongkaran kawasan sekitar Masjidil Haram.</p>
<p>Menurut Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, perluasan  mas&#8221;&#8221;a bertujuan untuk memberikan pelayanan terhadap kenyamanan dan kemudahan para tamu Allah saat melaksanakan ibadah haji.</p>
<p>Yah , begitulah ceritanya. Pasar Seng kini tinggallah kenangan. Perluasan kawasan masjid atas nama kepentingan terhadap para jamaah haji telah mengantarkan Pasar Seng ke lipatan catatan sejarah. Harga yang terpaksa harus dibayar guna kebaikan yang lebih besar lagi.  ade/berbagai sumber/yto</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-seng-yang-tinggal-kenangan/" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-seng-yang-tinggal-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
