<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnalhaji.com &#187; Tempat Belanja</title>
	<atom:link href="http://www.jurnalhaji.com/category/galeri-foto/tempat-belanja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jurnalhaji.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 09:09:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sekilas Tentang Hijaz</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/sekilas-tentang-hijaz/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/sekilas-tentang-hijaz/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 07:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chairul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Belanja]]></category>
		<category><![CDATA[hijaz]]></category>
		<category><![CDATA[madinah]]></category>
		<category><![CDATA[makkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=5986</guid>
		<description><![CDATA[Pada mulanya, Hijaz adalah deretan pegunungan tinggi berawal dari Yaman di bagian selatan dan memanjang ke utara dekat perbatasan Syam. Dinamakan Hijaz karena ia memisahkan Tihamah dan Gaur dari Najed. Secara rinci, Hijaz dikenal sebagai suatu wilayah yang terdiri dari deretan pegunungan, dengan beberapa kota seperti Makkah dan Madinah. Daerah ini memanjang sejajar dengan Laut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5988" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/sekilas-tentang-hijaz/hijaz-mekah-2/" rel="attachment wp-att-5988"><img class="size-medium wp-image-5988" title="hijaz mekah" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2011/10/hijaz-mekah1-300x258.gif" alt="" width="300" height="258" /></a><p class="wp-caption-text">Hijaz di Jazirah Arab. Foto: mideastweb.org</p></div>
<p>Pada mulanya, Hijaz adalah deretan pegunungan tinggi berawal dari Yaman di bagian selatan dan memanjang ke utara dekat perbatasan Syam. Dinamakan Hijaz karena ia memisahkan Tihamah dan Gaur dari Najed. Secara rinci, Hijaz dikenal sebagai suatu wilayah yang terdiri dari deretan pegunungan, dengan beberapa kota seperti Makkah dan Madinah.</p>
<p>Daerah ini memanjang sejajar dengan Laut Merah &#8220;Laut Hijaz&#8221;. Di sebelah selatan Hijaz terdapat Kota Al-Qunfudzah dan Al-Lits, juga mencakup Kota Makkah, Thaif, Jeddah, Rabigh, Mandinah, Yanbu&#8217;, dan kota-kota sekitarnya. Sementara di sebelah utara, terdapat Kota Umm Lajj, Badar Al-Ula, Hanakiyah, dan Madain Shalih.</p>
<p>Dari Laut Merah, sebelah barat Hijaz menuju timur terdapat Tha&#8217;if, Herrat Al-Buqum, Ranyah, Al-Khurmah, kota-kota di timur pegunungan Hijaz, Madinah, Al-Ula, Madain Shalih, dan perbatasan Hijaz yang berujung di Gunung Hadhan, terletak di puncak Najed, sebelah utara Herrat Al-Buqum.</p>
<p>Gunung Hadhan telah dikenal orang-orang Arab tempo dulu. Hal ini dinyatakan dalam ungkapan mereka yang terkenal:<br />
Siapa yang telah melihat Hadhan<br />
Berarti dia telah memasuki wilayah Najed</p>
<p>Maksudnya, seseorang yang berangkat dari Makkah menuju Timur, lalu melihat Gunung Hadhan berarti dia telah memasuki Najed. Saat ini, Hijaz terbagi menjadi dua daerah; Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.</p>
<p>Menurut DR Bakar Abu Zaid, alasan penggunaan nama Hijaz ada dua. Pertama, karena disabuki dan dikelilingi pegunungan atau tanah bebatuan, atau dengan keduannya, sehingga dinamakan Hijaz. Kata &#8220;hijaz&#8221; berasal dari kata &#8220;ihtijaz&#8221;, yaitu mengikat bagian tengah dengan sabuk atau ikat pinggang. Kedua, karena pegunungan dan tanah bebatuannya memisahkan Najed dengan Sarah, Yaman, dan Tihamah, atau memisahkan Syam dengan Ghaur.</p>
<p>Berdasarkan geografis, Hijaz terbagi menjadi dua, yaitu:</p>
<p>1.    Hijaz Madinah, yaitu wilayah yang dibatasi oleh Hirar. Hirar adalah garis yang membentuk gugusan batu-batu hitam yang memanjang dari selatan ke utara dalam rangkaian berurutan. Terkadang melebar, tetapi terkadang menyempit di beberapa tempat. Tepatnya, dari dekat Makkah hingga ke Madinah, lalu Tabuk. Ia berdiri di Herrat Bani Sulaim, Herrat Waqim, Herrat Laila, Herrat Syauran, dan Herrat Api yang merupakan gugusan terpanjang.</p>
<p>2.    Hijaz Aswad, yaitu daerah yang dikelilingi oleh deretan pegunungan Sarah Syanau&#8217;ah. Pegunungan ini merupakan pegunungan terbesar di negara Arab. Sarah artinya puncak sesuatu. Seperti ungkapan ini juga digunakan untuk menyebut punggung unta &#8220;Sarah&#8221;. Wilayah ini membentang dari Gunung Tatslits di sebelah selatan hingga ke Thaif utara.</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Sumber: Atlas Haji &amp; Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/sekilas-tentang-hijaz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Kurma Terbesar di Arab Saudi</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-kurma-terbesar-di-arab-saudi/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-kurma-terbesar-di-arab-saudi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 04:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Belanja]]></category>
		<category><![CDATA[Kurma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1370</guid>
		<description><![CDATA[Kurma dan air zam-zam selalu identik dengan oleh-oleh ibadah haji. Kurma yang paling terkenal adalah kurma Madinah. Selain karena bentuknya lebih besar, daging buahnya kenyal dan kering, menambah atribut rasa manis kurma Madinah. Seperti namanya, kurma ini memang berasal dari Madinah, kota produsen kurma terbesar di Arab Saudi. Hampir bisa dipastikan, setiap jamaah haji dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1201" title="Salah satu sudut Pasar Kurma" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/05/pasar-kurma-300x225.jpg" alt="Salah satu sudut Pasar Kurma" width="300" height="225" />Kurma dan air zam-zam selalu identik dengan oleh-oleh ibadah haji. Kurma yang paling terkenal adalah kurma Madinah. Selain karena bentuknya lebih besar, daging buahnya kenyal dan kering, menambah atribut rasa manis kurma Madinah. Seperti namanya, kurma ini memang berasal dari Madinah, kota produsen kurma terbesar di Arab Saudi.</p>
<p>Hampir bisa dipastikan, setiap jamaah haji dari segala penjuru dunia yang bertandang ke Tanah Suci, akan menjinjing buah cokelat kehitam-hitaman ini sebagai salah satu oleh-oleh mereka.Tak sulit mendapatkan kurma Madinah. Saat berada di Madinah, pergi saja ke Pasar Kurma (Madinah Dates Market ). Letak pasar ini tepat di pusat kota, arah selatan Masjid Nabawi. Hanya berjarak sekitar setengah kilometer dari masjid para nabi, Pasar Kurma berada di kawasan bernama Qurban.</p>
<p>Dari Masjid Nabawi, Anda cukup berjalan ke arah Kubah Hijau dari arah Baqi. Bila wajah Anda sudah menghadap ke arah Kubah Hijau dan membelakangi Baqi, berjalanlah lurus ke depan. Tak berapa lama, Anda akan melihat Pasar Kurma di sisi sebelah kanan. Pasar ini cukup luas dengan  outlet-outlet kurma berjajar. Dijamin tak kesulitan menemukan pasar ini.</p>
<p>Pasar Kurma Madinah yang dibangun pada 1982 oleh Pemerintah Arab Saudi, buka mulai pukul 08.00 sampai pukul 22.00 waktu setempat. Anda bisa membeli aneka kurma di sini, baik kurma murni maupun olahan. Ada puluhan jenis. Sebut saja cokelat isi kurma, kurma isi kacang, kismis, biskuit selai kurma, dan tentunya (buah) kurma Madinah yang terkenal.</p>
<p>Layaknya di pasar-pasar tradisional, para pedagang Pasar Kurma Madinah juga bersaing dalam urusan memberikan harga kepada para calon pembeli. Kejelian memilih aneka jajanan kurma dan kemahiran menawar harga menjadi kunci utama bertransaksi di pasar ini. Tak jarang ada cerita seorang pembeli mendapatkan kurma dengan harga lebih murah dibandingkan pembeli lainnya. Padahal, jumlah makanan dan tempat membelinya sama.</p>
<p>Khusus untuk kurma Madinah, setidaknya ada tiga klasifikasi yang sudah dikenal, yaitu Ajwa, Ambhar, dan Safawi. Kurma Ajwa adalah kurma yang paling diminati. Tak heran, kurma jenis inilah yang paling banyak terdapat di Pasar Kurma.</p>
<p>Bukan rasa ataupun bentuk yang menjadikan Kurma Ajwa diincar para pembeli, melainkan sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: &#8221;&#8221;Barang siapa di waktu pagi makan tujuh butir Kurma Ajwa, pada hari itu ia tidak akan kena racun maupun sihir.&#8221;&#8221;Hadis yang terdapat dalam kumpulan Shahih Bukhari inilah yang membuat kurma berwarna agak kehitaman dan berkulit keriput tersebut menjadi incaran para jamaah.</p>
<p>Mengikuti teori ekonomi, Kurma Ajwa merupakan kurma dengan harga paling mahal dibandingkan kurma jenis lainnya. Menyesuaikan ukuran buah, Kurma Ajwa dibanderol dengan harga 60 riyal sampai 80 riyal untuk satu kilogramnya.</p>
<p>Terkait kualitas buah, di bawah Kurma Ajwa, ada jenis Kurma Ambhar. Untuk satu kilogram kurma ini, pembeli harus mengeluarkan kocek antara 35 riyal sampai 40 riyal, tergantung besar buahnya. Kalau kurma-kurma jenis lain bisa dicicipi sebelum membeli, jangan harap Anda bisa mencicipi Kurma Ajwa dan Kurma Ambhar.</p>
<p>Para pedagang di sana kebanyakan menyatakan haram untuk mencicipi dua jenis kurma terbaik tersebut, kecuali Anda memang benar-benar ingin membelinya. Sedangkan untuk jenis kurma lainnya, jamaah bisa membeli dengan cukup murah.</p>
<p>Hal yang sudah pasti, bila Anda ingin membeli kurma sebagai oleh-oleh, belilah di Madinah. Alasannya tak lain karena kurma dijual lebih murah di Madinah daripada di Makkah. Selisih harga untuk satu kilogram kurma di Madinah dengan di Makkah bisa mencapai setengah kalinya. Contoh saja untuk Kurma Ajwa ukuran kecil dengan harga sekitar 60 riyal di Madinah, maka di Makkah paling murah Anda harus mengeluarkan uang 100 riyal per kilogramnya.<br />
Contoh lain adalah Kurma Safawi yang di Madinah hanya seharga 15 riyal per kilogram, namun di Makkah dijual dengan harga paling murah 20 riyal. ade/yus/yto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-kurma-terbesar-di-arab-saudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Seng Tinggal Kenangan</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-seng-yang-tinggal-kenangan/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-seng-yang-tinggal-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 03:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Belanja]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Seng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=1355</guid>
		<description><![CDATA[Sampai musim haji 2006, jamaah yang mendatangi Makkah pastilah mempunyai cerita tentang Pasar Seng. Pasar yang terletak berdekatan dengan Masjidil Haram ini layaknya Pasar Tanah Abang di Jakarta. Bila ditarik garis lurus, Pasar Seng terdapat di ujung jalan dekat perpustakaan atau rumah lahir Nabi Muhammad SAW. Aneka dagangan dijajakan di sana. Bukan saja makanan, segala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1356" title="Pasar Seng (Republika)" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/10/pasar-seng-5-300x204.jpg" alt="Pasar Seng (Republika)" width="300" height="204" />Sampai musim haji 2006, jamaah yang mendatangi Makkah pastilah mempunyai cerita tentang Pasar Seng. Pasar yang terletak berdekatan dengan Masjidil Haram ini layaknya Pasar Tanah Abang di Jakarta.</p>
<p>Bila ditarik garis lurus, Pasar Seng terdapat di ujung jalan dekat perpustakaan atau rumah lahir Nabi Muhammad SAW. Aneka dagangan dijajakan di sana. Bukan saja makanan, segala macam cendera mata seperti pedang hiasan ala Arab, pakaian, jam tangan, tasbih, parfum, minyak wangi, perlengkapan shalat (sajadah, mukenah, peci), buku, dan kaset-kaset Islami, tersedia di pasar legendaris ini.</p>
<p>Cendera mata yang diperdagangkan juga banyak yang buatan Cina, India, Bangladesh, Turki, Mesir, bahkan Indonesia.Konon, penyebutan Pasar Seng karena awalnya bangunan toko yang ada di pasar tersebut beratapkan seng (zinc ). Kecuali, harga-harganya yang relatif murah, ketersediaan segala macam buah tangan untuk dibawa pulang ke tanah air jamaah haji, menjadikan Pasar Seng surga belanja bagi mereka.</p>
<p>Sampai musim haji 2006, Pasar Seng selalu dipadati jamaah. Tak ada toko yang sepi pembeli. Jamaah Indonesia termasuk yang paling ditunggu para pedagang Pasar Seng. Selain jumlahnya yang paling banyak, jamaah haji Indonesia dikenal sebagai jamaah yang &#8221;&#8221;doyan&#8221;&#8221; belanja.</p>
<p>Banyak cerita betapa para pedagang Pasar Seng mencoba menyelami psikologis orang Indonesia dengan memasang gaya keramahan khas masyarakat Nusantara. Ada pedagang yang langsung memeluk dan mencium pipi jamaah haji Indonesia (tentu yang satu jenis kelamin) guna menunjukkan keramahannya.</p>
<p>Kosakata bahasa Indonesia mereka juga kaya kendati tak bisa disebut lancar berbahasa Indonesia. Tujuannya tak lain agar jamaah Indonesia terpikat berbelanja di toko mereka.<br />
Kata-kata fasih seperti, &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Murah, ini satu riyal saja&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; atau &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;Halal, murah, beli di sini saja,&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; acap terdengar di Pasar Seng. Tanpa mengurangi keramahannya, pedagang yang tak bisa berbahasa Indonesia langsung menyodorkan kalkulator yang sudah diketik deretan angka penanda harga barang yang ingin dibeli. Bila tertera angka 40, berarti barang yang ingin dibeli jamaah seharga 40 riyal.</p>
<p>Tapi, kini cerita keramaian dan keunikan Pasar Seng tinggal kenangan. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sudah membongkar areal sekitar Masjidil Haram, Makkah, itu guna perluasan kawasan masjid.</p>
<p>Pasar Seng hanyalah satu dari sekian banyak yang menjadi &#8221;&#8221;&#8221;&#8221;korban&#8221;&#8221;&#8221;&#8221; kebijakan Pemerintah Arab Saudi. Sejumlah hotel dan bangunan lain di sekitar Masjidil Haram turut tergusur. Bangunan Hotel Sheraton yang megah pun tak mampu mengelak dari penggusuran.</p>
<p>Ada pula Masjid Kucing dan Hotel Soraya yang berdekatan dengan Pasar Seng dirobohkan. Hotel-hotel lain seperti Qurtuba, Zahret, Darkum, Talal, Firdaus Umrah, dan Firdaus Makkah mengalami nasib sama.</p>
<p>Melalui Surat Keputusan (Qarar) Majelis Ulama Arab Saudi tentang dibolehkannya perluasan  mas&#8221;&#8221;a (tempat sa&#8221;&#8221;i) bernomor 227 tertanggal 22 Safar 1427 H bertepatan tanggal 22 Maret 2006, pemerintah setempat memulai pembongkaran kawasan sekitar Masjidil Haram.</p>
<p>Menurut Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, perluasan  mas&#8221;&#8221;a bertujuan untuk memberikan pelayanan terhadap kenyamanan dan kemudahan para tamu Allah saat melaksanakan ibadah haji.</p>
<p>Yah , begitulah ceritanya. Pasar Seng kini tinggallah kenangan. Perluasan kawasan masjid atas nama kepentingan terhadap para jamaah haji telah mengantarkan Pasar Seng ke lipatan catatan sejarah. Harga yang terpaksa harus dibayar guna kebaikan yang lebih besar lagi.  ade/berbagai sumber/Slamet Riyanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/10/22/pasar-seng-yang-tinggal-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Belanja</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/01/pasar-seng/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/01/pasar-seng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 07:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Belanja]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Seng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda pergi haji, &#8220;jangan lupa mampir ke Pasar Seng,” demikian yang sering dilontarkan kepada jamaah haji Indonesia. Lokasi pasar seng berhimpitan dengan Masjidil Haram, hampir semua orang mengetahui keberadaan Pasar Seng. Sebutan Pasar Seng muncul karena pada awalnya lapak di area itu beratapkan seng. Sejak kapan pasar seng muncul tak pernah ada yang mengetahui, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1201" title="Salah satu sudut Pasar Kurma" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/05/pasar-kurma-300x225.jpg" alt="Salah satu sudut Pasar Kurma" width="300" height="225" />Jika Anda pergi haji, &#8220;jangan lupa mampir ke Pasar Seng,” demikian yang sering dilontarkan kepada jamaah haji Indonesia. Lokasi pasar seng berhimpitan dengan Masjidil Haram, hampir semua orang mengetahui keberadaan Pasar Seng.</p>
<p>Sebutan Pasar Seng muncul karena pada awalnya lapak di area itu beratapkan seng. Sejak kapan pasar seng muncul tak pernah ada yang mengetahui, yang pasti pasar Seng telah ada sejak lama. Pasar seng menjadi tujuan utama belanja sebagian besar jamaah haji karena terkenal harganya yang relatif murah dan tersedia berbagai barang oleh-oleh dari tanah suci.</p>
<p>Namun dengan pembangunan Masjidil Haram yang saat ini sedang dilakukan, pasar seng akan tinggal kenangan. Pasalnya pasar yang selalu menjadi tujuan utama belanja para jamaah haji akan diratakan dengan tanah.</p>
<p>Banyak produk yang bisa dibawa sebagai cinderamata dari tanah suci, bursa sajadah dipasar seng akan menjawab keinginan jamaah, mulai dari tasbih, sajadah samapai pernak-pernik kebutuhan sholat bagi kaum hawa maupun adam. Jika minyak wangi menjadi pilihan sebagai cinderamata, Anda bisa mencari di pertokoan sekitar masjidil haram.</p>
<p>Atau ingin membawa makanan khas arab saudi, tidak jauh dari masjid Nabawi di Madinah Al-munawaroh ada pasar kurma dengan berbagai jenis dan harga./Slamet Riyanto</p>

<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-7-495">

	<!-- Slideshow link -->
	<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://www.jurnalhaji.com/2009/05/01/pasar-seng/?show=slide">
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>

	
	<!-- Thumbnails -->
		
	<div id="ngg-image-5" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/h-1.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="h-1.jpg" alt="h-1.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_h-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-13" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/kurma-1.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="kurma-1.jpg" alt="kurma-1.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_kurma-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-14" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/minyak-wangi-1.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="minyak-wangi-1.jpg" alt="minyak-wangi-1.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_minyak-wangi-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-15" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/minyak-wangi-2.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="minyak-wangi-2.jpg" alt="minyak-wangi-2.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_minyak-wangi-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-16" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/minyak-wangi-3.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="minyak-wangi-3.jpg" alt="minyak-wangi-3.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_minyak-wangi-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-23" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/kurma-1_0.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="kurma-1_0.jpg" alt="kurma-1_0.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_kurma-1_0.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-24" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/minyak-wangi-1_0.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="minyak-wangi-1_0.jpg" alt="minyak-wangi-1_0.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_minyak-wangi-1_0.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-25" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/minyak-wangi-2_0.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="minyak-wangi-2_0.jpg" alt="minyak-wangi-2_0.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_minyak-wangi-2_0.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-26" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/minyak-wangi-3_0.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="minyak-wangi-3_0.jpg" alt="minyak-wangi-3_0.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_minyak-wangi-3_0.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-27" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/pasar-seng-1.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="pasar-seng-1.jpg" alt="pasar-seng-1.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_pasar-seng-1.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-28" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/pasar-seng-2.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="pasar-seng-2.jpg" alt="pasar-seng-2.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_pasar-seng-2.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-29" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/pasar-seng-3.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="pasar-seng-3.jpg" alt="pasar-seng-3.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_pasar-seng-3.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-30" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/pasar-seng-4.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="pasar-seng-4.jpg" alt="pasar-seng-4.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_pasar-seng-4.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-49" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/pedagang-01.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="pedagang-01.jpg" alt="pedagang-01.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_pedagang-01.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 		
	<div id="ngg-image-50" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
		<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/pedagang-02.jpg" title=" " class="shutterset_set_7"  rel="lightbox[495]">
								<img title="pedagang-02.jpg" alt="pedagang-02.jpg" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/gallery/tempat-belanja/thumbs/thumbs_pedagang-02.jpg" width="100" height="75" />
							</a>
		</div>
	</div>
	
		
 	 	
	<!-- Pagination -->
 	<div class='ngg-clear'></div>
 	
</div>


]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2009/05/01/pasar-seng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

