<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnalhaji.com &#187; Konsultasi</title>
	<atom:link href="http://www.jurnalhaji.com/category/konsultasi-haji-umrah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jurnalhaji.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 13:18:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menghajikan Orang Tua Padahal Belum Berhaji</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/05/menghajikan-orang-tua-padahal-belum-berhaji/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/05/menghajikan-orang-tua-padahal-belum-berhaji/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 09:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[menghajikan orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6662</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu alaikum wr wb Yth Pak ustadz, Apakah ada larangan apabila saya  membiayai haji kedua orangtua padahal saya sendiri belum berhaji (tetapi saya sudah daftar haji dan insya Allah  baru beberapa tahun setelah orang tua berhaji)? Terima kasih, Wassalamu alaikum wr wb NN-Jkt Jawaban : Waalaikum Salam Wr Wb Semoga Allah memberikan rahmat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong><br />
<em></em></p>
<p><em>Assalamu alaikum wr wb</em><br />
Yth Pak ustadz,</p>
<p>Apakah ada larangan apabila saya  membiayai haji kedua orangtua padahal saya sendiri belum berhaji (tetapi saya sudah daftar haji dan insya Allah  baru beberapa tahun setelah orang tua berhaji)?</p>
<p>Terima kasih,<br />
Wassalamu alaikum wr wb</p>
<p>NN-Jkt</p>
<p><strong>Jawaban :</strong><br />
<em></em></p>
<p><em>Waalaikum Salam Wr Wb</em><br />
Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua</p>
<p>Tidak ada larangan yang mengatakan hal itu. Yang ada adalah bahwa salah satu syarat orang berhaji atas nama orang lain adalah ia sudah berhaji.</p>
<p>Kasus saudara tidak berhaji atas nama orang tua tetapi memberikan dana kepada orang tua agar bisa berhaji, Hukumnya boleh. Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Bahkan hal itu dapat dikatagorikan sebagai berbuat baik kepada kedua orang tua, yang besar pahalanya, sesuai perintah Allah di dalam surat an-Nisa&#8217; : 36  &#8220;dan sembahlah Allah dan jangan sekali-kali menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/05/menghajikan-orang-tua-padahal-belum-berhaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghajikan Orang Tua dengan Sisa Pinjaman</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/03/menghajikan-orang-tua-dengan-sisa-pinjaman/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/03/menghajikan-orang-tua-dengan-sisa-pinjaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 09:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[menghajikan orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6669</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu&#8217;alaikum wr wb Pak Ustadz, ada teman saya yang mengambil pinjaman dengan cicilan tetap dipotong dari gaji bulanannya,dengan agunan (SK PNS) untuk membayar hutangnya(sisa cicilan rumah). Sisa pinjaman beliau pakai untuk menghajikan orangtuanya dengan alasan orangtua sudah lanjut dan punya keinginan ke tanah suci,sedang tabungan belum juga mencukupi.Pinjaman tersebut lunas (krn ada asuransi) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<p>Pak Ustadz, ada teman saya yang mengambil pinjaman dengan cicilan tetap dipotong dari gaji bulanannya,dengan agunan (SK PNS) untuk membayar hutangnya(sisa cicilan rumah). Sisa pinjaman beliau pakai untuk menghajikan orangtuanya dengan alasan orangtua sudah lanjut dan punya keinginan ke tanah suci,sedang tabungan belum juga mencukupi.Pinjaman tersebut lunas (krn ada asuransi) bila misalkan (maaf) beliau meninggal sehingga tidak meninggalkan beban hutang bagi ahli waris)Apakah cara tersebut dibolehkan secara syar&#8217;i?</p>
<p>Jazakillah Ustadz<br />
Wassalamu&#8217;alaikum wr wb</p>
<p><strong>Jawaban :</strong><br />
<em>Waalaikum Salam Wr Wb</em><br />
Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua</p>
<p>Secara umum dapat dibenarkan, yakni sebuah upaya baik dan baik sekali untuk berbuat baik kepada kedua orang tua berupa menghajikan beliau</p>
<p>Cuma ada sedikit hal yang perlu dipastikan apakah berhutangnya dengan cara syar&#8217;i tanpa riba atau dengan cara konvensioanal dengan riba. Jika syari maka selesai sudah masalahnya jika dengan cara konvensioanal, maka para ulama berbeda pendapat. Sebagian melarang total, dan sebagian ulama&#8217; masih memperbolehkan dan hajinya sah, tetapi pelakunya melakukan perbuatan dosa yakni muamalat dengan riba.</p>
<p>Dalam hal ini mohon ditaubati dan kedepan hendaknya memilih alternatif yang lebih baik, yakni tanpa bersinggungan dengan riba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/03/menghajikan-orang-tua-dengan-sisa-pinjaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Melakukan Umroh Berkali-kali?</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/01/bolehkah-melakukan-umroh-berkali-kali/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/01/bolehkah-melakukan-umroh-berkali-kali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 09:21:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[umroh beberapa kali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6657</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu&#8217;alaikum wr.wb Ustadz, Nabi hanya 1 kali melakukan ibadah haji dan berapa kalikah Beliau melakukan umroh. Kalau kita pergi umroh banyak sekali orang melakukan umroh berulang-ulang selama berada di Mekkah dengan mengambil miqat di Tanim atau Jakranah, apakah ini boleh dilakukan atau apakah ini ada contohnya dari Nabi. Terima kasih atas jawabannya. Wassalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum wr.wb</em></p>
<p>Ustadz, Nabi hanya 1 kali melakukan ibadah haji dan berapa kalikah Beliau melakukan umroh.</p>
<p>Kalau kita pergi umroh banyak sekali orang melakukan umroh berulang-ulang selama berada di Mekkah dengan mengambil miqat di Tanim atau Jakranah, apakah ini boleh dilakukan atau apakah ini ada contohnya dari Nabi.</p>
<p>Terima kasih atas jawabannya.</p>
<p>Wassalam<br />
Edy</p>
<p><strong>Jawaban :</strong></p>
<p><em>Waalaikum Salam Wr Wb</em><br />
Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua</p>
<p>Nabi umroh empat kali : umroh al-hudaibiyah, kedua umroh qodho&#8217; ketiga umroh dari Ji&#8217;ronah dan keempat umroh saat berhaji (lihar fiqih sunnah bab haji dan umroh)</p>
<p>Mengenai umroh yang berulang-ulang tadi, para ulama&#8217; fiqih memiliki pandangan yang berbeda, garis besarnya ada dua :<br />
-Tidak boleh , karena tidak ada dasarnya dari Rasulullah. Iman an-Nakhoi mengatakan orang-orang (para sahabat) tidak melakukan hal itu dan Nabipun tidak melakukan hal itu</p>
<p>-Boleh dasarnya adalah hadits Aisyah, bahwa Aisyah umrah dua kali dalam satu bulan yaitu umroh bersama haji qironnya dan umroh setelah hajinya. Dasar hukum yang lain adalah Sabda Nabi yang artinya umroh dengan umroh adalah penghapus dosa diantaranya  (HR Bukhori Muslim).</p>
<p>Demikian pendapat madzhab syafiiyah, hanabilah dan hanafiyyah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/11/01/bolehkah-melakukan-umroh-berkali-kali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berangkat Haji, Apakah Harus Sempurna Ibadahnya?</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/31/berangkat-haji-apakah-harus-sempurna-ibadahnya/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/31/berangkat-haji-apakah-harus-sempurna-ibadahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 09:10:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[berangkat haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6654</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamualaikum wr.wb Ustadz saya mau bertanya, saya ingin berangkat haji.Apakah orang ingin berangkat haji itu harus sempurna ibadahnya terlebih dahulu? Sedangkan saya, sholat saja masih bolong-bolong. Tapi di hati ingin sekali menjalankan rukun islam yang ke 5. Terimakasih atas jawaban dari ustadz, Wassalam, Pusti Jawaban : Waalaikum Salam Wr Wb Semoga Allah memberikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum wr.wb</em></p>
<p>Ustadz saya mau bertanya, saya ingin berangkat haji.Apakah orang ingin berangkat haji itu harus sempurna ibadahnya terlebih dahulu? Sedangkan saya, sholat saja masih bolong-bolong. Tapi di hati ingin sekali<br />
menjalankan rukun islam yang ke 5.</p>
<p>Terimakasih atas jawaban dari ustadz,</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Pusti</p>
<p><strong>Jawaban</strong> :</p>
<p><em>Waalaikum Salam Wr Wb</em><br />
Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua</p>
<p>Haji adalah ibadah berdiri sendiri ada  syarat, rukun, wajib dan sunnahnya tersendiri. Sedangkan kesempurnaan ibadah seseorang tidak termasuk dalam syarat haji. Jadi jika saudara sudah mampu maka berhajilah.<br />
Mengenai kesempurnaan ibadah adalah kewajiban berdiri sendiri, saudara mau haji ya tetap harus sempurna ibadahnya, tidak  sedang mau  pergi haji ya tetap harus sempurna ibadahnya.</p>
<p>Akan tetapi secara etika dan ketaqwaan akan sangat baik jika yang berhaji adalah orang yang memang benar-benar telah paham berislam dengan baik, sehingga sejalan dengan nilai-nilai haji, yakni sebagai puncak penghambaan kepada Allah</p>
<p>Jadi sebaiknya segeralah menyempurnakan ibadah, shalat misalnya, dan berangkatlah haji. Maka betapa mulianya saudara dapat segera menyempurnakan rukum Islam secara bersamaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/31/berangkat-haji-apakah-harus-sempurna-ibadahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberangkatkan Haji Ortu dengan Berhutang</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/21/memberangkatkan-haji-ortu-dengan-berhutang/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/21/memberangkatkan-haji-ortu-dengan-berhutang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 04:35:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[haji berhutang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6268</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb. Afwan Ustadz, sebelmnya saya sudah pernah membaca penjelasan Ustadz seputar berangkat Haji dengan berutang di Bank Konvensional melalui surat pembaca, Namun afwan, saya mohon penjelasan lebih rinci untuk menenangkan pikiran saya..karena pinjaman itu sudah terlanjur saya lakukan. Saya adalah seorang PNS, belum menikah..dari dulu saya dan kakak-kakak saya sangat ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb.</em></p>
<p>Afwan Ustadz, sebelmnya saya sudah pernah membaca penjelasan Ustadz seputar berangkat Haji dengan berutang di Bank Konvensional melalui surat pembaca, Namun afwan, saya mohon penjelasan lebih rinci untuk menenangkan pikiran saya..karena pinjaman itu sudah terlanjur saya lakukan.</p>
<p>Saya adalah seorang PNS, belum menikah..dari dulu saya dan kakak-kakak saya sangat ingin memberangkatkan haji ibu saya, namun tidak ada cukup uang untuk di tabung. Karena sekarang saya sudah memiliki penghasilan tetap, kami sepakat untuk berutang di bank konvensional untuk menyetor haji plus ibu saya (kebetulan ibu saya sudah berumur 65 tahun sekarang, untung menabung haji reguler kami pikir terlalu lama dan kasihan ibu sudah terlalu tua).</p>
<p>Sebelum uang itu kami setor ke Travel Haji (sekarang tinggal menunggu tahun keberangakatan, tahun ini atau tahun depan), terlebih dahulu kami keluarkan zakat sebesar 2,5% dari jumlah uang yang kami terima dan telah kami bagikan kepada yang berhak menerimanya.</p>
<p>Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukumnya uang setoran tersebut, apakah haram karena bukan berutang dari bank syari&#8217;ah..apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan kembali ridho Allah SWT dan Ibu saya berangkat dengan Rahmatan Lil&#8217;alamin&#8230;</p>
<p>Mohon penjelasannya Ustadz,,<br />
Syukron Katsir..</p>
<p>Wasalamu&#8217;alaikum Wr. Wb.</p>
<p><strong>Waty</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawaban :</strong></p>
<p><strong></strong><br />
<em>Waalaikum Salam Wr Wb</em><br />
Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua</p>
<p>1. Kondisi sudah terjadi , dan saudara pasti sudah mafhum bermuamalat dengan bank konvensional. Dimana letak yang dibolehkan dan dimana letak yang tidak dibolehkan</p>
<p>2. Ada jalan keluarnya adalah menggunakn pendapat sebagian ulama&#8217; yang mengatakan haji dengan uang diragukan kehalalannya tetap syah tetapi pelakukanya dianggap melakukan perbuatan dosa.</p>
<p>3. Jadi insyaalah haji ibunda tetap dapat dijalankan dan tetap syah.</p>
<p>4. Untuk perbuatan dosanya tadi solusinya menggunakan taubat. Bertaubatlah kepada Allah dan tidak mengulangi lagi. Dan semoga Allah menerima taubat saudara semua, ter lebih karena keinginan dan kemuliaan saudara untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.</p>
<p>5. Kedepan jika ada maksud semualia ini selama masih dapat difasilitasi bank syariah gunakan bank sayriah. Lain halnya jika transakasi transaksi atau kebutuhan-kebutuhan mendesak yang belum dapat difasilitasi bank syariah maka hukumnya bisa berbeda</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/21/memberangkatkan-haji-ortu-dengan-berhutang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Sholat Berjamaah buat Muslimah di Masjidil Haram</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/19/keutamaan-sholat-berjamaah-buat-muslimah-di-masjidil-haram/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/19/keutamaan-sholat-berjamaah-buat-muslimah-di-masjidil-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 09:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah sholat berjamaah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6060</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh Mohon penjelasannya : 1.  Dimana sebaiknya wanita mengerjakan sholat apabila menunaikan ibadah haji atau umrah, apakah di rumah/hotel atau ke Masjidil Haram/Masjid Nabawi. Sementara kami tahu bahwa wanita diutamakan sholat di rumah sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, tapi sabda lain dari Rasulullah SAW juga menyebutkan tentang pahala melakukan shalat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh</em></p>
<p>Mohon penjelasannya :</p>
<p>1.  Dimana sebaiknya wanita mengerjakan sholat apabila menunaikan ibadah haji atau umrah, apakah di rumah/hotel atau ke Masjidil Haram/Masjid Nabawi. Sementara kami tahu bahwa wanita diutamakan sholat di rumah sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, tapi sabda lain dari Rasulullah SAW juga menyebutkan tentang pahala melakukan shalat di kedua masjid yang saya sebutkan diatas.</p>
<p>2. Kebanyakan jamaah haji melakukan penyembelihan Dam (hadyu) sebelum wukuf, itu dilakukan karena mereka mengambil haji Tamattu atau haji Qiran. Apakah ini dibenarkan? Mengingat tahapan pelaksanaan haji setelah wukuf adalah mabit di Musdalifah, melontar tgl 10 Dzulhijjah, menyembelih hadyu, tawaf ifadah dan mencukur rambut. Mencukur rambut boleh dilakukan asal 2 dari 3 ketentuan tadi sudah dilaksanakan. Mohon penjelasan ustadz, apakah sah penyembelihan sebelum tgl 10 Dzulhijjah?</p>
<p>Sekian dan terima kasih.</p>
<p>Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawaban :</strong></p>
<p><em>Waalaikum Salam Wr Wb</em></p>
<p>Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua</p>
<ol>
<li>Sebaiknya shalat jamaah di masjidil haram alasannya :
<ul>
<li>Bahwa hadits nabi sebaik-sebaik tadi tidak mutlak, buktinya asiyah sering shalat berjamaah di masjid (lihat nailul autor, bab shalat subuh) terutama waktu subuh, oleh karena itu para ulama’ memberikan tafsir atas hadits tersebut dengan mengatakan secara umum sebaik-baik  shalat wanita dirumahnya, tetapi jika aman fitnah maka tetap ia lebih baik di masjid karena ada fadzilah jama’ah</li>
</ul>
<ul>
<li>Alasan kedua, ia bisa mendapatkan 2 fadzilah: fadzilah jamaah dan fadzilah masjid haram atau masjid nabi</li>
</ul>
</li>
<li>Mengenai waktu penyembelian dam (atau hadyu) ada perbedaan Ulama’, tetapi secara umum waktunya adalah 10 dzul hijjah dan hari tasriq. Sebelum 10 dzul hijjah tidak di bolehkan. Demikinalah madzhab Syafiiyah dan Hanabilah. Salah satu dasar hukumnya adalah hadits Rasulullah SAW  yang artinya “<em>semua hari tasyriq adalah hari penyembelian</em>” (HR ahmad)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/19/keutamaan-sholat-berjamaah-buat-muslimah-di-masjidil-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Sah Wukuf di Arafah Saat Haid?</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/18/apakah-sah-wukuf-di-arafah-saat-haid/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/18/apakah-sah-wukuf-di-arafah-saat-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 09:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[haid saat wukuf]]></category>
		<category><![CDATA[Wukuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6058</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu alaikum wr. wb. Dengan kejadian jamaah Indonesia yang melahirkan saat menjalankan ibadah haji, saya mau menanyakan apakah sah wukuf di arafah saat haid atau nifas seorang wanita? Mohon penjelasannya, terima kasih. Wassalamu alaikum wr.wb. - Wirfan Effendie &#160; Jawaban : Waalaikum Salam Wr Wb Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua  Wukuf bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamu alaikum wr. wb.</em></p>
<p>Dengan kejadian jamaah Indonesia yang melahirkan saat menjalankan ibadah haji, saya mau menanyakan apakah sah wukuf di arafah saat haid atau nifas seorang wanita?</p>
<p>Mohon penjelasannya, terima kasih.</p>
<p>Wassalamu alaikum wr.wb. - Wirfan Effendie</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawaban :</strong></p>
<p><em>Waalaikum Salam Wr Wb</em></p>
<p>Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua<strong> </strong></p>
<p>Wukuf bagi wanita saat haid hukumnya sah, dasar hukumnya hadits Rasulullah :</p>
<p dir="RTL">عن عائشة رضي الله تعالى عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وهي تبكي فقال أنفست؟ قالت نعم قال إن هذا شيء كتبه الله على بنات آدم فاقضي ما يقضي الحج غير أن لا تطوف بالبيت حتى تغتسلي رواه مسلم</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW masuk ke tempatnya dan  ia  sedang menangis maka Rasulullah SAW bertanya : “ engkau haidh?” Aisyah menjawab : ya, Rasulullah mengatakan : lakukanlah  apa yang dilakukan orang yang berhaji kecuali tawaf di baitullah, sampai engkau mandi. (HR Muslim)</p>
<p>Dari hadits tersebut, orang haid apat melakukan semua rukun dan wajib haji kecuali tawaf. Artinya wukufnya orang haidt tetap sah. Wallau a’lam bissowab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/18/apakah-sah-wukuf-di-arafah-saat-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Dana Talangan Haji</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/hukum-dana-talangan-haji/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/hukum-dana-talangan-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 10:18:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[dana talangan haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=6003</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb. Pak ustad saya mau tanya bagaimana hukumnya Dana Talangan Haji (salah satu produk Bank) dikaitkan dengan &#8220;Kewajiban seorang Muslim untuk menunaikan Ibadah Haji timbul jika ia sudah mampu baik fisik maupun material&#8221;. Terima kasih. Wassalam &#8211; Koko Jawaban : Waalaikum Salam Wr Wb Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua 1.Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamu&#8217;alaikum Wr.Wb.</em></p>
<p>Pak ustad saya mau tanya bagaimana hukumnya Dana Talangan Haji (salah satu produk Bank) dikaitkan dengan &#8220;Kewajiban seorang Muslim untuk menunaikan Ibadah Haji timbul jika ia sudah mampu baik fisik maupun material&#8221;. Terima kasih.</p>
<p>Wassalam &#8211; Koko</p>
<p><strong>Jawaban : </strong></p>
<p><em>Waalaikum Salam Wr Wb</em></p>
<p>Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua<br />
1.Kalau didudukkan perkaranya, maka Talangan haji adalah upaya untuk membuat seseorang memiliki kemampuan untuk berhaji.</p>
<p>2.Persoalannya adalah apakah talangan haji masuk katagori berhutang?. Jelas masuk katagori berhutang. Dalam hal ini berlaku padanya hukum untuk meminta ijin kepada yang memberikan hutang jika ia mau berangkat haji. Faktanya justru pihak bank yang memberikan fasilitas, berarti ia telah mengijinkan.</p>
<p>3.Jika demikian dalam kasus talangan haji ini</p>
<p>a.Jika sesorang secara financial memiliki kepastian untuk membayar talangan dimasa yang akan datang , misalnya karena gaji yang cukup, atau penghasilan lain yang stabil, dan sudah barang tentu masuk dalam perhitungan bank  pemberi talangan, maka baginya dapat dikatagorikan sebagai mampu untuk berhaji</p>
<p>b.Tapi jika ia tidak memilki kepastian melunasinya dan tentu bank tidak akan memberikan talangan pada nasabah yang demikian itu, ia belum dikategorikan sebagai mampu berhaji.</p>
<p>4.Persoalan lain mungkin muncul yakni apakah seseorang disarankan untuk mencari talangan agar dapat segera berhaji, jawabannya, secara hukum tidak disarankan karena pada saat itu sebenarnya ia belum mampu (lihat al-fiqh al-Islami : 3/2085), Tetapi secara adab dan ketaqwaan bisa saja dengan catatan ia memiliki kecukupan untuk melunasinya dari gaji</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/hukum-dana-talangan-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghajikan Orang Tua yang Sudah Meninggal</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/menghajikan-orang-tua-yang-sudah-meninggal/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/menghajikan-orang-tua-yang-sudah-meninggal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 09:19:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[menghajikan orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=5996</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Assalamualaikum wr wb, Bagaimana hukumnya badal haji bagi orang tua yang sudah meninggal tapi belum sempat menunaikan ibadah haji. Tolong ditunjukkan haditsnya. terimakasih &#8211; Candra Jawaban : Waalaikum Salam Wr Wb Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua 1.Para Ulama’ sepakat bahwa badal haji hukumnya boleh sesuai dengan sabda Nabi: عن الفضل ين [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong></p>
<p><em>Assalamualaikum wr wb,</em><br />
Bagaimana hukumnya badal haji bagi orang tua yang sudah meninggal tapi belum sempat menunaikan ibadah haji.<br />
Tolong ditunjukkan haditsnya.<br />
terimakasih &#8211; <strong>Candra</strong></p>
<p><strong>Jawaban :</strong></p>
<p>Waalaikum Salam Wr Wb<br />
Semoga Allah memberikan rahmat untuk kita semua</p>
<p>1.Para Ulama’ sepakat bahwa badal haji hukumnya boleh sesuai dengan sabda Nabi:</p>
<p>عن الفضل ين عباس أن امرأة من خثعم قالت يا رسول الله إن فريضةالحج على عباده أدركت أبي شيخا كبيرا لا يستطيع أن يثبت على الراحلة أفأحج عنه ؟ قال نعم  وذلك في حجة الوداع رواه الجماعة وقال الترمذي حسن صحيح</p>
<p>Yang artinya : “ Dari Fadel bin Abbas, bahwa seorang wanita dari kabila Khos’am bertanya kepada Rasulullah SAW bahwasanya kewajiban haji yang Allah tetapkan pada hambanya datang kepada ayah saya pada saat beliau sudah tua yang tidak lagi bisa duduk di atas onta, apakah saya boleh berhaji atas namanya? Rasulullah SAW  menjawab : ya. Hal ini terjadi waktu haji wada’ (HR Jama’ah). At-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih.  </p>
<p>2.Oleh karena itu kasus saudara menghajikan orang tua hukumnya boleh, sesuai dengan  penjelasan dan dasar hukum diatas</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2011/10/17/menghajikan-orang-tua-yang-sudah-meninggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menggunakan Peci Haji</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2010/12/30/hukum-menggunakan-peci-haji/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2010/12/30/hukum-menggunakan-peci-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Dec 2010 02:53:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=4646</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum ustadz , Saya mau tanya, apa hukumnya orang memakai peci haji padahal dia belum pergi haji soalnya ada teman saya dibilang kafir karena dia belum pergi haji.sekian terimakasih. Jawaban : Hukumnya tidak apa-apa, karena peci haji hanyalah sebuah pakaian yang tidak memiliki hubungan dengan islam atau kafirnya seseorang. Menggunakan peci putih (peci haji), hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum ustadz ,</p>
<p>Saya mau tanya, apa hukumnya orang memakai peci haji padahal dia belum pergi haji soalnya ada teman saya dibilang kafir karena dia belum pergi haji.sekian terimakasih.</p>
<p><em><strong>Jawaban :</strong></em><br />
Hukumnya tidak apa-apa, karena peci haji hanyalah sebuah pakaian yang tidak memiliki hubungan dengan islam atau kafirnya seseorang.<br />
Menggunakan peci putih (peci haji), hal ini hanyalah sebuah tradisi dari masyarakat di banyak Negara muslim. Padahal di Makkah sendiri anak-anak yang belum haji sekalipun menggunakan peci haji (peci putih).  Sebaliknya banyak pula pria dewasa yang sudah berulang kali menunaikan ibadah haji tidak menggunakan peci haji.</p>
<p>Jadi sekali lagi tidak kafir hanya karena memakai peci haji padahal belum haji.</p>
<p>Ust. Ahmad Ahidin<br />
Manager MOZA CENTER Trainer Motivator Zakat Nasional</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2010/12/30/hukum-menggunakan-peci-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

