<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnalhaji.com</title>
	<atom:link href="http://www.jurnalhaji.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.jurnalhaji.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 09:25:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Haji Siapakah yang Lebih Utama?</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-siapakah-yang-lebih-utama/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-siapakah-yang-lebih-utama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 08:18:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9648</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Sepulangnya dari perjalanan haji, seorang pria menceritakan pengalamannya bersama teman-teman seperjalanannya kepada Imam Shadiq. Sang pria tersebut sangat gembira dan kagum dengan teman-temannya itu, khususnya seorang di antara mereka. “Betapa mulianya dia, kami bangga menjalani ibadah haji bersama orang yang demikian terpuji. Ia tidak henti-hentinya berdoa. Ketika kami tiba di suatu tempat, ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9652" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-siapakah-yang-lebih-utama/wukuf-antara-2/" rel="attachment wp-att-9652"><img class="size-medium wp-image-9652" title="wukuf-antara" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/wukuf-antara-300x209.jpg" alt="" width="300" height="209" /></a><p class="wp-caption-text">Sejumlah umat Muslim berdoa di Jabal Rahmah, saat wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi. Foto: Antara.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Sepulangnya dari perjalanan haji, seorang pria menceritakan pengalamannya bersama teman-teman seperjalanannya kepada Imam Shadiq.</p>
<p>Sang pria tersebut sangat gembira dan kagum dengan teman-temannya itu, khususnya seorang di antara mereka.</p>
<p>“Betapa mulianya dia, kami bangga menjalani ibadah haji bersama orang yang demikian terpuji. Ia tidak henti-hentinya berdoa.</p>
<p>Ketika kami tiba di suatu tempat, ia segera meninggalkan kami. Kemudian ia mencari suatu sudut lalu menebarkan sajadahnya. Ia segera lalu shalat dan berdoa,” cerita pria tersebut dengan penuh kekaguman.</p>
<p>Imam pun bertanya, “Lalu siapa yang melayani kebutuhannya? Dan siapa yang mengurus hewan yang ditungganginya?&#8221;</p>
<p>“Tentu saja kami yang melakukannya. Kami merasa bangga melayaninya. Ia tak perlu repot-repot menyibukkan diri dengan mengurus itu. Cukuplah ia hanya sibuk dengan beribadah,” jawabnya.</p>
<p>Imam lalu menyahut, “Karena itu, kalian semua lebih baik darinya.”</p>
<p>Memang setiap jamaah haji dituntut untuk memperbanyak ibadah dan berdoa. Menyibukkan diri dengan ibadah dan dzikir adalah perbuatan yang mulia. Namun, berbuat baik kepada sesama juga tidak boleh dilalaikan.</p>
<p>Disamping kesibukan beribadah di tempat-tempat manasik yang hukumnya sunah itu, berbuat baik dan saling menolong sesama adalah kewajiban.</p>
<p>Sehingga, banyak sekali terlihat di tempat-tempat manasik, terutama di Padang Arafah orang-orang yang membagi-bagikan makanan. Selain layanan tersebut disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi, ada juga beberapa perusahaan yang ikut membagi-bagikan makanan kepada jamaah haji.</p>
<p>Demikianlah hakikat ibadah haji. Salah satu bukti kemabruran ibadah haji adalah kepedulian kepada sesama.</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-siapakah-yang-lebih-utama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat dan Sedekah sebagai Ongkos Naik Haji (2-habis)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/zakat-dan-sedekah-sebagai-ongkos-naik-haji-2-habis/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/zakat-dan-sedekah-sebagai-ongkos-naik-haji-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 08:11:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>
		<category><![CDATA[zakat dan sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9644</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Tahap demi tahap pendakian harus dilalui dan pada akhirnya, akan sampailah jiwa kepada kebahagiaan sejati, bebasnya ia dari segala ego dan impitan materi. Sehingga ia, kapan pun dipanggil, akan menyambut gembira. Itulah sebabnya haji menjadi pertanda sempurnanya Islam seseorang. Yaitu kepasrahan total dan kecintaannya secara mutlak kepada Sang Khalik. Dikarenakan haji adalah perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.jurnalhaji.com/2009/12/21/masjidil-haram-berangsur-sepi/safa-marwa/" rel="attachment wp-att-2432"><img class="alignleft size-medium wp-image-2432" title="Safa-Marwa" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2009/12/Safa-Marwa-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>REPUBLIKA.CO.ID – Tahap demi tahap pendakian harus dilalui dan pada akhirnya, akan sampailah jiwa kepada kebahagiaan sejati, bebasnya ia dari segala ego dan impitan materi. Sehingga ia, kapan pun dipanggil, akan menyambut gembira.</p>
<p>Itulah sebabnya haji menjadi pertanda sempurnanya Islam seseorang. Yaitu kepasrahan total dan kecintaannya secara mutlak kepada Sang Khalik.</p>
<p>Dikarenakan haji adalah perjalanan rohani, maka ongkosnya pun di samping yang bersifat materi, adalah bersifat rohani. Zakat adalah ongkos kedua setelah shalat. Zakat adalah tahap kedua dari pendakian bernama haji.</p>
<p>Seperti halnya haji, zakat pun di balik pemberian yang bersifat materi, pada intinya dimaksudkan untuk membersihkan jiwa (QS. 9: 60). Paling ringan sekaligus paling berat dari cinta diri.</p>
<p>Jelas kiranya bahwa tak mungkinlah seseorang berserah diri secara total bila untuk mengeluarkan sedikit hartanya saja amat keberatan. Karena itu zakat mendahului haji.</p>
<p>Namun secara lebih detail, paling tidak ada dua aspek kenapa zakat sangat penting artinya buat haji. Pertama, zakat bukan saja membebaskan diri dari kekikiran. Tapi lebih jauh melalui penghayatan sufistik, dimaksudkan untuk mengikis cinta diri yang menjadi musuh bebuyutan dari kepasrahan total saat berhaji.</p>
<p>Menurut Al-Ghazali, salah satu adab batin zakat adalah terbebasnya si pembayar zakat dari <em>minnah</em> (QS. Al-Baqarah :264), yakni dari perasaan bahwa dirinya telah berbuat baik kepada si miskin dan telah berjasa kepadanya.</p>
<p>Perasaan minnah ini tidak boleh muncul karena dari segi hakikat, sebenarnya si miskinlah yang telah berbuat kebaikan kepada si pembayar zakat dengan mau menerima hak Allah (zakat) yang akan menyucikan dan menyelamatkannya dari api neraka.</p>
<p>Sekiranya si miskin tak mau menerima, tentulah si pemberi masih terikat oleh tanggungjawabnya di hadapan Allah. Karenanya dari segi ini, bukannya si pemberi yang berjasa, melainkan si penerima.</p>
<p>Karena itulah, untuk membendung perasaan minnah yang dari segi penghayatan sufistik sangat ekstrim, sebagian kaum arif berzakat dengan berbagai cara. Sebagian meletakkan zakatnya di hadapan si miskin seraya duduk dengan tawadhu, mengharapnya mau menerimanya.</p>
<p>Hal tersebut terlihat seolah-olah si pemberi itulah yang sangat membutuhkan kebaikan dari si penerima. Sementara, ia merasa cemas seandainya si miskin tak mau menerimanya.</p>
<p>Ada sebagian lagi yang membuka telapak tangannya di hadapan si miskin agar ia yang mengambil sedekah itu, sehingga tangan si miskin itulah yang berada di atas. Dengan adab batin seperti ini, jelaslah kiranya bahwa zakat akan mengikis cinta diri.</p>
<p>Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa adab batin ini memang menyerupai syarat khusyuk dalam shalat yang oleh para fukaha tidak dipersyaratkan. Dalam hal ini, sebagaimana zakat merupakan lanjutan dari shalat.</p>
<p>Kedua, dengan adab batin seperti ini, zakat pun pada alirannya akan mendorong pelakunya untuk banyak sedekah. Bukankah bila cinta diri seseorang telah luntur, atau setidaknya kekikirannya telah terkikis, maka ia akan terdorong untuk banyak bersedekah?</p>
<p>Dan pahala sedekah jelas akan sangat bermanfaat bagi ongkos (rohani) haji. Bahkan menurut Al-Ghazali, salah satu ciri mabrur adalah banyak sedekah.</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/zakat-dan-sedekah-sebagai-ongkos-naik-haji-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zakat dan Sedekah sebagai Ongkos Naik Haji (1)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/zakat-dan-sedekah-sebagai-ongkos-naik-haji-1/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/zakat-dan-sedekah-sebagai-ongkos-naik-haji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 08:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>
		<category><![CDATA[zakat dan sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9640</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Sudah berulang kali disiratkan bahwa di balik perjalanan fisiknya, sesungguhnya haji adalah perjalanan rohani menuju rumah Allah. Ibarat perjalanan fisiknya yang sangat melelahkan, begitulah perjalanan rohaninya. Berbeda dengan piknik biasa ke tempat-tempat bersejarah lainnya. Perjalanan haji mengikuti prosesi fisik manasik yang sangat unik. Nah, kalau bukan dimaksudkan untuk perjalanan rohani, untuk apa prosesi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<div id="attachment_9503" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/14/ibadah-haji-perjalanan-kembali-ke-hati-2/sai-14/" rel="attachment wp-att-9503"><img class="size-medium wp-image-9503" title="sai" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/sai-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Jamaah haji saat melakukan sa&#39;i. Foto: Dok Republika.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Sudah berulang kali disiratkan bahwa di balik perjalanan fisiknya, sesungguhnya haji adalah perjalanan rohani menuju rumah Allah. Ibarat perjalanan fisiknya yang sangat melelahkan, begitulah perjalanan rohaninya.</p>
<p>Berbeda dengan piknik biasa ke tempat-tempat bersejarah lainnya. Perjalanan haji mengikuti prosesi fisik manasik yang sangat unik.</p>
<p>Nah, kalau bukan dimaksudkan untuk perjalanan rohani, untuk apa prosesi itu dibuat sedemikian berbeda?</p>
<p>Mengikuti momen-momen prosesinya, jelas akan terungkap bahwa perjalanan fisiknya menyimbolkan perjalanan rohani yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Tahap-tahap prosesinya seolah sengaja dibuat oleh Allah menyerupai tahap-tahap perjalanan setelah mati, momen-momen perjalanan rohani ketika ruh telah meninggalkan jasad.</p>
<p>Bak mayat yang harus dimandikan dan diwudhukan. Ketika hampir dalam setiap kali hendak memasuki satu dari sekian tahap prosesi haji, para jamaah pun dianjurkan untuk mandi dan sebagian wajib wudhu, hingga ada sembilan kali mandi yang disunahkan.</p>
<p>Saat mulai ihram yang mengharuskan jamaah memakai sehelai kain putih seperti kafan. Saat-saat mengelilingi Ka&#8217;bah untuk thawaf menyerupai siklus hidup kita. Berasal dari-Nya dan kembali jua kepada-Nya.</p>
<p>Saat-saat wukuf, ketika berkumpulnya jutaan bangsa yang mengingatkan peristiwa berkumpulnya seluruh manusia di Padang Mahsyar. Begitu seterusnya hingga momen-momen haji seolah tak lain dari momen-momen kembalinya seseorang kepada-Nya.</p>
<p>Mengiringi setiap langkah prosesi haji. Penafian demi penafian itu terlihat jelas. Antara lain dari keharusan membacakan talbiyah yang mengandung penafian terhadap segala bentuk kesyirikan termasuk ego diri.</p>
<p>Hampir sepanjang ihram, selalu diselang-seling doa-doa yang juga merupakan penegasan tauhid. Kemudian diakhiri dengan anjuran membaca takbir pula sepanjang lebaran haji berikut tiga Hari Tasyriq. Inilah antara lain yang ditegaskan Imam Khomeini ketika berkata, “Penafian berlaku sepanjang prosesi haji.”</p>
<p>Penafian sedemikian maraton itu tentunya sangat melelahkan. Namun, ibarat pendakian sebuah gunung yang justru karena melelahkannya akan membuahkan puncak kegembiraan saat mencapai puncak. Begitulah pendakian rohani saat berhaji.</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/zakat-dan-sedekah-sebagai-ongkos-naik-haji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sebagai Bekal Haji (3 habis)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-3-habis/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-3-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 07:43:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9636</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Alasan kedua, dalam haji ada rukun yang merupakan bentuk lain dari shalat, yaitu thawaf. Ini berarti bahwa shalat merupakan “bagian” dari haji, dan dengan begitu penghayatannya secara sempurna akan merupakan bekal sejati untuk perjalanan haji. Bahwa shalat merupakan bentuk lain dari thawaf tidak banyak diterangkan dalam berbagai literatur, termasuk dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.jurnalhaji.com/2010/10/29/jumatan-gaya-indonesia-di-masjid-sabah/shalat/" rel="attachment wp-att-3742"><img class="alignleft size-medium wp-image-3742" title="shalat" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2010/10/shalat-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>REPUBLIKA.CO.ID – Alasan kedua, dalam haji ada rukun yang merupakan bentuk lain dari shalat, yaitu thawaf.</p>
<p>Ini berarti bahwa shalat merupakan “bagian” dari haji, dan dengan begitu penghayatannya secara sempurna akan merupakan bekal sejati untuk perjalanan haji.</p>
<p>Bahwa shalat merupakan bentuk lain dari thawaf tidak banyak diterangkan dalam berbagai literatur, termasuk dalam kitab <em>Ihya’ Ulumuddin</em>.</p>
<p>Al-Ghazali hanya berkata, “Adapun tentang thawaf, hendaknya anda ketahui bahwa ia adalah suatu bentuk lain dari shalat. Karena itu, pada saat melakukannya, hendaknya anda menghadirkan dalam hati anda, perasaan takzim, kecemasan, harapan, dan kecintaan.”</p>
<p>Seperti apa segi kemiripannya tidak diterangkan lebih lanjut oleh dia. Mungkin ini merupakan pertanda betapa sulitnya masalah ini. Nabi sendiri dalam sebuah hadisnya hanya mengatakan bahwa thawaf adalah bentuk lain dari shalat, tapi beliau tak menjelaskan kemiripannya.</p>
<p>Namun, secara menakjubkan, belakangan seorang ahli matematika, Fahmi Basya, menemukan satu di antara kemiripan shalat dan thawaf. Yakni keduanya sama-sama mengandung unsur memutar 360 derajat. Memutar dalam shalat? Gerakan rukuk dari berdiri, kemudian berdiri lagi (i&#8217;tidal), lalu sujud dua kali, bila dijumlahkan seluruh geraknya akan menghasilkan putaran 360 derajat pula.</p>
<p>Alasan ketiga, salah satu cara shalat yang dianjurkan para sufi adalah shalat yang gerak hati pelakunya lebih dahulu menangkap makna apa yang dibacanya, sebelum lisan mengucapkannya (menerjemahkannya) seolah lisan sekadar bak “seorang penerjemah” saja, atas apa yang diketahui hati.</p>
<p>Jelas kiranya bahwa gerak hati (dan juga tubuh) merupakan tindakan nyata, bukan lagi sekadar ucapan di bibir. Nah, kalau ini dipandang sebagai cara latihan “terbaik” untuk menempuh rukun Islam berikutnya, yang notabene kadar kegiatan fisiknya makin dominan, maka cara shalat demikian pun merupakan latihan dan persiapan terbaik untuk haji.</p>
<p>“Jadikanlah hati dalam shalatmu sebagai kiblat dari lisanmu,” begitu kata Imam Ja‘far As-Shadiq ketika mengajarkan cara shalat ini. Konon, cara shalat seperti inilah yang sepenuhnya bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar.</p>
<p>Dan mungkin paling tidak yang menyerupai itulah yang bisa dijadikan bekal haji. Yakni cara shalat yang masih menyisakan unsur kekhusyukan. Bukankah Nabi bersabda bahwa &#8220;tak akan ada kebaikan yang diperoleh seseorang dari shalatnya kecuali sekadar yang dikerjakannya dengan kekhusyukan.&#8221;</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-3-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Sebagai Bekal Haji (2)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-2/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 07:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9631</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Dengan begitu, maqam-maqam ini akan sangat membantu dalam meningkatkan mutu pengamalan setiap rukun Islam. Taruhlah shalat misalnya, tentunya akan sangat berbeda antara shalat yang melibatkan maqam-maqam (hati) ini dengan yang tidak. Kembali ke persoalan peringkat rukun Islam, secara umum seluruh rukun sebelumnya bisa dijadikan bekal untuk rukun berikutnya. Namun, secara khusus dan lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9632" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-2/shalat-republika-agung-supri-2/" rel="attachment wp-att-9632"><img class="size-medium wp-image-9632" title="shalat-republika-agung supri" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/shalat-republika-agung-supri1-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Shalat berjamaah (ilustrasi). Foto: Republika/Agung Supriyanto.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Dengan begitu, maqam-maqam ini akan sangat membantu dalam meningkatkan mutu pengamalan setiap rukun Islam.</p>
<p>Taruhlah shalat misalnya, tentunya akan sangat berbeda antara shalat yang melibatkan maqam-maqam (hati) ini dengan yang tidak.</p>
<p>Kembali ke persoalan peringkat rukun Islam, secara umum seluruh rukun sebelumnya bisa dijadikan bekal untuk rukun berikutnya.</p>
<p>Namun, secara khusus dan lebih detail, paling tidak ada tiga alasan kenapa shalat bisa dijadikan bekal untuk perjalanan haji.</p>
<p>Pertama, di antara fungsi shalat adalah untuk memperbarui syahadat, yakni kembali ke pangkuan tauhid seraya membombardir hawa nafsu yang mungkin sebelum shalat sedikit banyak telah kita pertuhankan.</p>
<p>Dengan begitu, shalat jelas merupakan bekal utama untuk haji, karena apa artinya perjalanan haji bila nafsu masih bercokol di dalam diri, apalagi bila masih dipertuhankan. Bahwa shalat itu penuh dengan momen-momen pembaruan syahadat.</p>
<p>Berikut ini keterangan Al-Ghazali ketika memberikan kiat-kiat khusyuk dalam setiap rukun shalat, sebagaimana juga dikutip oleh Muhammad Bagir Al-Habsyi dalam bukunya, Fikih Praktis. Satu hal yang sangat unik bahwa khusyuk dibahas dalam fikih praktis.</p>
<p>“Setelah engkau mengucapkan maliki yaumiddin, perbaruilah keikhlasanmu bersama dengan ucapanmu, <em>iyyaka na&#8217;budu</em> (hanya kepada-Mu kami menyembah). Perbaruilah pula kesadaran akan kelemahan dan kebutuhanmu serta penafian segala daya dan kekuatan dirimu bersama dengan ucapanmu, <em>iyyaka nasta‘in</em> (dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).</p>
<p>Ketika melakukan rukuk dan sujud, memperbarui ingatan tentang keperkasaan Allah, kemudian mengangkat tangan demi berlindung dengan ampunan Allah SWT dari hukuman-Nya seraya memperbarui niat mengikuti sunah Nabi.</p>
<p>Bila telah meletakkan diri anda dalam posisi sujud, ketahuilah bahwa anda telah meletakkannya di tempat yang tepat. Anda telah mengembalikan bagian kepada asalnya, sebab anda tercipta dari tanah dan kepada-Nya pula kita akan kembali.</p>
<p>Di saat ini, perbaruilah dalam hatimu pengagungan kepada Allah dengan mengatakan, &#8220;<em>subhana rabbiyal a&#8217;la</em>&#8221; (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ikrarkanlah itu dengan mengulang-ulanginya, sebab bila hanya satu kali saja, pengaruhnya tak seberapa kuat.</p>
<p>Ketika tasyahud, setelah mengucapkan salam kepada Nabi dan seluruh orang saleh, ucapkanlah kesaksian akan keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW, <em>asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah</em>. Dengan itu anda memperbarui ikatan janji kepada-Nya dengan mengulang kembali dua kalimat syahadat, juga dengan sekali lagi membentengi diri dengannya.</p>
<p>Begitulah, masih banyak momen pembaruan yang tak perlu disebutkan di sini. Sedikit demi sedikit momen-momen itu akan menggeser anda dari wilayah nafsu ke wilayah Ilahi, yang dengan begitu anda akan semakin siap untuk berhaji dengan-Nya.&#8221;</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat sebagai Bekal Haji (1)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-1/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 07:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9614</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Seperti sudah dimaklumi dalam bab sebelumnya, syahadat adalah bahasa hati yang selalu menuntut bukti perilaku. Dan seluruh rukun Islam lainnya ternyata merupakan wahana untuk tindak syahadat ini. Uniknya, semakin tinggi peringkat wahana tindak itu, semakin tinggi pula kadar kegiatan fisiknya dibanding wahana tindak sebelumnya. Dalam shalat misalnya, kadar kegiatan lisan, hati, dan tubuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9625" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-1/shalat-republika-agung-supri/" rel="attachment wp-att-9625"><img class="size-medium wp-image-9625" title="shalat-republika-agung supri" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/shalat-republika-agung-supri-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Shalat berjamaah (ilustrasi). Foto: Republika/Agung Supriyanto.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Seperti sudah dimaklumi dalam bab sebelumnya, syahadat adalah bahasa hati yang selalu menuntut bukti perilaku. Dan seluruh rukun Islam lainnya ternyata merupakan wahana untuk tindak syahadat ini.</p>
<p>Uniknya, semakin tinggi peringkat wahana tindak itu, semakin tinggi pula kadar kegiatan fisiknya dibanding wahana tindak sebelumnya.</p>
<p>Dalam shalat misalnya, kadar kegiatan lisan, hati, dan tubuh masih imbang. Tapi dalam zakat yang peringkatnya lebih “tinggi” daripada shalat, hampir seluruh kegiatannya tinggal bersifat fisik semata.</p>
<p>Kalaupun ada niat atau doa yang dilisankan, hal ini hukumnya tak lebih dari sunah saja. Demikian seterusnya dalam puasa dan haji.</p>
<p>Uniknya lagi, peringkat yang lebih tinggi mencakup peringkat sebelumnya. Dalam shalat misalnya, ada syahadat sebagaimana akan kita bahas lebih jauh. Dalam zakat terkandung nilai dan tujuan shalat, demikian seterusnya dalam puasa dan haji.</p>
<p>Yang paling mencakup tentunya adalah haji, di dalamnya ada syahadat, shalat, ada pengeluaran harta “zakat” untuk ongkos dan bekal juga dam dan kurban, juga ada puasa meski dalam bentuk sanksi.</p>
<p>Kesemuanya itu jelas menunjukkan bahwa peringkat sebelumnya adalah bekal utama bagi penempuhan peringkat berikutnya. Peringkat berikutnya baru akan tercapai bila peringkat sebelumnya telah dimantapkan. Tak mungkin orang berzakat sebelum shalat, demikian pula haji sebelum rukun Islam sebelumnya dimantapkan.</p>
<p>Ini memang mirip-mirip dengan maqam-maqam (stasiun-stasiun) rohani kaum sufi yang menurut Murtadha Mutahhari sengaja “diracik” secara sistematis dan metodologis, dengan maksud agar lebih efektif membersihkan diri seseorang (tazkiyah an-nafs) dan pada akhirnya mengantarkannya dekat dengan Tuhan.</p>
<p>Seseorang misalnya tak mungkin menghampiri Tuhan dalam keadaan kotor. Karenanya, para sufi menjadikan maqam tobat sebagai maqam pertama untuk pembersihan diri. Demikian pula orang tak mungkin merasakan cinta kepada-Nya sebelum mengenal jauh dengan-Nya, sebelum cemas dan harap kepada-Nya, sebelum menempuh sabar dan syukur kepada-Nya, dan seterusnya.</p>
<p>Karenanya maqam-maqam ini diletakkan jauh sebelum maqam cinta. Namun, belakangan maqam-maqam ciptaan para sufi itu ternyata hanyalah bahasa lain dari maqam rohani yang sebenarnya.</p>
<p>Maqam-maqam peringkat rukun Islam yang bila dipahami dan dijalankan seutuhnya, jauh lebih efektif untuk membuktikan kepasrahan total kepada Allah (Islam dalam arti sebenarnya). Maqam tertinggi bagi hamba Allah sejati yang oleh kaum sufi diungkapkan dalam bahasa lain, cinta mutlak atau mahabbah.</p>
<p>Dengan kata lain, maqam-maqam para sufi adalah bahasa lain yang lebih metaforis, yang dari satu sisi memang lebih bisa “menyederhanakan” untuk menangkap lautan makna rukun Islam. Bukankah tak ada cara lain untuk mengungkapkan makna yang abstrak dan sublim kecuali dengan bahasa perumpamaan atau metafor?</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/shalat-sebagai-bekal-haji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menangis Selepas Berhaji (2-habis)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-2-habis/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 06:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9610</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menawarkan enam adab agar haji yang dilakukan memperoleh makna yang selayaknya. Pertama, biaya yang disediakan haruslah diperoleh dari cara yang halal. Selain itu, seyogianya orang yang mau berhaji mulai melepaskan kesibukan yangdapat merisaukan hati ataupun membuyarkan konsentrasi. Hal ini sangat penting agar perhatiannya hanya tertuju kepada Allah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9628" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-2-habis/air-mata-blogspot-3/" rel="attachment wp-att-9628"><img class="size-medium wp-image-9628" title="air mata-blogspot" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/air-mata-blogspot-300x230.jpg" alt="" width="300" height="230" /></a><p class="wp-caption-text">Menangis (ilustrasi). Foto: Blogspot.com.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menawarkan enam adab agar haji yang dilakukan memperoleh makna yang selayaknya.</p>
<p><em>Pertama</em>, biaya yang disediakan haruslah diperoleh dari cara yang halal. Selain itu, seyogianya orang yang mau berhaji mulai melepaskan kesibukan yangdapat merisaukan hati ataupun membuyarkan konsentrasi.</p>
<p>Hal ini sangat penting agar perhatiannya hanya tertuju kepada Allah dan hatinya berpaling sepenuhnya kepada pengagungan syiar-syiar Allah.</p>
<p><em>Kedua</em>, sebaiknya menambah bekal yang dibawanya dan bersikap murah hati untuk membantu sesama dengan sewajarnya, tidak bakhil tidak pula boros. Hal ini dianjurkan Al-Ghazali, terutama karena berkaitan dengan makna mabrur itu sendiri.</p>
<p>Diriwayatkan, seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang haji mabrur. Rasul menjawab, &#8220;(Mabrur itu) adalah ucapan yang baik dan memberi makan orang lain.&#8221;</p>
<p><em>Ketiga</em>, menjauhkan diri dari rafats, fusuq, dan jidal, sebagaimana disebutkan Alquran. Yang dimaksud dengan rafats adalah segala macam ucapan yang sia-sia, kotor, dan keji. Termasuk di dalamnya cumbuan dan rayuan yang ditujukan kepada wanita.</p>
<p>Sedangkan fusuq adalah segala perbuatan yang melanggar ketaatan kepada Allah. Adapun jidal adalah berlebihan dalam pertengkaran dan perdebatan yang dapat menimbulkan perasaan dendam, memecah belah di antara sesama dan bertentangan dengan akhlak yang baik.</p>
<p><em>Keempat</em>, hendaknya menjaga penampilannya sesederhana mungkin, dengan membiarkan kusut rambutnya.</p>
<p><em>Kelima</em>, sebaiknya tetap bertaqarrub kepada Allah dengan menyembelih kurban walaupun sekiranya tidak diwajibkan atas dirinya (karena tidak melakukan pelanggaran).</p>
<p><em>Keenam</em>, hendaknya ia senantiasa merasa senang dan tenang akan harta yang dibelanjakan untuk biaya haji dan kurbannya. Juga rela sepenuhnya atas kerugian ataupun musibah yang mungkin terjadi, baik menyangkut kekayaan maupun kesehatannya.</p>
<p>Hal ini mengingat bahwa musibah yang terjadi selama pelaksanaan haji setimpal dengan penafkahan harta di jalan Allah. Begitulah, keenam adab ini diharapkan dapat membantu seseorang untuk memboyong makna haji yang sebenarnya, yang pada gilirannya akan meningkatkan rasa kemanusiaannya.</p>
<p>Pada akhirnya, dengan atau tanpa keenam adab ini pun, selepas berhaji seseorang memang layak menangis. Berhaji tanpa keenam adab ini sepatutnya membuat seseorang menyesal seperti Syibli. Sedang berhaji dengan keenam adab ini pun lebih patut membuatnya menangis, menangis atas berbagai penderitaan kemanusiaan.</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menangis Selepas Berhaji (1)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-1/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 06:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9606</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Alkisah, selepas menunaikan ibadah haji, Syibli menghadap Imam Ali Zainal Abidin untuk menyampaikan hal-hal yang dialaminya selama berhaji. Maka bertanyalah sang Imam kepadanya, “Wahai Syibli, bukankah anda telah menyelesaikan haji? “ &#8220;Benar, wahai putra Rasulullah,” jawab Syibli. “Apakah anda telah berhenti di miqat lalu menanggalkan semua pakaian berjahit yang terlarang bagi orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9607" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-1/air-mata-blogspot/" rel="attachment wp-att-9607"><img class="size-medium wp-image-9607" title="air mata-blogspot" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/air-mata-blogspot-300x230.jpg" alt="" width="300" height="230" /></a><p class="wp-caption-text">Menangis (ilustrasi). Foto: Blogspot.com.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Alkisah, selepas menunaikan ibadah haji, Syibli menghadap Imam Ali Zainal Abidin untuk menyampaikan hal-hal yang dialaminya selama berhaji.</p>
<p>Maka bertanyalah sang Imam kepadanya, “Wahai Syibli, bukankah anda telah menyelesaikan haji? “</p>
<p>&#8220;Benar, wahai putra Rasulullah,” jawab Syibli.</p>
<p>“Apakah anda telah berhenti di miqat lalu menanggalkan semua pakaian berjahit yang terlarang bagi orang yang meneriakkan haji dan kemudian mandi menjelang ihram?”</p>
<p>“Ya, benar.”</p>
<p>“Adakah anda ketika berhenti di miqat juga meneguhkan niat untuk berhenti dan menanggalkan semua pakaian maksiat. Dan sebagai gantinya, mengenakan pakaian taat?”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Dan pada saat menanggalkan semua pakaian yang terlarang itu, adakah anda menanggalkan dari dirimu semua sifat riya, nifaq, serta segala yang diliputi syubhat?”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>&#8220;Dan ketika mandi dan membersihkan diri sebelum memulai ihram, adakah anda berniat mandi dan membersihkan diri dari segala pelanggaran dan dosa-dosa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak.&#8221;</p>
<p>“Kalau begitu, anda tidak berhenti di miqat, tidak menanggalkan pakaian berjahit, dan tidak pula mandi membersihkan diri!”</p>
<p>“Apakah anda telah mengerjakan sa&#8217;i antara Shafa dan Marwah, dan bolak-balik antara kedua bukit itu?&#8221;</p>
<p>“Ya, benar.”</p>
<p>“Dan pada saat-saat itu, adakah anda menempatkan diri anda di antara harapan akan rahmat Allah dan ketakutan menghadapi azab-Nya?”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Kalau begitu, anda tidak mengerjakan sa&#8217;i dan tidak berjalan pulang pergi antara keduanya.”</p>
<p>“Anda telah pergi ke Mina?”</p>
<p>“Ya, benar.”</p>
<p>“Ketika itu, adakah anda meneguhkan niat untuk berupaya keras agar semua orang selalu merasa aman dari gangguan lidah, hati, serta tangan Anda sendiri?”</p>
<p>“Tidak.”</p>
<p>“Kalau begitu, anda belum pergi ke Mina. Anda tidak melempar jumrah, tidak mencukur rambut, tidak menyembelih kurban, tidak mengerjakan manasik, tidak berthawaf ifadhah, dan tidak pula mendekat kepada Tuhanmu. Kembalilah, kembalilah! Sebab, anda sesungguhnya belum menunaikan haji Anda!”</p>
<p>Mendengar ucapan sang Imam, Syibli menangis tersedu-sedu, meratap, dan menyesal atas apa yang telah dilakukannya selama melakukan ibadah haji. Sejak itu, ia giat memperdalam ilmu, sehingga pada tahun berikutnya ia kembali lagi ke Makkah dengan makrifat dan keyakinan penuh.</p>
<p>Kisah di atas dengan sangat gamblang menggambarkan betapa untuk memperoleh haji yang mabrur, yang di dalamnya sudah terkandung juga akhlak kemanusiaan, diperlukan serangkaian latihan dan persiapan. Tanpa pemahaman dan latihan yang memadai, haji hanyalah akan membuahkan kelelahan dan pengusiran dari-Nya.</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/menangis-selepas-berhaji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haji dan Mahkota Ketakwaan (2-habis)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-2-habis/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 06:07:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9601</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Kisah-kisah di atas mengajarkan kepada kita sedikitnya dua hal. Betapa kekuasaan seperti tak punya arti di depan kewibawaan ibadah haji. Seperti terungkap dalam kolom-kolom sebelumnya. Haji adalah demonstrasi agung tentang komitmen Islam kepada egalitarianisme. Bahwa semua orang sama di hadapan Allah. Bahwa, seperti kata Rasulullah, tak ada perbedaan di antara bangsawan Quraisy dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9602" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-2-habis/multazam-antara-2/" rel="attachment wp-att-9602"><img class="size-medium wp-image-9602" title="multazam-antara" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/multazam-antara1-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a><p class="wp-caption-text">Jamaah haji berebut memegang dinding Ka&#39;bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Antara.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Kisah-kisah di atas mengajarkan kepada kita sedikitnya dua hal. Betapa kekuasaan seperti tak punya arti di depan kewibawaan ibadah haji.</p>
<p>Seperti terungkap dalam kolom-kolom sebelumnya. <a href="http://www.cheria-travel.com" target="_blank">Haji</a> adalah demonstrasi agung tentang komitmen Islam kepada egalitarianisme.</p>
<p>Bahwa semua orang sama di hadapan Allah. Bahwa, seperti kata Rasulullah, tak ada perbedaan di antara bangsawan Quraisy dan budak hitam.</p>
<p>Tapi, pada saat yang sama, satu-satunya yang dapat menjadi pembeda di antara manusia adalah ketakwaan. Bahkan, ketakwaanlah yang menentukan kemuliaan seseorang,<em> &#8220;Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antaramu.&#8221;</em></p>
<p>Kisah Ali Zainal Abidin di atas kiranya menjadi saksi, betapa bukan saja ketakwaan telah menjadikan kita mulia di sisi Allah, melainkan juga di sisi manusia.</p>
<p>Inilah kelanjutan bait-bait syair Farazdaq:<br />
<em>Inilah putra manusia utama, </em><br />
<em>di antara hamba-hamba Allah semuanya</em><br />
<em>Inilah insan amat bertakwa, </em><br />
<em>Bersih, suci, dikenal di mana-mana</em><br />
<em>Dalam keluhuran pribadi inilah berpusat segala sifat utama dan mulia </em><br />
<em>Kedermawanan serta akhlak karimah </em><br />
<em>Selalu menghiasi dirinya.</em></p>
<p>Memang ketakwaan dan akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) bagaikan dua sisi mata uang yang sama. Karena takwa tak lain adalah perasaan takut kepada Allah, takut kepada risiko yang dapat muncul akibat ketidaktaatan kepada perintah-perintah Allah dan kemaksiatan (pelanggaran) terhadap larangan-larangannya.</p>
<p>Inilah puncak dari keimanan seseorang, puncak keyakinan kepada Hari Perhitungan, ketika semua amal kita diperiksa. Maka orang yang bertakwa niscaya akan menjadi hamba Allah yang paling baik, yang untuk tujuan itulah jin dan manusia diciptakan oleh-Nya.</p>
<p>Dan bagi siapa surga diciptakan. Seperti sabda Rasul SAW, <em>&#8220;Yang paling banyak memasukkan orang ke surga adalah ketakwaan dan ahlak yang mulia.&#8221;</em></p>
<p>Lebih dari pancaran prinsip Islam tentang persamaan umat manusia, ibadah haji telah memanifestasikan firman-Nya tentang betapa ketakwaan mesti menjadi mahkota satu-satunya pertanda kemuliaan manusia.</p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haji dan Mahkota Ketakwaan (1)</title>
		<link>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-1/</link>
		<comments>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 05:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chairul Akhmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pernik]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.jurnalhaji.com/?p=9594</guid>
		<description><![CDATA[REPUBLIKA.CO.ID – Suatu kali, putra Amr bin Ash, Gubemur Mesir pada zaman kekuasaan Khalifah Umar, pergi melaksanakan ibadah haji. Di tengah-tengah thawaf jubahnya yang mewah terinjak oleh salah seorang jamaah lain yang juga sedang berthawaf. Maka, dengan semena-mena, putra Amr menempeleng jamaah yang menginjak jubahnya tersebut. Si jamaah tak bisa menerima perlakuan seperti itu. Sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9597" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-1/multazam-antara/" rel="attachment wp-att-9597"><img class="size-medium wp-image-9597" title="multazam-antara" src="http://www.jurnalhaji.com/wp-content/uploads/2012/05/multazam-antara-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a><p class="wp-caption-text">Jamaah haji berebut memegang dinding Ka&#39;bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Antara.</p></div>
<p>REPUBLIKA.CO.ID – Suatu kali, putra Amr bin Ash, Gubemur Mesir pada zaman kekuasaan Khalifah Umar, pergi melaksanakan ibadah haji.</p>
<p>Di tengah-tengah thawaf jubahnya yang mewah terinjak oleh salah seorang jamaah lain yang juga sedang berthawaf.</p>
<p>Maka, dengan semena-mena, putra Amr menempeleng jamaah yang menginjak jubahnya tersebut. Si jamaah tak bisa menerima perlakuan seperti itu.</p>
<p>Sebuah kesombongan justru terjadi di tengah ibadah yang mengajarkan persamaan. Maka ia pun melaporkan ulah si anak gubemur kepada khalifah.</p>
<p>Khalifah Umar memanggil putra Amr untuk datang ke Madinah bersama ayahnya. Sesampainya di hadapan Umar, ia pun segera mengomelinya, &#8220;Apakah kamu hendak memperbudak manusia padahal ibunya melahirkannya merdeka?&#8221;</p>
<p>Segera Umar memerintahkan agar putra Amr dihukum cambuk. Seketika hukuman cambuk dilaksanakan, Umar pun berujar lagi, “Rasakanlah wahai (orang yang merasa) mulia!”</p>
<p>Beberapa dekade setelah itu, Hisyam bin Malik, putra mahkota Abdul Malik bin Marwan sedang menjalankan ibadah <a href="http://www.cheria-travel.com" target="_blank">haji</a>. Ketika berthawaf disekitar Ka‘bah, ia susah payah berupaya mencium Hajar Aswad. Tapi, meskipun dibantu oleh puluhan pengiringnya, ia tak juga mampu mencapai sudut Ka&#8217;bah.</p>
<p>Ia tak berhasil menembus kerumunan manusia yang berdesakan di sekitarnya. Maka dibuatkanlah tempat duduk baginya di dekat sumur Zamzam agar ia dapat beristirahat sambil menunggu berkurangnya kerumunan orang yang mengerjakan thawaf.</p>
<p>Tidak lama kemudian, masuklah Ali Zainal Abidin. Ia langsung menuju tempat Hajar Aswad untuk memulai thawafnya. Dan tanpa perintah siapa pun, kerumunan orang banyak yang melihat kedatangannya segera menyibak demi memberinya jalan. Dengan mudahnya Ali Zainal Abidin mencium Hajar Aswad, untuk kemudian berdoa sejenak sebelum memulai thawafnya.</p>
<p>Melihat itu, salah seorang dari rombongan Hisyam bertanya kepada si putra mahkota, &#8220;Siapakah orang yang begitu dihormati dan disegani itu, sehingga orang banyak menyibak ke kanan dan ke kiri untuk memberinya jalan?&#8221;</p>
<p>Karena khawatir orang-orang Syam itu terpesona dan tertarik kepada pribadi Ali Zainal Abidin, Hisyam berpura-pura tak mengenalnya dan hanya menjawab dengan singkat, &#8220;Aku tak tahu!&#8221;</p>
<p>Namun, Farazdaq, seorang penyair terkenal yang kebetulan juga ikut dalam rombongan Hisyam dan sangat terharu menyaksikan peristiwa tersebut, tak mampu menahan perasaannya. Tanpa ragu-ragu dan rasa takut ia berkata, &#8220;Tapi aku sangat mengenalnya. Ia adalah Ali Zainal Abidin. Ia adalah cucu Fatimah, putri Rasulullah SAW.&#8221;</p>
<p>Lalu tanpa persiapan sebelumnya, Farazdaq mengucapkan serangkaian syair panjang, yang disebutkan di hampir setiap buku yang menguraikan tentang sastra dan puisi Arab pada masa itu.</p>
<p><em>Inilah dia yang bahkan butir-butir pasir Bathha</em><br />
<em>Mengenal jejak-jejaknya, demikian juga Ka&#8217;bah Rumah Allah</em><br />
<em>Tanah Suci dan sekitarnya&#8230;</em></p>
<p>Redaktur: Chairul Akhmad<br />
Reporter: Hannan Putra</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.jurnalhaji.com/2012/05/16/haji-dan-mahkota-ketakwaan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

