Bantuan Saudara Afrika

28 November 2011 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Saya di Masjidil Haram (Dok. Ahmad Nursamsi)

Kebiasaan kami lakukan untuk sholat subuh berjamaah di Masjidil Haram adalah berangkat ke Masjidil Haram sekitar jam 4 pagi. Suatu ketika selepas sholat subuh kami berniat melakukan thawaf sunnah sendirian sedangkan kepada istriku aku minta menunggu sambil membaca Al Quran di lokasi yang disediakan khusus untuk perempuan.

Setelah kami sepakat lokasi perjumpaan setelah tawaf nanti, maka mulailah aku membaca doa melihat Kabah dan selanjutnya mengambil posisi awal pelaksanaan tawaf sebelum batas lampu hijau dan masuk ke pusaran tawaf. Berhubung tawaf ini kami lakukan sendirian maka kami bebas mengambil jalur tanpa tergantung teman rombongan dan tinggal konsentrasi membaca doa tawaf.

Untuk mempermudah dan memperlancar jalannya putaran tawaf maka aku ikut salah satu iringan rombongan saudara kita dari Afrika sambil aku baca doa putaran tawaf. Suatu ketika aku terlepas dari iringan rombongan itu, sehingga aku teruskan langkah tawafku tanpa mereka.

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang memegang pundakku dengan kedua tangannya dan menyetir kemana aku harus melangkah untuk mencarikan jalan melanjutkan putaran tawafku. Putaran demi putaran kami lalui sambil kami membaca doa tawaf.

Sampailah pada putaran tawaf ke-6 aku mulai gelisah dan curiga terhadap orang yang memegangi pundakku. Terbersit dalam benakku, Waah …. Jangan-jangan orang tersebut adalah “joki” apalagi ternyata orangnya tinggi besar hitam memakai jubah biru muda. Apalagi aku teringat bahwa uangku sebagian besar aku bawa dan simpan di tas pinggang yang aku kenakan. Waah …. bisa –bisa uangku akan diperas bila orang tersebut adalah joki.

Oleh karena itu, aku minta saudara afrika tersebut, dengan menggunakan bahasa Inggris dan isyarat tubuh, untuk bergantian di depan dan aku dibelakangnya. Semula beliau bersedia, namun beberapa langkah kemudian beliau menolak dan kembali ke belakangku dan memegang pundakku untuk melanjutkan putaran tawaf. Sehingga aku semakin curiga dan gelisah dibuatnya.

Oleh karena itu, disela-sela bacaan doa tawaf ke-6 aku sempatkan berdoa memohon kepada Allah agar di berikan keselamatan dan keamanan. Sedangkan pada putaran tawaf ke-7 yang terakhir kami berdoa kembali agar aku bisa ketemu dengan orang yang aku kenal untuk mengurangi rasa takut yang sedang aku alami.

Hingga aku selesai putaran ke-7 saudara Afrika tersebut masih saja memegang pundakku dan mendorong untuk melanjutkan jalan. Akhirnya aku bilang ke saudara Afrika tersebut sambil menggunakan bahasa tubuh bahwa aku telah “finished”. Ternyata saudara Afrika tersebut tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku. Masya Allah…..Astaghfirullah, aku telah berburuk sangka terhadap beliau. I am so sorry brother,…. I have had prejudiced eyes to you. Thank you for your help, brother.

Akhirnya aku lanjutkan langkahku untuk berdoa selesai tawaf namun tiba-tiba seseorang menepuk pundak kananku …. yang membuat aku merasa suasana tegang dan cemas kembali, ….. Waah… jangan-jangan ini komplotannya. Maka aku pura-pura tidak terusik tepukan tersebut dan aku lanjutkan berdoa. Namun aku terima tepukan di pundak kananku semakin keras sehingga aku beranikan diri untuk menoleh pelan-pelan selesai berdoa dengan rasa was-was.

Tak disangka dan tanpa diduga ternyata orang yang menepuk pundak kananku tersenyum dan ternyata beliau adalah Pak Rinto, teman sekantor PT. Kayaba Indonesia bersama istrinya yang berangkat haji melalui ONH Plus beda kloter dengan rombongan kami.

Alangkah gembiranya hati ini setelah sebelumnya  tegang dan was-was berubah menjadi bahagia bisa bertemu orang yang aku kenal. Subhanallah….. Alhamdulillah, Yaa Allah telah Engkau penuhi doaku. Sungguh atas kuasa dan karuniaMu yang telah Engkau pertemukan aku dengan orang yang aku kenal di antara jutaan jemaah haji. Engkau pertemukan aku dengan teman  yang bukan serombongan, tetapi bahkan lebih dari itu, yaitu teman sekantor yang baru pertama kali aku jumpai di kota Mekah ini.

Ahmad Nursamsi
Kloter 84 JKS tahun 2009

Redaktur: Johar Arief