Didin Hafidhuddin: Merasakan Kenikmatan Ilahiyah

7 May 2009 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Didin Hafifuddin, Foto/Edwin

Didin Hafifuddin, Foto/Edwin

Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional, KH Didin Hafidhuddin, telah empat kali menuaikan ibadah haji. Diawali pada tahun 1974, kala itu ia masih menjadi mahasiswa tingkat IV Fakultas Syariah di IAIN (kini UIN Syarief Hidayatullah), Jakarta. Pada tahun itu, untuk pertama kalinya pemerintah menyelenggarakan ibadah haji dengan menggunakan pesawat terbang.

Pemerintah menyewa armada pesawat luar negeri bersama para pramugari dan pramugara non Indonesia. Guna membantu jamaah Indonesia yang tak bisa berbahasa asing, pemerintah pun mengambil kebijakan untuk membuka pendaftaran bagi penterjemah, yang diambil dari seluruh mahasiswa UIN se Indonesia.

Pria kelahiran Bogor, 21 Oktober 1951 ini, turut menjadi salah satu peserta yang mengikuti seleksi tersebut. Ia mengaku sempat merasa minder lantaran seluruh calon peserta didominasi para sarjana dan orang-orang berkualitas. Menjelang tes, ia justru pulang ke rumah dan berkunjung ke tempat pengajian almarhum ayahnya di Cibuntu, Bogor.

Setelah didesak almarhum ayahnya, Didin kemudian mengikuti tes di hari kedua dengan nomor urut peserta 74. ”Hasil pengumumannya, nomor urut 1 sampai 73 tidak ada yang lulus. Alhamdulillah, saya ternyata lulus. Padahal tadinya sempat putus asa,” kata Dewan Komisaris Asuransi Syariah Mubarakah kepada Republika. Saat dinyatakan lulus, Didin langsung sujud syukur.

Dari 600 lebih peserta yang mengikuti tes, pemeritah hanya memberangkatkan 120 mahasiswa UIN sebagai penterjemah dan membantu jamaah. Salah satu tugasnya, antara lain, adzan di pesawat terbang, talbiyah, memberikan tausiyah pada jamaah, serta membantu segala keperluan jamaah yang didominasi para lansia.

Ketika tiba di Tanah Haram, ia merasa keletihan karena banyaknya tugas dan membludaknya para tamu yang menemuinya. Dengan terpaksa Didin memutuskan untuk pergi ke Masjidil Haram dan berniat tidur di sana. Tanpa diduga, setelah melaksanakan shalat tahiyatul masjid, Didin justru tidak bisa beristirahat. ”Saya merasa aneh, setiap orang yang lewat selalu mengajak bersalaman. Padahal saya tidak kenal,” kenangnya.

Karena banyaknya jamaah lain yang menegurnya, ia justru bertambah letih dan tidak jadi tidur. Ia pun berpikir ternyata niatnya ke Masjidil Haram perlu diluruskan. Masjid bukanlah tempat untuk tidur, di rumah Allah harus diniatkan beribadah. ”Ini pengalaman unik yang masih terbayang sampai sekarang,” ujar penulis puluhan buku tentang dakwah, pendidikan, ekonomi, dan zakat ini.

Di masjid itu pula, Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa Republika ini pernah bertemu dengan seorang jamaah Indonesia yang melakukan tawaf khusus yang diniatkan agar istrinya diberi hidayah dan memeluk agama Islam. Jamaah itu tak henti berdoa dan melakukan tawaf. Setelah selesai bertawaf, jamaah tersebut menelpon ke rumah. ”Subhanallah. Saat itu juga istrinya lagi diproses untuk menjadi muallaf dan memeluk Islam,” ujar Didin. Dari peristiwa itu, ia merasa banyak hal ghaib yang ditunjukan Allah pada dirinya.

Seluruh perjalanan ibadah hajinya selalu menyisakan pengalaman rohani yang masih terbayang. Terlebih ketika melakukan wukuf di Arafah. Menurutnya, di Arafah, kesadaran keimanannya muncul terasa lebih kuat. ”Saat bermuhasabah, di Arafah, saya seperti melihat layar yang menampilkan kesalahan yang pernah saya perbuat,” ujarnya.

Ia mengaku tangisnya yang tumpah di Arafah bukan sesuatu yang dibuat-buat. Buaian air matanya jatuh lantaran mengenang dosa dan segala kesalahannya. Momen wukuf, baginya, salah satu momen yang sangat luar biasa dalam hidupnya. Wukuf yang dilakukan penuh dengan kesahduan dirasakan mampu mendapatkan ma’rifat. ”Allah terasa lebih dekat,” tutur Direktur Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini. c68/dokrep/nopember 2008