Haji sebagai Media Saling Mengenal Antarbangsa

24 November 2011 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Saya bersama Jameil dari Benin di depan Ka'bah. (Dok. Heri Mustofa)

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa –bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS Al-Hujurat / 49 : 13)

Setiap kali aku meletakkan sajadah di Masjidil Haram, maka yang aku lakukan adalah menjabat tangan saudaraku yang duduk di sebelah kanan dan kiri sambil mengucapkan,”Assalamu’alaikum. I come from Indonesia. My name is Heri Mustofa. Do you speak English?”

Respon dari salam perkenalan saya di atas bervariasi, ada yang menjawab, ”Wa’alaikumussalam. Afghanistan….” sambil menggeleng-nggelengkan kepala. Maka saya mengerti dan senyum, bahwa dia tidak bisa berbahasa Inggris. Lalu komunikasi terputus dan aku mengeluarkan Al-Qur’an untuk membacanya atau melakukan sholat sunat.

Apabila pembicaraan nyambung terus maka aku biasanya menanyakan apa pekerjaannya, apakah ke Makkah sendiri atau bersama keluarga, berapa orang dari negaranya yang datang ke Makkah untuk pergi haji, dan seterusnya.

Yang paling asyik ketika dialog dengan Jameil seorang warga Benin, negara di sebelah barat Nigeria, ketika aku menjawab pertanyaannya bahwa jumlah jama’ah haji Indonesia tahun ini yang datang ke Makkah sekitar 230.000 orang.

“Wuoao…. barakallah.,” Jameil berteriak dan matanya melotot seolah tidak percaya, ”Hajj from Benin is about 4.000 people.” katanya. Kemudian dia beritahu teman-temanya di sekitarnya betapa banyaknya jama’ah haji dari Indonesia.

Di HP saya tersimpan video, ”Indonesia Tanah Airku.” Aku putar video yang berdurasi sekitar 4 menit di hadapan Jameil, aku selalu bangga menunjukkan keindahan dan kekayaan alam Indonesia. “Subhanallah… It is very beautiful”, Jameil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tidak kalah asyik juga ketika berkenalan dengan Anouar dari Maroko. Anouar adalah nama untuk Anwar yang ditulis secara Perancis. “Is there any Islamic Bank in Al-Maghribi?”  tanyaku pada Anouar, dia lebih suka negaranya dipanggil dengan Al-Maghribi yang artinya Barat. “No Islamic Bank in Al-Maghribi, because of law. Maroco law is controlled by France.”

Kemudian dia bercerita betapa menyedihkan nasib negaranya yang sudah merdeka tetapi undang-undang yang berlaku masih sisa-sisa imperialis Perancis.

Anouar adalah pengusaha muda, dia mensuplai alat-alat kesehatan pada beberapa rumah sakit di Maroko. “Nice to meet you and see you in Madinah,” Anouar pamitan karena sudah ditunggu istrinya.

Aku berangkat lebih dahulu ke Madinah tanggal 19 Nopember 2011, sementara Anouar tanggal 26 Nopember nanti. Networking yang telah aku bangun selama sebulan mukim di Mekkah terdiri dari negara Maroko, Benin, Nigeria, Saudi Arabia, Pakistan, India, Kashmir, Afghanistan, Irak, Iran,Turki, Mesir; aku memiliki nomer HP dan alamat emailnya mereka. Sayang sekali, aku berkali-kali bertemu orang Kazhaktan, namun belum ada dari mereka yang bisa berbahasa Inggris.

Kunjungan ke Madinah

Kunjungan ke Madinah, meski ini bukan rangkaian rukun haji, namun mengunjungi kota Nabi SAW pasti suatu pengalaman yang sangat mengasyikkan. Kebiasaanku di Makkah masih aku lanjutkan di Madinah. Hari ini di Masjid Nabawi aku berkenalan dengan Shukri dari Libya, seorang dokter rumah sakit di Tripoli. Setelah cerita tentang jumlah jama’ah haji masing-masing negara, aku menanyakan kondisi Libya yang baru bergejolak.

“Pemerintahan Libya saat ini dipegang oleh Pemerintahan Transisi. Khadafi dalam 6 bulan telah membunuh sekitar 1500 orang termasuk para mahasiswa. Khadafi benar-benar melakukan hal yang sia-sia,” cerita Shukri mengalir dengan lancar. “Apakah Khadafi seorang Muslim?” tanyaku ragu-ragu.

“Ya… dia Muslim. Warga Libya yang berjumlah sekitar 7 juta orang adalah muslim. Benar-benar sia-sia… Untuk apa? Anak saya yang tertua adalah salah satu korban yang meninggal.”

“Semoga anak bapak mati syahid”, aku segera menimpali dan mataku agak berkaca-kaca.

“Ya, semoga dia mati syahid. Dia juga mahasiswa kedokteran yang setahun lagi lulus…” Kemudian Dokter Shukri menundukkan kepala dan tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata, matanya bercucuran air mata. Aku tepuk-tepuk bahunya, aku sendiri terbayang anak-anakku, apakah aku juga mampu menahan cobaan seperti Dokter Shukri?

Madinah, 28 Dzulhijjah 1432H/24 Nopember 2011M
Heri Mustofa
Jama’ah Haji Indonesia 2011

Redaktur: Johar Arief

17 Responses to “Haji sebagai Media Saling Mengenal Antarbangsa”

  1. Robby on November 25th, 2011 10:47 am

    inilah indahnya ibadah haji……mempertemukan saudara-saudara muslim dari seluruh dunia berbagai kulit, bangsa dan budaya…..sungguh Allah Maha Besar…

    Kunjungi:
    Biaya Haji Plus dan Umroh 2012 Jakarta
    Belajar Memulai Bisnis Online

  2. Zulkifli on November 25th, 2011 11:29 am

    Nama saya Zulkifli saya juga barusan pulang menjalankan Ibadah Haji saya dari Medan Keloter 8 sangat Menanjubkan memang kalau kita dapat berhaji dan Memandang Kab’ah tak dapat berucapkan kata kata sangkin harunya dengan Baitulah sungguh bahagia kita bisa berjumpa dengan segala macah rupa dan bangsa di dunia ini selamat melanjutkan Ibadahnya semoga menjadi haji Mambur Tks

  3. pak haji said on November 26th, 2011 1:54 pm

    Subhanallah…..memang salah satu Hikmah dari Haji adalah dipertemukannya saudara muslim sedunia untuk saling bertemu dan menolong…….
    betapa indahnya umat muslim jika saling mengenal dan tolong menolong, maka kelak umat ini akan bersatu dan kuat……….

  4. Heri Mustofa on November 26th, 2011 2:18 pm

    Salam kenal Pak Zulkifli dan Pak Robby,
    Kami Kloter 49 dari Bogor tiba di tanah air rencana 30 Nopember, insya Allah.
    Silaturrahim kita dapat dilanjutkan melalui email,
    alamat email saya : mustovus@yahoo.com

    Kalau sudah hilang lelahnya dan longgar waktunya, mohon dibuka website http://www.pokokajaranislam.com
    Semoga bermanfaat.

    salam berbagi,
    Heri Mustofa

  5. Fitri. S on November 27th, 2011 6:48 am

    Kita dapat membayangkan, jika silaturahmi dan networking yang telah dibangun ketika berhaji…dapat berlanjut dan diperkuat setelah berhaji…insya Alloh, kejayaan Islami dapat terwujud..Amin..3x YRA

  6. Ahmad FIKRI on November 27th, 2011 5:50 pm

    Sungguh komunikasi yang terduga yang didapatkan di Madinah & Mekah, wabilkhusus mengenai tanya jawab dengan warga Libya kami trenyuh; apakah memang benar Khadafi seperti apa yang dikemukakan oleh salah satu warganya bahwa Khadafi melakukan hal yang sia-sia???
    Atau apakah kami berpendapat (meragukan) seperti ini karena tidak mengalami langsung kejadian demi kejadian disana???
    Wallahu ‘alam bishshowab…

  7. Sulistio on November 28th, 2011 5:47 pm

    Subhanalloh nah inilah sala satu tujuan dari Ibadah Haji , kita akan bertemu dengan jamaah haji seluruh dunia walau tidak bersapa banyak dengan ucapan salam asalamualaikum , indonesian good

  8. Rio Bambang Herrijanto on December 6th, 2011 12:28 am

    Salam kangen aja dari teman se kloter….. makin banyak yg kan didapat dengan kemampuan qta berbahasa sebagai alat komunikasi… Alhamdulillah….

  9. Sri Suhartini on December 13th, 2011 3:52 pm

    Alhamdulillah, saya juga baru saja mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah haji. Subhanallah, saya yang sangat sedikit ilmu, banyak dosa dan kekurangan dikaruniai kesempatan untuk berada di baitullah bersama ahli-ahli ibadah dari seluruh dunia. Saya juga punya pengalaman, salah mengambil jalan untuk pulang ke maktab. Setelah 1,5 jam berjalan, saya berdua dengan teman saya sampai di daerah maktab orang Pakistan. Ternyata saya sudah jauh tersesat. Kemudian saya ditolong oleh jamaah dari Pakistan yang akan menuju Masjidil Harom dengan fasilitas bis mereka. Kami berdua ikut mereka sampai masjidil Harom, baru kemudian pulang ke maktab mengambil jalan yang benar. Subhanallah, indahnya menerima uluran persahabatan ketika kita sedang dalam kesulitan, walaupun satu-satunya kata yang sama-sama kami pahami hanya “Harom”. Satu kata ini dengan ajaibnya membawa kami bersama-sama menuju baitullah, untuk kemudian berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing.

  10. Diran on December 16th, 2011 10:06 am

    Subhanalloh….sungguh ini adalah satu hal yang harus kita lakukan selama kita berada di tanah Suci. Ini akan membuat kaum muslimin menjadi bersatu dan kuat , sehingga Islam merupakan agama perdamaian , persatuan dan persahabatan. Semoga jamaah haji yg lain akan mengikuti langkah langkah yg dilakukan oleh Pak Haji Hery. Selamat pak Haji Herry ..semoga menjadi haji mabur.

  11. nanik s on December 18th, 2011 2:38 pm

    Subhanalloh aku juga bertemu seorang ibu dari libya,dia bercerita suaminya meninggal dunia dalam konflik di negaranya,fotonya pun ditunjukan.itulah cara ALLAh mempertemukan umat ciptakanya,yg satupun tidak ada yg sama persis.

  12. nanik s on December 18th, 2011 2:41 pm

    Senang sekali rasanya kita bisa berbagi cerita,semoa ALLAH masih memberi saya kesempatan untuk datang di baitulloh.Amin.

  13. ujang sulaiman H.dr on December 28th, 2011 2:16 pm

    Allahuakbar, subhanaAllah,
    Tidak ada kalaimat yang bisa kami ujudkan dalam ibadah haji…………….
    Kecuali l,uar biasa, asyik, nikmat dan sangat nikmat.

  14. amri rais on January 10th, 2012 9:44 am

    Assalamualaikum.wr.wb.
    Apakabar pak Haji Heri…semoga Allah slalu memberi kenikmatan sehat walafiat, Salam mina -makkah – Madinah.H. Amri & kel.

  15. travel-hajiplus-umrah on January 24th, 2012 5:58 pm

    Subhanallah….sungguh indah agama kita, tidak memandang ras dan suku bangsa. Semoga umat islam di indonesiapun selalu bersatu. Amin

  16. lina on April 8th, 2012 10:03 pm

    Alhamdulillah sy kmrn jg berhaji. Kl sy ktmu bnyk yg tdk bs bhs Inggris, tapi saat sholat kita semua mengerti bahasanya. Subhanallah islam adalah agama universal

  17. Almalik Husin on September 13th, 2012 11:45 am

    Nice