Ikhlas Ala Tukang Parkir

2 February 2012 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Untuk memberi rasa aman saat berhaji, Eva Indriyati (39 tahun) dan suaminya, Kelik Hari Purwanto (39), memutuskan berangkat bersama dua tahun yang lalu. Kehadiran suami sebagai pendamping dan pelindung saat berada di Tanah Suci membuatnya lebih mantap. “Kan sebaiknya kita di sana ada mahramnya,” kata Eva.

Keputusan tidak diambil dengan mudah. Saat itu, ia sebenarnya merasa berat meninggalkan anak semata wayangnya, Riva Rizki Ramadhani, yang sedang duduk di kelas 6 SD.

Masih lekat di benak Eva dan Kelik pengalaman tak mengenakkan saat mereka berumrah dua tahun sebelumnya. Menjelang keberangkatan umrah waktu itu, Rama masuk rumah sakit karena terkena usus buntu. Ketika mereka berangkat, si buyung yang duduk di kelas empat SD itu sudah dioperasi dan keadaannya membaik.

Eva berangkat dengan tenang karena Rama telah dijaga oleh omanya. “Lagi pula sudah prepare sejak lama,” katanya tentang keberangkatan mereka berdua. Ternyata, setelah sehari di rumah, Rama sakit lagi. “Kena infeksi di bekas operasinya itu,” ujarnya. Padahal, Eva dan suaminya sudah berada di Tanah Suci.

Kendati Rama ditemani dan diurusi secara maksimal oleh omanya, Eva tetap saja panik. Keadaan Rama tak lepas dari benaknya, telepon tak lepas dari genggamannya. Tak henti-hentinya Eva berdoa dari jarak jauh sambil memantau kabar dari Tanah Air. Ia bertambah panik saat mendengar kabar infeksi pada Rama ternyata sudah menyebar dan parah. “Harus dilakukan operasi besar, perut dari ujung ke ujung dibuka semua,” kenangnya. “Rasanya ingin langsung pulang saat itu juga.”

Ia ingin mendampingi Rama dalam keadaan kritis itu. Kepanikannya ia ceritakan kepada pimpinan rombongan umrahnya, Aa Gym. Pimpinan Ponpes Daarut Tauhid itu bisa menenangkannya.

“Memangnya apa yang bisa kita lakukan kalau kita ada di sebelah anak kita?” kata Eva menirukan ucapan Aa Gym. “Di sana dia kan sudah ada di tangan  yang ahli, ada dokter dan rumah sakit yang menolong.”

Aa Gym pun banyak memberikan nasihat. “Kita sedang di rumah Allah, lebih baik berdoa dari sini saja, insya Allah dikabulkan.” Benar juga, menurut Eva, setelah ditenangkan seperti itu, ia pun menjadi lebih khusyuk beribadah. Ia banyak berdoa untuk kesembuhan anaknya. “Pasti Allah menunjukkan jalan yang terbaik,” ujar Eva, sebagai penguat keyakinannya.

Setelah tertunda 24 jam, Eva sampai juga ke pelukan anaknya. Rama masih di ICU, tapi selang, oksigen, dan kateternya sudah tidak lagi terpasang.

Saat memutuskan berangkat haji, pengalaman umrah itu kembali menghantui. “Masih kepikiran,” katanya. Apalagi, ternyata, proses pemberangkatan hajinya ini cepat. “Daftarnya itu Januari, eh Julinya sudah dapat tempat,” ujar perempuan yang tinggal di daerah Pulo Gadung ini.

Setelah banyak memantapkan diri, akhirnya Eva pun siap dengan satu keputusan, tetap berangkat haji. “Pokoknya ikhlaskan semua, itu yang saya tekankan pada diri saya.”

Ketika memberi kabar ia dan suaminya akan berangkat haji, keluarganya setuju, termasuk Rama. Bahkan, si belia berjanji untuk menjaga kesehatan dan tak akan membuat bundanya khawatir.

Untuk lebih mengikhlaskan lagi perasaannya sebelum ia berangkat, Eva menganut prin sip ala tukang parkir. Baginya, semua harta, juga anak, hanya titipan dari Allah SWT.

Seperti halnya tukang par kir, ketika ada mobil bagus atau mobil jelek da tang, di syukurinya. Ketika sang pe milik mobil datang un tuk mengambil, tukang parkir pun ikhlas membiarkan ba rang yang dititipkan kepadanya itu pergi, katanya.