Ki H Anom Suroto, Serba Jalan Kaki

27 November 2009 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Ki H Anom Suroto

Ki H Anom Suroto

Beragam cara dilakukan orang ketika menunaikan ibadah haji. Apa yang dilakukan setiap jamaah berbeda antara satu dan lainnya. Bahkan, boleh dibilang, sesuatu yang ganjil juga dilakukan saat berada di Tanah Suci, Makkah Al Mukarramah.

Seperti yang dilakukan Ki Anom Suroto (59). Dalang wayang kulit kondang asal Solo, Jawa Tengah, ini boleh dibilang langka. Entah mengapa, ia bersama 20 orang jamaah membuat kesepakatan bersama: selama menempuh perjalanan haji di Tanah Suci, mereka akan melakukannya dengan jalan kaki. ””Ke mana pun perjalanan selama menunaikan ibadah rukun wajib haji, kita bersama anggota 20 orang sepakat jalan kaki,”” tutur Ki Anom Suroto.

Kesepakatan bersama ini diambil ketika mereka belum berangkat ke Tanah suci. Anggota yang semua laki-laki ini tergabung dalam satu kelompok terbang (kloter) dan satu kelompok dalam pemondokan. Sekadar pengetahuan saja, di antara jutaan jamaah selama di Tanah Suci jarang yang jalan kaki setiap kali menempuh perjalanan.

Kebanyakan di antara mereka naik alat transportasi, seperti bus. Kalau tidak sabar, mereka naik taksi meski ongkos lebih mahal dan risiko negatif kemungkinan terjadi. Orang tidak mau bersusah payah ke mana pun pergi, mesti naik fasilitas alat transportasi yang disediakan di sana.

Beda dengan apa yang dilakukan Ki Anom Suroto dkk. Begitu tiba di Jeddah dan menunaikan shalat Arbain, mereka terus melanjutkan perjalanan ke Makkah. Prosesi dari Makkah ke Arafah dimulai dengan berjalan kaki. Sebanyak 20 orang tersebut tak peduli dengan jutaan jamaah lain yang antre menunggu bus antar-jemput. Mereka tak memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia walau dalam keadaan kosong.

””Kita melakukan perjalanan pada malam hari. Hawanya sejuk dan segar. Nyamanlah. Bangun tidur, terus mandi, dan melakukan persiapan perjalanan panjang. Enak rasanya menikmati embun malam hari untuk berjalan kaki,”” katanya. Mereka tiba di Arafah sebelum setelah melakukan perjalanan dari Makkah.

Perjalanan wukuf dari Makkah ke Arafah, menurut Ki Anom Suroto, menguras tenaga. Tapi, karena tiba di lokasi sebelum Subuh, semuanya tak terasa. Modalnya, hati tetap senang dan semua dilakukan dengan rasa ikhlas sepenuh hati.

Perjalanan dari Makkah ke Arafah dilakukan bukan asal-asalan. Rombongan sebanyak 20 orang ini sebelumnya sudah melakukan tes percobaan. Ternyata, perjalanan malam lebih enak, cepat, dan nyaman. Berangkat malam dan tiba di Arafah sebelum subuh. Berarti, wukuf pada hari H bisa dilakukan dengan cara serupa. Akhirnya, itu membuat ketagihan setiap ibadah hingga kemudian dilakukan dengan jalan kaki.
Berbeda dengan jamaah yang menempuh perjalanan dengan memanfaatkan fasilitas transportasi bus, mereka datang di Arafah sekitar pukul 10 pagi. Keterlambatan ini lantaran terjebak kondisi jalan yang macet. Ini karena saking banyaknya kendaraan umum pengangkut jamaah haji.

Tidak heran kalau cuaca mulai panas ketika mereka tiba. Tidak aneh kalau ada banyak kendaraan pick up yang mengangkut es balok.
Demikian juga ketika menempuh perjalanan dari Arafah ke Mina, mereka menempuhnya dengan jalan kaki. Perjalanan mengambil kerikil–untuk lempar jumrah–ke Muzdalifah juga jalan kaki. Kemudian, perjalanan dari Mina ke Makkah juga kembali dilakukan dengan jalan kaki.

Menurut pengakuan Ki Anom Suroto, perjalanan haji tahun 1980 dilakukan serbalancar. Terasa lebih cepat jalan kaki ketimbang naik kendaraan bus–yang terus terjebak macet. Kondisi persiapan fisik dan mental yang prima mendukung kelancaran ibadah haji. Ternyata, proses perjalanan kaki kala itu penuh makna bahwa manusia wajib melakukan penghambaan kepada Allah. Ketika wukuf, jutaan umat manusia dari seluruh penjuru dunia, beda suku dan warna kulit, menyatu dan melakukan penghambaan kepada Sang Khalik. Di sinilah, tempat manunggalnya umat manusia mengagungkan asma Allah.

Ki Anom Suroto menunaikan ibadah haji atas dorongan ibunya, Ny Sawitri, dan neneknya, Kertotiyoso. Ia merasakan dampak positif usai menjalankan ibadah rukun Islam kelima. Sikap kepasrahan, kesabaran, rasa gelisah, bingung, dan serba tergesa-gesa secara pelan terkikis sirna. Kehidupan kian mantap.

””Dulu, kalau lagi sepi tanggapan (job), saya gelisah. Tapi, sekarang berbeda. Sikap semeleh (pasrah) terjadi. Lagi tidak mempunyai uang pun, juga tidak kemrungsung (tergesa-gesa).” Dan, alhamdulillah, usai menunaikan ibadah haji, dunia keseniannya kian laris manis. Setiap bulan tidak pernah sepi dari job. Yang jelas, setiap ada adegan goro-goro (lawakan) dimanfaatkan untuk media dakwah.

Menurutnya, kini menjalankan profesi sebagai seniman dalang wayang kulit kian mantap. Ia mendakwahkan ajaran Islam, budi pekerti pergaulan, dan tata krama lewat media wayang kulit. Sebenarnya, seni tersebut tergantung pada dalangnya, bisa dimanfaatkan sebagai media pendidikan, penyebar informasi, dan dakwah. ed: maghfiroh/Slamet Riyanto