Pengalaman Wukuf di Arafah

7 November 2011 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Padang Arafah, Makkah, Arab Saudi. Foto: Antara/Prasetyo Utomo

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi saya, ibadah haji itu mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang bergerak. Ini tercermin dari ibadah thawaf dan sa’i. Tahun ini, tidak kurang dari 5 juta jamaah dari seluruh penjuru dunia dengan pakaian ihram berthawaf, yaitu bergerak mengitari Ka’bah tujuh putaran sambil tak henti mengumandangkan doa.

Kemudian, mereka juga bersa’i, yaitu berlari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa selama tujuh kali. Jika kita tak bergerak di tengah-tengah kedua ritual itu, malah akan mengganggu yang lain.

Ajaran ‘bergerak’ mempunyai kesinambungan sejak adanya kehidupan di dunia ini. Thawaf sudah ada sejak Nabi Adam AS. Sedangkan sa’i merupakan ibadah yang meneladani kegigihan Siti Hajar (istri kedua Nabi Ibrahim yang hanya seorang budak wanita hitam) dalam mencarikan air bagi anaknya, Nabi Ismail AS, yang menangis karena kehausan.

Sedangkan wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah ibadah yang nyaris tidak ada gerak. Wuquf berasal dari bahasa Arab, waqafa-yaqifu-wuqufan yang memang bermakna ‘diam’.

Namun mengapa ritual ‘diam’ ini justru menjadi rukun haji yang terpenting (rukun akbar)? Artinya, tidak sah ibadah haji seseorang jika tidak melakukan ritual ‘diam’ di tempat di mana Adam dan Hawa dipertemukan kembali oleh Allah SWT ini setelah diusir dari surga. Jika kita berhaji dan jatuh sakit pada hari itu, maka kita akan digotong dengan ambulans yang sudah tersedia.

Saking pentingnya peristiwa itu, saya sudah merasakan suasana spiritual sejak dari maktab (penginapan). Saya begitu tersentuh ketika sambil mengumandangkan lafadz talbiyah, ‘Labbaik allahumma labaik, Labbaika la syarikala labbaik’ (Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu dan tidak sekutu bagi-Mu ya Allah) saya memasuki Padang Arafah di malam hari.

Secara fisik, memang tidak ada yang istimewa di padang ini. Bagi saya, Taman Monas di Jakarta jauh lebih indah dan tertata rapi. Di tempat ini, saya hanya melihat sebuah padang yang tandus dan dikelilingi oleh bukit-bukit berbatu yang gersang dan tanah yang berdebu. Di siang hari, panas matahari terasa membakar.

Namun, dengan semua keterbatasan dari padang tersebut, saya justru melihat keistimewaan saat menyaksikan jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia dengan berpakaian ihram berbondong-bondong dengan berbagai cara. Ada yang datang dengan berjalan kaki, dengan mobil pribadi, dengan truk bak terbuka, maupun dengan bus tua di mana beberapa jamaah nekat duduk diatas dek bus itu. Mereka semua datang untuk memenuhi panggilan Ilahi.

Tanpa terasa, air mata saya menetes karena mengagumi kekuasaan-Nya. Saya juga bersyukur luar biasa karena menjadi bagian dari umat Islam yang mendapatkan kesempatan berhaji tahun ini.

Kenapa semua jamaah haji harus ‘diam’ di Arafah? Karena pada hari itu, mulai dari ba’da Dzuhur hingga terbenamnya matahari semua pintu langit Arafah dibuka seluas-luasnya oleh Allah SWT untuk hamba-Nya yang memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Disinilah doa taubat pertama diucapkan oleh umat manusia, Nabi Adam dan Hawa: “Rabbana dzalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin,” (Ya Tuhanku. Sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Kau tidak mengampuni dosa-dosa kami, maka kami menjadi hamba yang merugi).

Oleh karenanya, peristiwa ini sangatlah langka. Hanya sekali dalam setahun dan hanya diberikan pada jamaah haji yang berkumpul di padang tandus itu. Sehingga semua jamaah haji harus ‘diam’ pada saat dan tempat yangg sama untuk menggapai anugerah Arafah itu.

Saya sendiri memaknai suasana di Arafah itu adalah saat yang tepat untuk ‘diam’. Dalam ‘diam’ itulah saya berusaha ‘arafah’ (kenal) terhadap diri sendiri, utamanya terhadap dosa-dosa yang telah saya lakukan selama ini. Dalam ‘diam’ itulah saya bermunajat terutama atas dosa-dosa kepada orang tua, istri, anak-anak dan entah berapa orang yang telah terzalimi oleh sikap saya.

Semoga air mata tangis taubat ini menjadi titik balik dalam hidup saya untuk memulai hidup baru. Ibarat buku catatan, maka setelah ‘diam’ di Arafah ini buku saya sekarang telah menjadi baru kembali. Dalam ‘diam’ ini pula saya sadar bahwa jika kita terus bergerak saja tanpa ‘diam’ yang kontemplatif, merupakan tindakan yang justru tidak produktif.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Fernan Rahadi
Sumber: Noor Huda Ismail, Penulis buku ‘Temanku Teroris?’