Tina Rustina Gondokusumo – Teguran Membawa Berkah

2 February 2012 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Oleh: Damanhuri Zuhri

“Ya Allah, ya Allah, ya Allah.” Kalimat itu saja yang berulang-ulang terucap dari bibir Tina Rustina Gondokusumo yang terbaring sakit. Saat itu, ia merasa tak punya daya. Badannya lemah, lunglai, dan hanya bisa tergolek di tempat tidur. Ia bahkan merasa seperti sudah saatnya meninggalkan dunia fana ini.

“Di situ baru saya menyadari, apa pun yang saya punya tidak ada artinya. Benar-benar tak ada artinya. Sungguh sebuah teguran yang saya rasakan waktu itu,” kenang Tina kepada Republika, beberapa waktu lalu, di Denpasar, Bali.
Nyatanya, teguran itu membawa hikmah bagi wanita yang kini dikenal sebagai pegiat dunia dakwah di Bali ini. Peristiwa itu menyadarkannya untuk sujud lima waktu sehari kepada Sang Pencipta. “Tiba-tiba saja, saya mulai ingin shalat,” ungkap pendiri Majelis Taklim Al-Istikomah ini.

Untuk shalat, ia minta diajari oleh pembantunya di rumah. “Pembantu saya mengajarkan saya shalat sampai dia menangis. Selain diajari shalat, saya diajari mengaji,” papar Tina yang lama belajar mendesain busana di Italia. Desainer kondang Itang Yunaz adalah teman dekat yang selalu mengingatkannya untuk shalat.

Beruntung, saat itu mulai muncul program pendidikan agama di pagi hari yang disiarkan beberapa stasiun televisi swasta. Lewat layar kaca inilah, Tina mengaku banyak belajar agama dari Prof Arif Rahman, Ustaz Mawardi Labay,  dan KH Quraish Shihab. “Saya tidak bisa bergerak, hanya di tempat tidur mendengar ceramah tiap pagi dari beliau-beliau sampai akhirnya saya mulai mengerti Islam,” tutur wanita yang aktif di Khalifah Club Bali ini.

Melalui parabola, Tina pun akhirnya bisa menyimak siaran agama dari Brunei Darussalam. Ia mengaku sangat menikmati siaran agama dari layar televisi yang selama ini tak pernah ia lakukan. “Terus terang, saya benar-benar menikmati acara agama dari layar TV. Saya di Bali nggak tahu mau panggil siapa. Saya ingin belajar, ingin tahu Islam. Jadi, saya mendambakan ingin bertemu Prof Arif Rahman, tapi saya nggak tahu mau meneleponnya ke mana. Saya kepingin ketemu Prof Quraish Shihab, ingin sekali bertemu Ustaz Mawardi Labay, tapi bagaimana caranya?” tanyanya waktu itu.

Melalui bimbingan agama yang didapat dari layar kaca, Tina mengaku mengenal jalan Tuhan. “Sejak itu, saya mulai banyak tanya tentang Islam. Saya mulai belajar membaca Alquran. Saya tanya ke Jakarta, Departemen Agama di Bali di mana?” katanya penuh semangat. Dari informasi yang didapat, Tina akhirnya dipertemukan dengan Ustaz Raihan. Ini terjadi pada 1993. Sang ustaz banyak memberi nasihat dan bimbingan. “Beliau datang ke rumah ngobrol-ngobrol, bukan mendakwah atau menggurui. Setelah itu, perlahan-lahan, dia mengajarkan saya mengaji. Saya bukan tidak bisa, tapi karena sudah lama tidak membaca Alquran, jadi nggak bisa.”

Dari sang ustaz pula, Tina mengetahui arti pentingnya sedekah. Ustaz Raihan mengatakan, jika kita ingin sembuh, menjadi lebih baik, hati lebih tenang, jangan lupa sedekah. “Saya mulai mengerti macam-macam sedekah, zakat, infak.”

Terkait sedekah ini, ia kemudian tertarik untuk berguru kepada Ustaz Yusuf Mansur, dai muda yang dikenal dengan tema-tema ceramahnya yang sangat menyentuh tentang sedekah.  “Alhamdulillah, beliau jadi teman. Haji Zainal Sania yang membawa Ustaz Yusuf Mansur ke sini.”

Ke Tanah Suci
Berangsur-angsur kesehatan Tina membaik. Ia mencoba berobat ke luar negeri. Ketika pulang, ia sudah bisa jalan. Betapa bahagianya ia.

Setelah membaik, sang ibunda mengajaknya menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci. Tina sempat menolak ajakan itu. Ia merasa dosanya terlalu banyak sehingga takut pergi ke Tanah Suci. Namun, ibundanya terus mendesak. “Kamu punya uang, melangkahlah sekarang ke Rumah Allah,” ujar Tina menirukan ucapan ibundanya waktu itu. Tina pun luluh. Akhirnya, ia berangkat ke Tanah Suci bersama keluarga.

Saat umrah, Tina mengaku merasakan nikmat luar biasa. Ia bisa berjalan, lancar. Badannya pun fit, segar bugar. “Kami 15 hari di sana, dan waktu saya mau pulang saya takut nggak bisa jalan lagi. Karena waktu mau berangkat umrah, baru lima kali melangkahkan kaki sudah capai. “Ketakutan Tina tak terbukti. Sepulang umrah, tiba di Tanah Air, bahkan hingga saat ini, ia bisa berjalan tanpa hambatan, tanpa rasa lelah. Syukur, Alhamdulillah.

Kini, istri dari Wolfgang Pikal, mantan asisten Alfred Riedl, pelatih timnas PSSI, ini semakin bahagia karena setiap bulan di rumahnya yang cukup luas di Denpasar selalu digelar pengajian. Seperti yang terjadi pada pekan pertama, Juni lalu, tak kurang dari 100 jamaah Majelis Taklim Al-Istikomah, mulai dari para ibu, bapak, dan anak-anak memenuhi kediamannya untuk mendengarkan tausiah yang disampaikan Ustaz Bachtiar Nasir, pimpinan Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Center.

Menurut Tina, pengajian ini sudah lima tahun berjalan sejak 2006. Sebenarnya, ide penyelenggaraan pengajian ini dicetuskan oleh beberapa keluarga ‘campuran’. “Dalam arti,  campuran kewarganegaraan, bukan campuran agama. Suami-istri Muslim tetapi kewarganegaraannya beda-beda.”

Karena itu, cerita Tina, sering terjadi anak-anak dari keluarga campuran itu bertanya kepada guru ngajinya, “Do you speak English?” Kalau guru mengajinya tak bisa berbahasa Inggris, biasanya mereka minta kepada orang tuanya untuk ganti guru mengaji. “Karena ini keluarga campuran sehingga bahasa yang dipakai dalam rumah tangga kebanyakan bahasa Inggris.”

Setelah berjalan sekian lama, frekuensi pengajian ditambah. Dari semula sebulan dua kali menjadi sebulan tiga kali setiap Jumat malam. Materi yang dibahas awalnya lebih kepada persoalan-persoalan umum, seperti shalat, wudhu, zakat, dan masalah yang terkait umrah atau haji. Tapi kini, pengajian ini mulai fokus mempelajari dan mendalami Alquran.

Tina bahagia melihat perkembangan pengajian ini. Ia berharap, hal ini akan membawanya menjadi Muslimah yang berilmu dan berakhlak Alquran.