Usai Berhaji, Pemuda Amerika Bertekad Selalu dalam Naungan Islam

25 October 2011 | Kategori: Pengalaman Umrah dan Haji

Masjidil Haram, di Makkah Al-Mukarramah. Foto: Antara/Prasetyo Utomo

REPUBLIKA.CO.ID, Faisal benar-benar terpesona melihat Ka’bah. Saat melangkahkan kaki di lingkungan Masjidil Haram, pemuda Amerika ini bergegas mendekat ke Baitullah.

Ketika mengelilingi Ka’bah (thawaf) seperti yang diperintahkan Allah sebagai tindakan pengabdian, ia bertanya-tanya mengapa begitu banyak penghalang antara dirinya dan Allah. “Aku mengingat-ingat berapa lama terhanyut tanpa membawa secuil rasa keimanan dalam hati,” ujarnya.

Tak mampu meneteskan air mata, sempat membuatnya berpikir hatinya telah mengeras. Tapi ia tahu betul, itu adalah saat yang tepat untuk bertaubat. Ia lantas tersadar, “Allah mencintaiku bahkan ketika aku memberikan hatiku untuk sesuatu yang lain. Ia membimbingku sampai pada akhirnya aku bersujud dan berdiam diri di pucak ibadah,” begitu pikirnya.

Ia tak bisa melepaskan diri dari Ka’bah, betapa pun ia mencoba. Ia sadar tengah berada di suatu tempat yang segalanya tampak seragam, satu warna. Putih seperti kain kafan. Merenungi perbuatannya di masa lalu, ia bertanya apakah sudah memiliki rasa takut yang besar kepada Allah.

Ulama Ibnu Qoyyim mengilustrasikan proses perjalanan seorang hamba menuju Allah. Seseorang, katanya, harus memiliki sifat seperti seekor burung. Mahabbah (cinta kepada Allah) adalah kepalanya, sedangkan khauf ( takut ) dan raja’ (harapan) sebagai kedua sayapnya.

Bila kepala dan kedua sayapnya sehat, maka burung itu termasuk burung yang bagus terbangnya. Artinya, seseorang yang memiliki kecintaan yang baik dengan sifat khauf dan raja’ yang seimbang, akan dapat berjalan menuju Allah dengan baik. “Aku tak tahu apakah aku telah mengambil kenyamanan di sayap harapan dan sayap ketakutan seperti yang dijelaskan Ibnu Qoyyim,” ujar Faisal.

Ia ingin memiliki sayap ketakutan dan sayap harapan seperti yang dijelaskan Ibnu Qoyim. Ia pun merenungkan masa lalunya dan memikirkan bagaimana kehidupannya di masa depan. Faisal selalu bertanya apa yang seharusnya dilakukan agar lebih dekat kepada Allah.

Ia sadar sudah waktunya kembali ke fitrah, menuju Allah yang menciptakan manusia. Sudah waktunya memperbarui iman dan keluar dari kehidupan yang hampa. Ia ingin dosa-dosanya di masa lalu mengubah rasa takut menjadi harapan.

Perjalanan haji baginya sebagai salah satu cara untuk memotivasi hati dan jiwa seperti yang dijelaskan dalam Alquran sebagai nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang). Makkah benar-benar kota yang penuh rahmat dan Faisal merasa lebih dekat dengan Allah.

Saat memasuki Madinah, ia merasakan kehadiran Nabi di sana. Seperti ada sentuhan yang melembutkan hatinya. “Nabi, seorang yang nasihatnya lebih terang dari komet Hailey. Tetap bersinar selama 1.500 tahun, menyentuh kehidupan manusia yang hidup ribuan mil jauhnya di Amerika. Siapa yang berpikir aku termasuk pengikut jejaknya?”

Ketika berjalan di antara mimbar dan rumah Nabi di Masjid Nabawi, ia memohon pada Allah agar kelak di hari kiamat, ia dijadikan saudara Nabi. Seperti diriwayatkan oleh Muslim, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman,” sabda Rasulullah.

“Aku membutuhkan Nabi sebagaimana gurun membutuhkan hujan. Sungguh sangat bahagia bisa diakui oleh nabi sebagai sudaranya,” harapnya.

Melanjutkan jejak Rasulullah di atas Gunung Uhud, ia mengingat kisah peperangan Uhud. Di tempat itu, pasukan Nabi—para pemanah—melanggar perintah beliau ketika berperang di jalan Allah. Pasukan diperintahkan untuk berjaga, tetapi mereka lalai. Nabi tidak marah dengan para pemanah. Allah pun mengampuni mereka. “Sebuah ide tiba-tiba muncul seperti jarum yang menusuk ke dalam hati. Aku kemudian tersadar Allah pasti mengampuni dosa-dosaku,” ujarnya.

Sebelas hari napak tilas di Makkah, membuatnya sadar bahwa hari-hari yang dilalui oleh Rasulullah adalah hari-hari yang berat. “Ini mengingatkanku saat terjebak dalam kehidupan yang keras. Aku merasakan kedekatan dengan Allah dan Rasulullah,” ujarnya.

Saat naik pesawat kembali menuju Amerika, ia tahu kehidupannya setelah itu akan penuh dengan ujian keimanan. “Rasanya senang bisa kembali ke Amerika. Tapi di sana aku merasa haus pengetahuan dan kedekatan kepada Allah, Rasulullah dan saudara-saudara seiman,” katanya.

Tapi, kini ia tahu bagaimana cara keluar dari kehausan itu. Ia merasa harus berada dalam naungan Islam. Ia membaca sejarah hidup Nabi untuk senantiasa dekat dengan Allah, meskipun tak lagi berada di Makkah, jauh dari komunitas Muslim.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Dwi Murdaningsih
Sumber: Onislam.net