Haji sebagai Penyempurna Nikmat Allah (3-habis)

17 April 2012 | Kategori: Pernik

Ribuan umat Muslim memenuhi Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, untuk melaksanakan ibadah haji. Foto: Antara/Prasetyo Utomo.

REPUBLIKA.CO.ID – Allah SWT ingin mendidik dan mengatakan kepada kita bahwa memang pakaian dan kursi kita berbeda sesuai dengan kedudukan tiap manusia dalam masyarakatnya. Berbeda selera dalam memilih jenis dan kualitas bahan, warna dan potongannya.

Namun dalam menunaikan ibadah haji, Allah  tidak ingin melihat ada perbedaan warna dan potongan pakaian yang dipakai, apakah ia seorang raja atau seorang penyapu jalanan. Semua harus bersaudara.

Dalam ibadah haji pakaian sama, tidak ada perbedaan di antara mereka. Duduk bersebelahan, tidak ada yang merasa tinggi dan rendah di hadapan Allah yang Esa. Bahkan adakalanya sang raja harus menerima duduk atau berjalan di belakang tukang sapu jalanan tanpa merasa rendah diri dan sakit hati.

Ia harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk Allah yang kelak di Padang Mahsyar pun akan dihadapkan di pengadilan-Nya bersama dengan tukang sapu jalanan itu lagi, seperti ia dikumpulkan di padang Arafah sekarang ini.

Allah juga menghendaki agar kita sebagai hamba-Nya memakai seragam yang sama, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Dalam beribadah haji kita dituntut untuk menanggalkan semua simbol dan lambang perbedaan kita, meskipun pada hakikatnya fungsi dan kedudukan sosial kita berbeda-beda dan tidak bisa dilenyapkan.

Namun, apabila kita sudah tiba di Miqat Al-Bait, maka semua perbedaan dan keistimewaan itu harus dihilangkan. Pakaian ihram yang tidak berjahit kita kenakan. Semua yang berhaji seragam memakai baju yang serupa.

Dengan mematuhi perintah yang difardhukan Allah itu, maka kita telah mengakhiri salah satu sikap membedakan diri dan mengistimewakan pribadi dengan pakaian dan kedudukan. Dengan sendirinya kita sudah menyatakan rela sebagai hamba Allah yang patuh dan bersaudara.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Kitab Al-Hajjul Mabrur oleh Prof Dr M Mutawalli Asy-Sya’rawi