Hikmah Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah (1)

20 March 2012 | Kategori: Pernik

Jamaah haji wukuf di Arafah. Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID – Hikmah secara etimologi berarti mengetahui keunggulan sesuatu melalui suatu pengetahuan sempurna, bijaksana, dan sesuatu yang tergantung kepadanya akibat sesuatu yang terpuji.

Dalam istilah ushul fikih, hikmah diartikan dengan suatu motivasi dalam pensyariatan hukum dalam rangka pencapaian suatu kemaslahatan atau menolak suatu kemafsadatan.

Pengertian di atas menegaskan bahwa setiap pensyariatan hukum pasti mempunyai motivasi hukum. Namun, motivasi hukum tersebut ada yang mudah diketahui dan banyak jumlahnya dan ada pula yang sulit digali dan sedikit jumlahnya.

Seberapa banyak motivasi hukum yang dikandung oleh pensyariatan suatu hukum, amat bergantung kepada kualitas seorang mujtahid dan usahanya dalam menggali motivasi hukum tersebut.

Oleh sebab itu, pensyariatan ibadah haji yang terwujud melalui berbagai jenis gerakan, tentu mempunyai banyak hikmah. Sebab menurut sabda Rasulullah SAW, “Setiap pekerjaan harus (pasti) disertai oleh niat (motivasi).” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibn Majah, Abu Daud dan Tirmidzi).

Ibadah haji dan umrah sarat dengan nilai dan hikmah yang dapat diambil sebagai i’tibar. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah:

Pertama, menghilangkan dosa. Hal ini dapat diketahui melalui beberapa hadits Rasulullah SAW berikut ini:

 “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, dia tidak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan tidak pula mengeluarkan kata-kata yang kotor, maka ia akan kembali ke negeri asalnya tanpa dosa, sebagaimana ia dilahirkan ibunya pertama kali.” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Abu Hurairah).

“Dosa-dosa yang dilakukan antara umrah dan umrah berikutnya diampuni. Ibadah umrah dan haji yang mabrur (yang diterima) tiada lain imbalannya selain surga.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, dan Ahmad ibnu Hanbal).

“Orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah SWT. Jika mereka berdoa, Allah akan mengabulkannya, dan jika mereka meminta ampun, Allah akan mengampuni mereka.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Dari ketiga hadits di atas, tidak ada pembedaan antara dosa kecil dan dosa besar. Oleh sebab itu, menurut Mazhab Hanafi, dosa yang dihapus tersebut adalah dosa besar dan dosa kecil. Bila dosa kecil dan besar sudah dihapuskan oleh Allah SWT, tentunya seseorang akan terhindar dari siksaan neraka.

Berkenaan dengan ini terdapat hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, “Pada saat wukuf itu, Allah turun ke langit dunia dan berfirman kepada Malaikat: “Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dengan rambut kusut, berdebu, berbondong-bondong dari segenap pelosok bumi yang jauh untuk mengharapkan keridhaan-Ku dan memohon dijauhi dari siksa api neraka. Dan tidak ada orang yang lebih banyak dibebaskan dari api neraka kecuali pada hari Arafah.”

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Ensiklopedi Haji dan Umrah oleh Drs Ikhwan M.Ag dan Drs Abdul Halim M.Ag