Hukum Wanita yang Menunaikan Haji dalam Masa Iddah (1)

4 July 2012 | Kategori: Pernik

Ilustrasi. Foto: Republika/Wihdan.

REPUBLIKA.CO.ID – Waktu tidak bisa ditebak. Begitu juga dengan kehidupan seorang perempuan yang bisa berubah dari waktu ke waktu. Apa yang diperbolehkan baginya kemarin bisa jadi menjadi haram baginya hari ini.

Persoalan perempuan yang telah ditinggalkan suaminya karena ditalak atau ditinggal mati pada saat akan mengerjakan ibadah haji bisa diselaraskan dengan Firman Allah SWT, “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas.” (QS. Al-Thalaq: 1).

Kalangan fukaha sendiri berbeda pendapat perihal boleh dan tidaknya seorang perempuan yang sedang menjalani masa iddah itu keluar dari rumah untuk mengerjakan haji fardhu.

Persamaannya, pendapat ulama bersepakat tentang tidak diperbolehkannya perempuan yang sedang menjalani masa iddah karena ditalak raj’i (talak yang memungkinkan untuk rujuk kembali) atau ditinggal mati oleh suaminya. Mereka ini tidak boleh keluar rumah untuk pergi mengerjakan ibadah haji, baik ditemani oleh salah satu mahramnya maupun tidak.

Pendapat tersebut didasarkan pada ayat di atas yang berbunyi, “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya.”

Dalil lainnya ialah sebuah riwayat tentang Umar bin Khathab RA yang menyuruh seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya agar kembali pulang ketika baru sampai di Dzilhulayfah dalam perjalanannya ke Makkah untuk berhaji. Ibnu Mas’ud berkata, “Khalifah Umar menyuruhnya kembali pulang ketika baru sampai di Najaf.”

Dua dalil ini menunjukkan bahwa perempuan yang tengah menjalani masa iddah dilarang keluar rumah sekalipun unruk mengerjakan haji fardhu. Masa iddah tetap harus dilewati, sementara ibadah haji bisa dilakukan pada tahun berikutnya.

Dalam kitab Al-Mughni, fukaha mazhab Hanbali menyebutkan bahwa perempuan yang sedang menjalani masa iddah karena ditalak atau ditinggal mati suaminya sama sekali tidak boleh keluar rumah untuk pergi menunaikan ibadah haji.

Fukaha mazhab Hanafi menegaskan bahwa salah satu syarat diperbolehkannya seorang perempuan pergi haji ialah sedang tidak menjalani masa iddah. Jadi, dia tidak boleh pergi haji jika sedang menjalani masa iddah karena ditalak atau ditinggal mati oleh suaminya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Buku Induk Haji dan Umrah untuk Wanita oleh Dr Ablah Muhammad Al-Kahlawi