Keutamaan Hajar Aswad

1 May 2012 | Kategori: Pernik

Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Foto: Blogspot.com.

REPULIKA.CO.ID – Hajar Aswad saat turun dari surga adalah batu yaqut dari sekian banyak batu yaqut yang berada di sana. Kemudian dihadirkan pada Ibrahim agar dia meletakkannya di salah satu rukun (sendi atau sudut) Ka’bah.

Lalu, Rasulullah mengambilnya dengan tangannya yang mulia dan meletakkanya di tempatnya semula saat dilakukan rehabilitasi Ka’bah oleh orang-orang Quraisy. Kemuliaan keutamaannya semakin bertambah karena Rasulullah menciumnya sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi sebelumnya.

Selain itu, Hajar Aswad adalah tempat start untuk thawaf dan sekaligus sebagai akhir dari thawaf. Juga tempat bertemunya para nabi dan orang-orang saleh, jamaah haji dan orang-orang yang sedang melakukan umrah. Tempat ini adalah tempat yang mustajab untuk dikabulkannya doa.

Hajar Aswad akan memberi kesaksian pada hari kiamat bagi siapa saja yang memegangnya dengan penuh keyakinan dan benar.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Demi Allah, Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat. Hajar Aswad akan memiliki dua mata untuk melihat dan memiliki lidah untuk berbicara. Ia akan memberi kesaksian bagi siapa saja yang memegangnya dengan penuh keyakinan dan benar.”

Memegang Hajar Aswad
Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi, Abdullah bin Abbas mengatakan bahwa Rasulullah tidak pernah memegang kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Umar bin Khathab mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya. “Sesungguhnya, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu biasa yang tidak memberikan manfaat dan mudharat. Andaikata aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan pernah menciummu,” kata dia.

Umar mengatakan demikian karena manusia saat itu masih baru masuk ke dalam Islam, dan sebelumnya menyembah berhala. Ia khawatir orang-orang yang bodoh mengira bahwa memegang atau mencium Hajar Aswad merupakan bentuk penyembahan pada batu-batu. Atau, mengira bahwa penghormatan terhadapnya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Arab pada zaman jahiliyah.

Karena itu, Umar menerangkan bahwa dia mencium Hajar Aswad itu semata-mata mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Jadi, bukan karena Hajar Aswad itu bisa memberi manfaat atau mudharat apa pun sebagaimana hal ini diyakini oleh orang-orang jahiliyah penyembah berhala.

Dalam perkataan Umar ini ada isyarat bahwa menyerahkan diri pada pembuat syariah dalam masalah agama adalah hal yang wajib dan bentuk ketaatan terhadap apa yang dilakukan oleh Rasulullah, walaupun tidak diketahui hikmah yang ada di dalamnya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Sejarah Kota Makkah Klasik dan Modern oleh Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani