Makna Ibadah Sai

19 February 2013 | Kategori: Pernik

JAKARTA — Setiap Muslim yang menjalankan ibadah haji maupun ibadah umrah pasti melakukan sa’i. Sa’i yang merupakan salah satu rukun haji atau umrah,  adalah berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik sebanyak tujuh kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya.

Kedua bukit tersebut berjarak sekitar 405 meter. Ketika melintasi Bathnul Waadi yaitu kawasan yang terletak diantara bukit Shafa dan bukit Marwah, para jama’ah pria disunahkan untuk berlari-lari kecil,  sedangkan untuk jama’ah wanita berjalan cepat. Ibadah sa’i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang haid atau nifas.

Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Dr KH Zakky Mubarak  MA mengatakan, ketika melaksanakan ibadah sa’I,  sebaiknya jamaah haji ataupun umrah  menghayati ibadah tersebut. “Dengan cara demikian, ia bisa memahami makna ibadah sa’I tersebut, dan ibadah itu jadi bermakna,” ujarnya.

Namun tahukah Anda apa itu makna ibadah sa’i? Kiai Zakky menuturkan sa’i berawal dari kisah Siti Hajar, yakni istri  Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS rela meninggalkan putera satu-satunya (Ismail) beserta ibundanya. Padahal anak tersebut hadir ketika usia Ibrahim sudah tua dan telah dinantikan bertahun-tahun. Ibu dan anak balitanya itu  ditinggalkan di sebuah lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman (tandus) tanpa air, makanan dan perlindungan,  dekat dengan Baitullah. Hal tersebut digambarkan dalam Alquran surat Ibrahim ayat 37.

Kala itu, Ismail masih menyusu. Suatu hari perbekalan mereka habis, Ismail kelaparan dan kehausan. Siti hajar mencoba mencari sumber air dengan berlari-lari dari Shafa ke Marwah Demi seorang anak yang merupakan  amanah Allah, Hajar pun terus mencari sumber air hingga tujuh kali. Sampai suatu ketika, Allah menolong mereka dengan memberikan sumber air yang jernih, yang sekarang kita namakan air zam-zam.Siti Hajar adalah wanita tabah dan ikhlas menerima semua ujian yang Allah berikan.

Keikhlasannya menjadi sumber kekuatan. Kisah Siti Hajar ini diabadikan dan dikenang oleh seluruh umat Islam di dunia, sebagai rangkaian ibadah haji. “Walaupun ini merupakan peristiwa yang sangat pahit dari awal hingga akhir, tapi juga merupakan peristiwa yang sangat manis. Kepahitan bercampur dengan kemanisan dan kemanisan bercampur dengan kepahitan,” tutur Kiai Zakky.

Ia menambahkan, hikmah  ibadah sa’i adalah pengorbanan dan dedikasi total.  “Ibrahim AS dan orang-orang yang bersamanya memperlihatkan kepada kita, meninggalkan semua hal karena Allah serta mengorbankan kehidupan dan harta kekayaan demi agama Allah.,” ujarnya.

Selain memahami kajian sejarah, lanjut Zakky, jamaah haji dan umrah juga harus dibekali dengan keikhlasan. “Jika ikhlas, yang kelihatannya sulit akan menjadi mudah dilakukan,” ujarnya.

Rep: Dessy Susilawati