Menangis Selepas Berhaji (1)

16 May 2012 | Kategori: Pernik

Menangis (ilustrasi). Foto: Blogspot.com.

REPUBLIKA.CO.ID – Alkisah, selepas menunaikan ibadah haji, Syibli menghadap Imam Ali Zainal Abidin untuk menyampaikan hal-hal yang dialaminya selama berhaji.

Maka bertanyalah sang Imam kepadanya, “Wahai Syibli, bukankah anda telah menyelesaikan haji? “

“Benar, wahai putra Rasulullah,” jawab Syibli.

“Apakah anda telah berhenti di miqat lalu menanggalkan semua pakaian berjahit yang terlarang bagi orang yang meneriakkan haji dan kemudian mandi menjelang ihram?”

“Ya, benar.”

“Adakah anda ketika berhenti di miqat juga meneguhkan niat untuk berhenti dan menanggalkan semua pakaian maksiat. Dan sebagai gantinya, mengenakan pakaian taat?”

“Tidak.”

“Dan pada saat menanggalkan semua pakaian yang terlarang itu, adakah anda menanggalkan dari dirimu semua sifat riya, nifaq, serta segala yang diliputi syubhat?”

“Tidak.”

“Dan ketika mandi dan membersihkan diri sebelum memulai ihram, adakah anda berniat mandi dan membersihkan diri dari segala pelanggaran dan dosa-dosa?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, anda tidak berhenti di miqat, tidak menanggalkan pakaian berjahit, dan tidak pula mandi membersihkan diri!”

“Apakah anda telah mengerjakan sa’i antara Shafa dan Marwah, dan bolak-balik antara kedua bukit itu?”

“Ya, benar.”

“Dan pada saat-saat itu, adakah anda menempatkan diri anda di antara harapan akan rahmat Allah dan ketakutan menghadapi azab-Nya?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, anda tidak mengerjakan sa’i dan tidak berjalan pulang pergi antara keduanya.”

“Anda telah pergi ke Mina?”

“Ya, benar.”

“Ketika itu, adakah anda meneguhkan niat untuk berupaya keras agar semua orang selalu merasa aman dari gangguan lidah, hati, serta tangan Anda sendiri?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, anda belum pergi ke Mina. Anda tidak melempar jumrah, tidak mencukur rambut, tidak menyembelih kurban, tidak mengerjakan manasik, tidak berthawaf ifadhah, dan tidak pula mendekat kepada Tuhanmu. Kembalilah, kembalilah! Sebab, anda sesungguhnya belum menunaikan haji Anda!”

Mendengar ucapan sang Imam, Syibli menangis tersedu-sedu, meratap, dan menyesal atas apa yang telah dilakukannya selama melakukan ibadah haji. Sejak itu, ia giat memperdalam ilmu, sehingga pada tahun berikutnya ia kembali lagi ke Makkah dengan makrifat dan keyakinan penuh.

Kisah di atas dengan sangat gamblang menggambarkan betapa untuk memperoleh haji yang mabrur, yang di dalamnya sudah terkandung juga akhlak kemanusiaan, diperlukan serangkaian latihan dan persiapan. Tanpa pemahaman dan latihan yang memadai, haji hanyalah akan membuahkan kelelahan dan pengusiran dari-Nya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra