Sekilas tentang Kiswah

16 March 2012 | Kategori: Pernik

Pabrik pembuatan kiswah. Foto: Dok Republika

Kiswah merupakan salah satu bagian Ka’bah yang sejarahnya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Karena itu, umat Islam—khususnya Kerajaan Arab Saudi yang merasa paling bertanggungjawab atas eksistensi Baitullah—senantiasa menjaga dan melestarikan kiswah Ka’bah dengan mencuci dan menggantinya setiap tahun.

Sebelum Fathu Makkah, Rasulullah dan para sahabat belum pernah mengganti kiswah Ka’bah. Hal itu karena memang Ka’bah saat itu masih dikuasai orang-orang kafir yang tidak memperbolehkan kaum Muslimin untuk mengurus Ka’bah.

Usai peristiwa Fathu Makkah, Rasulullah Saw juga tidak mengganti kiswah Ka’bah. Penggantian baru terlaksana setelah kiswah terbakar oleh seorang perempuan yang hendak mengharumkannya dengan dupa. Saat itu, Rasulullah segera menutupi Ka’bah dengan kiswah dari Yaman.

Pada periode berikutnya, Abu Bakar, Umar, dan Utsman menutup Ka’bah dengan kain kiswah berbahan beludru. Saat Mu’awiyah bin Abu Sufyan menjadi pemimpin umat Islam, dia mengganti kiswah Ka’bah dua kali setahun, yaitu dengan kain sutra pada hari Asyura (10 Dzul Hijjah) dan dengan beludru pada akhir bulan Ramadhan.

Sementara Yazid bin Mu’awiyah, Ibnu Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan menutupi Ka’bah dengan sutra. Tradisi pun berlanjut, menutup Ka’bah dengan dua macam kain setahun; sutra dan beludru. Pertama, Ka’bah ditutup dengan kain sutra pada hari Tarwiyah, lalu dipakaikan sabuk kiswah—yang juga terbuat dari sutra—pada hari Asyura, tepatnya usai para jamaah haji pergi agar tidak ditarik-tarik jamaah hingga sobek. Kondisi demikian dibiarkan sampai tanggai 27 Ramadhan, lalu dilapisi kain beludru untuk menghormati datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Pada masa Khalifah Al-Ma’mun, kiswah penutup Ka’bah terdiri dari tiga kain, yaitu sutra merah pada hari Tarwiyah, beludru pada bulan Rajab, dan sutra putih pada tanggai 27 Ramadhan. Saat Khalifah al-Ma’mun mengetahui bahwa sutra putih robek karena ramainya jamaah haji yang datang ke Baitullah, dia pun membuat kiswah putih—kiswah keempat—pada hari Tarwiyah.

Adapun Khalifah An-Nashir dari Daulah Abbasiyah menutupi Ka’bah dengan kiswah hijau, lalu kiswah hitam. Sejak saat itu hingga sekarang, kiswah penutup Ka’bah pun selalu berwarna hitam.

Pada masa berikutnya, pemimpin Islam yang pertama kali mengganti kain kiswah Ka’bah sejak berakhirnya Daulah Abbasiyah adalah Raja Muzhaffar, Penguasa Yaman pada tahun 659 H. Selama beberapa tahun kemudian, dia senantiasa mengganti kain kiswah Ka’bah bersama-sama Raja Mesir. Penguasa Mesir yang pertama kali turut mengganti kain kiswah adalah Raja Baybars Al-Bunduq pada tahun 661 H.

Pada tahun 751 H, Raja Mesir Shalih Ismail bin An-Nashir Muhammad bin Qalawun mewakafkan kain hitam yang digunakan sebagai penutup Ka’bah bagian luar setiap tahun, dan kain hijau sebagai penutup kamar Rasulullah Saw di Masjid Nabawi setiap lima tahun.

Namun, Khediv Muhammad Ali, penguasa Daulah Utsmaniyah, pada abad ke-13 H menghentikan tradisi wakaf itu dengan cara menjadikan penggantian kain kiswah Ka’bah sebagai tanggungjawab negara. Dengan demikian, siapa pun pemimpin Daulah Utsmaniyah yang berpusat di Turki menjadi pihak yang berwenang dan bertanggungjawab mengurusi penggantian kiswah Ka’bah.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Al-Imdrah Al-Masjid, Al-Haram Abara at-Tarikh Al-Islamiy oleh Ibrahim Al-Asymawi