Serba-Serbi Badal Haji (1)

22 June 2012 | Kategori: Pernik

Calon jamaah haji (ilustrasi). Foto: Republika/Agung Supriyanto.

REPUBLIKA.CO.ID – Dari segi pelaksanaan, ibadah haji berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain. Jika seseorang tidak mampu untuk melaksanakan haji, sementara ia sudah berazzam (membulatkan tekad) untuk berangkat haji, maka ia bisa meminta orang lain untuk mewakilkannya berangkat haji.

Orang yang menggantikan orang lain berangkat haji dikenal dengan badal haji. Dilihat dari jenisnya, badal haji ini terbagi menjadi dua jenis;

1) Menggantikan haji orang yang telah mati

Orang yang telah memenuhi syarat wajib haji, atau orang yang telah bernazar haji, lalu ia belum sempat menunaikan kewajiban haji, atau nazarnya itu, maka wajiblah atas walinya atau ahli warisnya melaksanakan haji untuknya. Selain itu, bisa juga dengan cara membiayai orang lain untuk menghajikannya, sebagaimana ia wajib membayar utangnya, jika ia berutang.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu Abbas RA, “Seorang perempuan dari Juhainah, datang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Sesungguhnya ibu saya telah meninggal. Ia telah bernazar akan melakukan haji, tetapi ia tidak sempat melakukannya sampai ia wafat. Bolehkah saya melakukan haji untuknya?”

Rasulullah SAW bersabda, “Ya, berhajilah untuknya, sekiranya ibumu berhutang apakah engkau membayarnya? Bayarlah Allah, karena Allah lebih berhak engkau tunaikan kewajiban-Nya.”

Hadits tersebut menunjukkan wajib haji untuk orang yang telah mati, baik ia telah mewasiatkannya atau tidak. Karena hutang adalah sesuatu yang mutlak harus dibayar. Demikian juga kewajiban-kewajiban yang berupa harta, seperti kifarah, zakat, atau nazar. Demikianlah pendapat Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abuhurairah, dan Syafi’i.

Menurut Imam Malik, boleh dihajikan, jika ia telah mewasiatkannya. Namun, jika ia tidak mewasiatkannya, tidak boleh menghajikannya. Hal itu disebabkan ibadah haji adalah ibadah yang lebih banyak aspek badaniahnya, maka tidak dapat menerima niabah (penggantinya).

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Zakat, Puasa, dan Haji oleh Drs Muhammadiyah Ja’far