Adab-Adab Melaksanakan Sai

29 May 2012 | Kategori: Rukun Haji

Jamaah haji melaksanakan sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah di Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi. Foto: Dok Republika.

REPUBLIKA.CO.ID – Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika menunaikan sa’i. Diantaranya:

1. Memulai sa’i dari pintu Shafa sambil membaca, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang menunaikan ibadah haji ke Baitullah atau melakukan umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158).

2. Melakukan sa’i dalam keadaan suci. Walaupun diperbolehkan melaksanakan sa’i dalam keadaan haid atau tidak berwudhu, namun tentu lebih utama melaksanakan semua ritual haji dengan berwudhu.

3. Melakukan sa’i dengan berjalan kaki, jika tidak sanggup barulah menggunakan kursi roda. Bagi jamaah yang sudah tua dan sakit, dianjurkan menggunakan kursi roda mengingat perjalanan sa’i cukup jauh dan menempuh tujuh kali putaran. Bagi mereka yang yakin bisa berjalan kaki, diperbolehkan berjalan kaki dengan tetap ditemani jamaah yang lain.

4. Memperbanyak membaca dzikir dan doa di saat melakukan sa’i. Tidak ada zikir dan doa khusus ketika melaksanakan sa’i. Diperbolehkan berdoa dan meminta kepada Allah menurut apa yang disukai.

5. Menjaga pandangan, menahan diri berkata yang sia-sia. Selama sa’i berlangsung mungkin saja ada ada aurat orang lain yang terbuka. Disebabkan pakaian ihram hanya berupa dua lembar kain putih tak berjahit. Atau terlena melihat orang-orang dari negara lain yang berbeda warna kulit dan postur tubuh.

Jangan sampai tertipu dan larut dengan kondisi demikian. Demikian juga jamaah yang melaksanakan sa’i dengan mengobrol membicarakan sesuatu yang tidak penting. Konsentrasikanlah diri kita bahwa kita sedang melaksanakan sebuah ritual ibadah. Sibukkan diri dengan dzikir dan doa.

6. Tidak menyakiti seseorang baik dengan perkataan ataupun dengan perbuatan. Dikarenakan ramainya jamaah yang melaksanakan sa’i, berdesak-desakan mungkin saja terjadi saling dorong. Waktu itulah diperlukan toleransi sesama. Jangan sampai ada yang terinjak atau terdorong dalam perjalanan kita.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Pedoman Haji oleh Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy