Bagaimana Haji Wanita yang Sedang Haid?

22 June 2012 | Kategori: Rukun Haji

Wanita Muslimah usai tawaf di Baitullah, Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Foto: Dok Republika.

REPUBLIKA.CO.ID – Permasalahan jamaah haji wanita yang mendapat haid ketika ia sedang dalam proses haji sering dipertanyakan. Bagaimana haji bagi wanita tersebut?

Apabila wanita telah memasuki ibadah haji, lalu ia mendapati bahwa ia datang haid, maka ia tetap melanjutkan hajinya. Ia boleh melakukan seluruh rangkaian manasik haji kecuali tawaf.

Untuk mengerjakan tawaf, hendaklah ia menanti sampai ia suci, kemudian barulah ia melakukan tawaf tersebut. Dengan demikian ibadah hajinya dapat sempurna dan diterima oleh Allah SWT.

Mengenai halangan untuk mengerjakan tawaf, banyak juga yang menanyakan, apabila wanita yang sedang haid tersebut tidak memiliki kesempatan menunggu masa sucinya. Ia kemudian melakukan tawaf karena waktunya yang terdesak.

Wanita tersebut menjadi serba salah. Jika ia menunggu masa sucinya, dikhawatirkan ia akan ditinggalkan oleh rombongannya, dan tidak ada lagi jalan lain kecuali ia harus ikut kepada rombongannya. Apakah yang harus ia lakukan?

Hal ini sudah termasuk dharurat. Dalam hal ini, Al-Syarbashi menukilkan pendapat Ibnul Qayyim yang mengatakan bahwasanya zaman sekarang ini, sulit sekali bagi jamaah haji untuk menunggu temannya yang sedang haid, hingga ia suci.

Wanita yang demikian dapat melakukan segala manasik haji, segala syarat dan wajib, telah gugur daripadanya karena di luar kemampuannya, sesuai dengan firman Allah, “Bertakwalah kamu kepada Allah, menurut kemampuanmu.”

Rasulullah SAW juga bersabda, “Jika aku perintahkan kamu suatu perintah, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu.” (HR. Ahmad, Muslim, Nasai, dan Ibnu Majah).

Wanita yang demikian boleh melakukan tawaf di Ka’bah, karena keadaannya termasuk darurat yang membolehkanya memasuki masjid dan tawaf, dalam keadaan haid.

Semuanya ini sesuai dengan kaidah syariah, karena tujuannya adalah menggugurkan kewajiban atau syarat karena lemah, sebab tiada wajib di dalam syariat di luar kemampuan, dan tiada haram dengan darurat.

Maka darurat itulah yang membolehkan wanita haid dan orang junub memasuki masjid. Sekiranya wanita itu takut dari musuh, atau khawatir akan adanya orang memaksanya atau mengambil hartanya, (jika ia tinggal di luar masjid) dan tiada tempat perlindungan lain, selain masjid, maka ia boleh memasuki masjid dalam keadaan haid.

Adapun wanita yang sedang haid, sementara melakukan ibadah haji, jika menanti kesuciannya, kemudian akan ditinggalkan oleh jamaahnya sebelum ia suci. Dalam keadaan darurat ini ia boleh melakukan tawaf sebelum suci dari haidnya.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Hannan Putra
Sumber: Zakat, Puasa, dan Haji oleh Drs Muhammadiyah Ja’far